Ketika Pelajar Menjadi Pengedar Sabu: Buah Pahit Sistem Sekuler yang Gagal Menjaga Generasi

 

Sumber Ilustrasi : iStook. 

Oleh: Ade Surya Ramayani

Mediamuslim.my.id, OPINI - Fenomena keterlibatan pelajar dalam tindak kriminal, khususnya peredaran narkoba, merupakan sinyal kuat adanya krisis serius dalam sistem pembinaan generasi. Pelajar yang seharusnya berada dalam fase menuntut ilmu dan membangun masa depan, justru terseret dalam aktivitas ilegal yang merusak diri dan masyarakat. Hal ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi mencerminkan kegagalan sistemik dalam menjaga dan membentuk generasi muda.

Kasus-kasus terbaru menunjukkan bahwa pelajar tidak hanya menjadi korban penyalahgunaan narkoba, tetapi juga berperan sebagai pengedar. Ini menandakan adanya perubahan peran yang lebih berbahaya: dari korban menjadi pelaku. Tulisan ini akan mengurai fakta-fakta yang terjadi, menganalisis akar permasalahan dalam perspektif sistemik, serta menawarkan solusi komprehensif berdasarkan perspektif Islam.

Fakta: Pelajar dalam Jerat Peredaran Narkoba

Sejumlah kasus yang terjadi di Indonesia memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan. 

Kasus pertama terjadi di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Dua orang berinisial SH (26) dan KF ditangkap aparat kepolisian saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Yang mengejutkan, KF diketahui masih berstatus sebagai pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa pelajar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari jaringan distribusi narkoba.

Kasus kedua terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari menangkap seorang pelajar berinisial HS (19) yang kedapatan memiliki puluhan paket sabu yang tersebar di berbagai lokasi. Jumlah barang bukti menunjukkan bahwa aktivitas tersebut bukan tindakan coba-coba, melainkan bagian dari aktivitas peredaran yang terstruktur.

Fenomena ini sejalan dengan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menyebutkan bahwa penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja terus mengalami peningkatan. Dalam laporan BNN (2023), prevalensi penyalahgunaan narkoba di kalangan usia pelajar dan mahasiswa menunjukkan tren yang signifikan, dengan faktor lingkungan, tekanan sosial, dan lemahnya kontrol diri sebagai penyebab utama.

Analisis: Kegagalan Sistem Sekuler Kapitalis

Fenomena pelajar menjadi pengedar narkoba tidak bisa dilepaskan dari sistem yang menaungi kehidupan masyarakat saat ini, yaitu sistem sekuler kapitalis. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, sehingga nilai-nilai spiritual tidak menjadi dasar dalam pembentukan individu maupun kebijakan publik.

1. Sekularisasi Pendidikan

Dalam sistem sekuler, pendidikan lebih berorientasi pada aspek kognitif dan keterampilan kerja, sementara pembentukan kepribadian dan moral seringkali terabaikan. Pendidikan agama hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi utama.

Menurut Thomas Lickona (1991) dalam Educating for Character, pendidikan yang mengabaikan pembentukan karakter akan menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah secara moral. Hal ini relevan dengan kondisi saat ini, di mana pelajar memiliki akses luas terhadap informasi, tetapi tidak memiliki filter nilai yang kuat.

2. Dominasi Materialisme

Kapitalisme mendorong orientasi hidup pada materi dan keuntungan. Dalam konteks ini, narkoba menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan, bahkan bagi pelajar. Keuntungan instan yang ditawarkan menjadi daya tarik kuat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki landasan nilai yang kokoh.

Robert K. Merton dalam teori strain menjelaskan bahwa tekanan untuk mencapai kesuksesan material tanpa sarana yang memadai dapat mendorong individu melakukan penyimpangan, termasuk kejahatan.

3. Lemahnya Penegakan Hukum

Sistem hukum yang ada seringkali tidak memberikan efek jera yang signifikan. Hukuman yang tidak tegas, serta adanya celah dalam penegakan hukum, membuat pelaku tidak takut untuk mengulangi perbuatannya.

Selain itu, pendekatan hukum yang lebih bersifat reaktif daripada preventif menyebabkan masalah terus berulang tanpa penyelesaian akar.

Dampak: Kerusakan Multi Dimensi

Keterlibatan pelajar dalam narkoba membawa dampak yang luas:

Kerusakan Individu: Narkoba merusak fungsi otak, menurunkan kemampuan belajar, dan menghancurkan masa depan pelajar. 

Kerusakan Keluarga: Orang tua mengalami tekanan psikologis dan sosial akibat perilaku anak. 

Kerusakan Sosial: Meningkatnya kriminalitas dan hilangnya rasa aman di masyarakat. 

Kerusakan Generasi: Generasi muda yang seharusnya menjadi aset bangsa justru menjadi beban. 

Menurut laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), penyalahgunaan narkoba di usia muda memiliki korelasi kuat dengan peningkatan kriminalitas dan penurunan produktivitas jangka panjang.

Islam sebagai Solusi Komprehensif

Islam menawarkan solusi yang menyeluruh (kaffah) dalam menjaga generasi, tidak hanya dari aspek hukum, tetapi juga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

1. Sistem Pendidikan Islam

Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendidikan Islam tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah. Dengan demikian, pelajar memiliki kontrol internal (self control) yang kuat, bukan sekadar takut pada hukum manusia.

Menurut Al-Attas (1991), tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik (insan adab), bukan sekadar warga negara yang produktif.

2. Peran Keluarga

Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam menanamkan nilai-nilai Islam.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Pendampingan yang intens, komunikasi yang baik, serta keteladanan menjadi kunci dalam membentengi anak dari pengaruh buruk lingkungan.

Penelitian oleh Diana Baumrind menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat tetapi tegas (authoritative parenting) efektif dalam mencegah perilaku menyimpang pada remaja.

3. Peran Masyarakat

Islam menekankan pentingnya lingkungan sosial yang baik melalui konsep amar makruf nahi munkar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya…” (HR. Muslim)

Masyarakat tidak boleh bersikap individualis. Kepedulian sosial menjadi benteng kolektif dalam menjaga generasi dari kerusakan.

4. Peran Negara dan Sanksi Tegas

Dalam Islam, negara memiliki peran strategis dalam menjaga masyarakat melalui penerapan hukum yang tegas dan adil.

Narkoba dalam perspektif Islam termasuk dalam kategori yang merusak akal (hifzh al-‘aql), salah satu dari lima maqashid syariah yang harus dijaga.

Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa segala sesuatu yang memabukkan dan merusak akal hukumnya haram, dan pelakunya harus dikenai sanksi tegas.

Penerapan hukum yang tegas bukan hanya untuk menghukum, tetapi juga sebagai pencegah (zawajir) agar masyarakat tidak melakukan pelanggaran.

Integrasi Solusi: Pendekatan Holistik

Solusi Islam tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi dalam satu sistem:

Individu dibina dengan akidah yang kuat, keluarga menjadi benteng pertama, masyarakat menciptakan lingkungan yang kondusif, dan negara menegakkan hukum dan sistem pendidikan yang benar. 

Pendekatan ini berbeda dengan sistem sekuler yang cenderung parsial dan reaktif.

Penutup

Kasus pelajar yang terlibat dalam peredaran narkoba bukan sekadar penyimpangan individu, tetapi refleksi dari kegagalan sistem dalam menjaga generasi. Sistem sekuler kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan generasi yang rapuh secara moral dan mudah terjerumus dalam aktivitas destruktif.

Islam menawarkan solusi yang komprehensif dan sistemik, mulai dari pembentukan individu, peran keluarga, kontrol sosial masyarakat, hingga penegakan hukum oleh negara. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, generasi dapat dibentuk menjadi pribadi yang kuat, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Sudah saatnya kita tidak hanya menyalahkan individu, tetapi juga mengevaluasi sistem yang ada. Karena dari sistem yang rusak, akan lahir generasi yang rusak. Dan dari sistem yang benar, akan lahir generasi terbaik.



Editor : Vindy Maramis