Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Serangan demi serangan terjadi. Amerika dan Israel menyerang Iran.
Iran membalas. Ledakan meluas ke berbagai wilayah.
Jalur minyak dunia terguncang. Korban terus berjatuhan.
Dunia memanas. Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang perlu kita renungkan:
mengapa semua ini terasa jauh dari diri kita?
Kita mengikuti berita. Kita tahu apa yang terjadi. Kita mungkin merasa sedih. Tapi setelah itu hidup kita kembali berjalan seperti biasa. Tidak banyak yang berubah.
Rasa itu Ada Tapi Belum Menjadi Energi Pendorong
Kita bukan tidak peduli. Hati kita masih tersentuh ketika melihat penderitaan umat. Kita masih berharap Allah menolong. Kita masih berdoa. Namun perlahan kita menyadari rasa itu belum menggerakkan. Ia berhenti di hati. Karena Ilmu yang kita miliki, seringkali baru sampai pada tahap mengetahui, belum cukup dipahami untuk mengubah cara kita berpikir dan melangkah. Sehingga ia belum sampai mengubah arah hidup kita.
Padahal Allah ﷻ telah memberikan satu hukum yang sangat jelas:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian…”
(TQS Muhammad [47]: 7)
Ayat ini Menjawab Realitas
Kita sering melihat konflik dengan kacamata dunia:
• siapa yang lebih kuat
• siapa yang punya senjata lebih canggih
• siapa yang unggul secara strategi
Namun jika kita pahami, ayat ini mengajarkan cara pandang yang berbeda. Bahwa pertolongan tidak ditentukan oleh kekuatan semata, tetapi oleh siapa yang menolong agama Allah. Maka pertanyaannya bukan hanya: “Siapa yang akan menang?”
Tetapi: "Apakah umat ini sudah menolong agama Allah?”
Ketika Kepentingan Mengalahkan Umat
Di tengah konflik, muncul berbagai “jalan damai” sebagai upaya jalan keluar. Namun sering kali
yang diselamatkan bukan umat, melainkan kepentingan masing-masing.
Setiap negara bergerak untuk dirinya. Setiap kekuatan menjaga posisinya. Sementara umat tetap terluka. Di sinilah kita melihat satu kenyataan pahit:
umat ini besar, tapi tidak satu arah.
Yang Hilang Bukan Kekuatan, tetapi Kesadaran
Umat Islam memiliki:
• kekuatan manusia
• kekayaan alam
• posisi strategis dunia
Namun semua itu belum memberi dampak besar. Mengapa? Karena tidak ada kesatuan arah yang lahir dari pemahaman yang utuh terhadap pedoman hidup.
Dan kesadaran itu dimulai dari individu. Dari kita.
Kemenangan Dimulai dari Menolong Agama Allah
Menolong agama Allah bukan hanya ibadah pribadi.
Ia adalah:
• menyampaikan Al-Qur’an kepada manusia
• menjaga kebenaran tetap hidup di tengah masyarakat
• memberi nasihat kepada pemimpin dengan cara yang benar
• membangun kepedulian dan persaudaraan umat
Ini bukan hanya tugas sebagian orang. Ini adalah panggilan Allah untuk semua Muslim. Dari Menonton, menjadi bagian.
Mungkin selama ini kita merasa:
“Ini urusan negara"
“Ini terlalu besar untuk saya”
Padahal ayat ini tidak ditujukan kepada pemimpin saja.
Ia ditujukan kepada orang-orang beriman. Artinya kepada kita semua.
Perubahan tidak langsung besar. Ia dimulai dari:
• kesadaran
• kepedulian
• langkah kecil yang istiqamah
Penutup: Jalan Pertolongan itu Sudah Jelas
Kita ingin ditolong oleh Allah. Kita ingin diberi syafaat oleh Rasulullah ﷺ. Kita berharap Al-Qur’an menjadi penolong kita di yaumil akhir.
Kita ingin umat ini bangkit. Kita ingin keadaan berubah. Kita ingin ada kemenangan. Namun ayat ini mengingatkan bahwa pertolongan itu tidak datang tanpa pilihan.
Ia diberikan kepada mereka yang memilih untuk menolong agama Allah. Lalu di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri. Jika suatu hari kita berdiri di hadapan Allah,
dan Allah bertanya:
“Apa yang kamu lakukan untuk agama-Ku?”
Apa yang akan kita jawab? Apakah cukup dengan:
• merasa sedih?
• mengikuti berita?
• atau sekadar menjadi penonton yang tahu, tapi tidak bergerak?
Ayat ini seakan tidak memberi ruang untuk kita tetap di posisi yang sama. Ia memanggil kita pelan, tapi tegas untuk memilih: Tetap menjadi penonton, atau mulai mengambil bagian walau kecil.
Karena bisa jadi yang menentukan kita ditolong Allah
bukan seberapa besar peran kita, tetapi
apakah kita benar-benar memilih untuk menolong agama-Nya atau tidak.
والله اعلم بالصواب
Social Plugin