Ilustrasi Pinterest
Oleh: BunQii
(Penulis dan Pemerhati Pendidikan)
MediaMuslim.my.id, Opini_ Sebuah video mengejutkan kembali viral di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan seorang pelajar SMA di Purwakarta, Jawa Barat, menghina gurunya secara terang-terangan di lingkungan sekolah. Kejadian ini sontak memantik kecaman publik dan mendorong Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, untuk meminta pihak sekolah memberikan sanksi tegas. Sebagaimana dilansir Tribun Jabar pada Sabtu, 18 April 2026, bupati juga meminta agar siswa yang bersangkutan menjalani konseling guna memperbaiki sikap dan perilakunya ke depan.
Langkah bupati itu patut diapresiasi. Namun, respons tersebut sesungguhnya baru menyentuh permukaan masalah. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar yang perlu kita jawab bersama: mengapa insiden seperti ini terus berulang?
Bukan yang Pertama, Tidak akan Menjadi yang Terakhir
Kasus di Purwakarta ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia diwarnai oleh serangkaian insiden memilukan: siswa memukul guru, pelajar terlibat tawuran berdarah, perundungan yang berujung trauma berkepanjangan, hingga konten penghinaan terhadap tenaga pendidik yang dengan bangga disebarkan secara daring. Setiap kali terjadi, respons yang muncul nyaris seragam hukuman, permohonan maaf, lalu berangsur dilupakan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Insiden di Purwakarta ini menambah panjang daftar kelam potret pendidikan negeri ini. Ia bukan anomali. Ia adalah gejala yang terus berulang dari akar masalah yang tidak pernah sungguh-sungguh diselesaikan. Dan selama akarnya dibiarkan, pohon yang sama akan terus berbuah pahit.
Krisis Moral yang Sistemik
Mengapa generasi muda kita mengalami kemerosotan moral yang begitu nyata? Jawabannya tidak bisa hanya dicari pada individu pelajar yang bersangkutan, atau bahkan pada keluarganya semata. Kita perlu melihat ke sistem yang lebih besar.
Sistem pendidikan yang berlaku saat ini pada dasarnya berpijak pada paradigma yang memisahkan nilai-nilai moral dan agama dari proses pendidikan itu sendiri. Dalam kerangka ini, tujuan pendidikan lebih banyak diarahkan pada pencapaian akademis, kecakapan kerja, dan daya saing ekonomi. Pembentukan karakter, akhlak, dan kesadaran moral seringkali menjadi pelengkap bukan inti, bahkan bukan prioritas.
Hasilnya, lahirlah generasi yang mungkin cerdas secara intelektual, namun rapuh secara moral. Mereka tumbuh dalam ekosistem yang menempatkan kesenangan pribadi dan eksistensi di media sosial sebagai ukuran keberhasilan, sementara penghormatan terhadap orang lain termasuk guru dianggap tidak relevan, bahkan kolot. Ketika seorang siswa berani menghina gurunya di depan kamera lalu mengunggahnya ke media sosial, itu bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Itu adalah sinyal kegagalan sistem dalam menanamkan nilai-nilai paling mendasar tentang adab, hormat, dan tanggung jawab.
Konseling Tidak Cukup
Konseling individual memang diperlukan dan tidak boleh diabaikan. Namun, menjadikannya sebagai solusi utama adalah kekeliruan besar. Ibarat mengobati luka dalam dengan plester tampak tertangani di permukaan, padahal sumber perdarahan tidak pernah benar-benar dihentikan.
Perubahan yang sesungguhnya dibutuhkan bukan sekadar pendekatan parsial kepada satu atau dua siswa bermasalah. Yang diperlukan adalah perombakan sistemik terhadap cara kita memandang dan menyelenggarakan pendidikan. Ini mencakup setidaknya tiga hal pokok.
Pertama, reorientasi tujuan Pendidikan. Pendidikan harus kembali menempatkan pembentukan karakter dan akhlak sebagai inti, bukan tambahan. Kurikulum, metode pengajaran, hingga budaya sekolah harus secara konsisten mencerminkan nilai-nilai ini dalam setiap aspeknya, bukan hanya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama atau PKn semata.
Kedua, penguatan peran keluarga dan masyarakat. Sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Keluarga adalah madrasah pertama dan paling menentukan dalam membentuk karakter seorang anak. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya generasi berakhlak mulia. Ketika rumah dan lingkungan sekitar mengajarkan hal yang bertolak belakang dengan nilai-nilai di sekolah, pendidikan karakter tidak akan pernah berjalan efektif.
Ketiga, peran negara yang lebih aktif dan terarah. Negara tidak bisa hanya hadir ketika insiden viral sudah terjadi. Kebijakan pendidikan nasional harus dirumuskan dengan visi yang jelas: membentuk manusia yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga berkarakter, beradab, dan memiliki kesadaran moral yang kokoh.
Saatnya Jujur pada Diri Sendiri
Video pelajar Purwakarta yang menghina gurunya adalah cermin bagi kita semua. Dan cermin itu retak. Kita boleh memalingkan wajah dan berpura-pura tidak melihat. Namun, retakan itu tidak akan hilang dengan sendirinya ia justru akan semakin melebar jika terus dibiarkan.
Sudah saatnya kita jujur, sistem pendidikan kita sedang sakit. Bukan semata karena kekurangan anggaran atau minimnya fasilitas, melainkan karena telah lama kehilangan ruh yang paling mendasar yaitu tujuan membentuk manusia yang baik, bukan sekadar manusia yang pintar.
Selama akar masalah ini tidak dibenahi secara serius dan menyeluruh, kita hanya akan terus menyaksikan video-video serupa bermunculan, sementara solusi yang ditawarkan hanya berputar pada hal-hal yang bersifat sementara. Bangsa ini butuh lebih dari sekadar konseling. Bangsa ini butuh pembaruan yang menyeluruh dalam cara kita mendidik dan dalam cara kita memaknai pendidikan itu sendiri.
Wallahu a'lam bishshawab.
Social Plugin