Islam Solusi Terbaik dalam Pelayanan Umum


Ilustrasi Pinterest
Oleh : Ami Ammara 

MediaMuslim.my.id, Opini_ Arus mudik di jalur selatan Nagreg mengalami peningkatan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Kemacetan panjang terpantau di sejumlah titik, terutama di kawasan Cicalengka dengan antrean kendaraan yang mengular hingga mencapai lima kilometer.

Lonjakan volume kendaraan pemudik menjadi penyebab utama, ditambah adanya penyempitan jalur di beberapa titik krusial. Selain itu, banyaknya persimpangan menuju pemukiman warga serta aktivitas keluar-masuk kendaraan di rest area turut membuat arus lalu lintas tersendat.

Berdasarkan data Dishub Kabupaten Bandung, lebih dari 190 ribu kendaraan telah melintasi jalur selatan Nagreg pada puncak arus mudik tahun ini. Kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor dari arah Bandung dan Jakarta, mendominasi jalur menuju Jawa Barat Selatan hingga Jawa Tengah.

Pihak kepolisian terus berupaya melakukan pengaturan intensif di lapangan guna mengurai penumpukan kendaraan yang terjadi. Berbagai rekayasa lalu lintas juga mulai diterapkan secara situasional di titik-titik rawan kemacetan agar kepadatan arus dapat segera teratasi.Metrotvnews.com

Dalam sistem kapitalisme, negara seringkali hanya bertindak sebagai regulator administratif atau fasilitator pasar daripada raa'in (pengurus urusan rakyat) yang sesungguhnya. Hal ini mengakibatkan negara abai dalam menjamin keselamatan, kesejahteraan, dan kebutuhan dasar rakyat, karena fokus utamanya adalah melindungi kepemilikan pribadi dan persaingan bebas.

Di Mana Letak Kesalahannya?

Akar dari semua masalah adalah tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi kecelakaan dan macet parah yang terjadi tiap waktu mudik. Hanya ada upaya teknis yang tidak mencukupi, sebatas kontra flow, pengalihan jalur, hingga tambal sulam jalan nasional yang bolong parah sehingga juga bisa berdampak pada hilangnya nyawa pengendara karena mengalami kecelakaan.

Setiap tahun, kegiatan mudik jadi agenda rutin, meski sudah ada sedikit perbaikan di ruas-ruas jalan tertentu, namun jelas, permasalahan mudik terkait erat dengan minimnya layanan transportasi massal yang nyaman dan murah sehingga jumlah kendaraan pribadi melampaui pertumbuhan panjang jalan. Ditambah masih banyaknya jalan yang bolong parah, yang seringkali tak hanya membuat nyawa pengendara hilang juga kerusakan motor serius.

Inilah kenyataan pahit yang harus telan bahwa kita hidup di negara dengan Sistem Kapitalisme. Semua hal yang berhubungan dengan pelayanan umum justru dijadikan komoditas, diserahkan pengaturannya pada pihak ketiga ( investor), sehingga profit oriented sangat kental. Fungsi penguasa hanya sebagai regulator (pengatur kebijakan) yang seharusnya bersifat raa’in.  Yang bertugas mengurusi rakyat, namun yang ada adalah abai dalam menjamin keselamatan rakyat. Setiap tahun, terjadi dengan berita yang sama dan minim solusi. Semiskin apa negara kita hingga tak mampu memberikan gaji yang layak hingga kehidupan yang mudah dan memudahkan rakyat?

Islam adalah Solusi

Akan berapa nyawa lagi kita biarkan melayang begitu saja di jalan? Yang semestinya nyawa itu bisa menjalankan ibadah dengan mudah dan mendapat jaminan penuh , Khilafah, sistem pemerintahan dalam Islam, mampu  mewujudkan fungsi raa’in yang mengurusi rakyat dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Tentu Khilafah lah yang menyediakan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi. Semua adalah pelayanan dan kemaslahatan. Bukan keuntungan pribadi atau laba perusahaan.

Daulah Khilafah juga menyediakan jalan yang cukup dan memperbaiki yang rusak sehingga aman bagi pengguna jalan. Tak akan ada hari yang seharusnya ceria berubah jadi tangis. Pulang kampung atau mudik, merupakan ibadah yang merupakan manifestasi kepatuhan kepada orangtua dan yang dituakan. Birrul walidain sangat lekat pada aktifitas tahunan ini. Jelas Negara Khilafah akan mampu mewujudkan pelaksanaan ibadah tanpa drama.

Sumber pendanaan Negara Khilafah sangatlah mandiri dan tangguh. Baitul mal yang berisi hasil pengelolaan SDA yang berlimpah, dan beberapa pos pendapatan negara seperti jizyah, khumus dan lainnya. Khusus untuk 8 ashnaf ada pos zakat. Maka, masihkan ada keraguan di dalamnya? Wallahualam bissawab