Hancurnya Marwah Guru dalam Sistem Kapitalis


Ilustrasi Pinterest
Oleh : Elly Waluyo
Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam

MediaMuslim.my.id,.Opini_ Guru merupakan tonggak dalam melahirkan generasi penopang kemajuan peradaban suatu negara. Posisinya sebagai pendidik, pembentuk karakter sekaligus orang tua kedua bagi siswa. Melalui tangannya pula seorang anak mengetahui berbagai pengetahuan dunia dan mengembangkan diri sehingga mampu menghadapi dan menggapai cita-citanya di masa depan. 

Namun, kemuliaannya senantiasa dipandang remeh oleh sistem kapitalis yang hanya mementingkan materi. Sistem ini tidak peduli dan tidak melindungi. Hal ini akhirnya memaksa guru mengubah tujuan profesinya sebagai pendidik menjadi pengajar, meski jauh dilubuk hatinya tak menginginkan.

Dunia pendidikan kembali lagi tercoreng oleh sebuah video viral yang memperlihatkan sejumlah murid dari SMAN 1 Purwakarta berperilaku tidak pantas terhadap gurunya dalam ruang kelas. Peristiwa lontaran ejekan sembari mengacungkan jari tengah tersebut dianggap sebagai bentuk pelecehan dan memperlihatkan tergerusnya etika pada sosok yang seharusnya dihormati. 

Tuaian kecaman masyarakat luas mengalir deras hingga memantik keprihatinan Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat saat menerima laporan dan pemaparan kronologinya oleh Dinas Pendidikan. Pihaknya juga menyampaikan bahwa orang tua pelaku telah dihadirkan ke sekolah. Namun, Dedi sangsi terhadap hukuman yang dijatuhkan pihak sekolah. Menurutnya skorsing 19 hari untuk melakukan pembinaan di rumah yang dikenakan pada murid-murid tersebut tak menjamin dapat mengubah karakternya. Ia menganggap lebih efektif jika diberikan hukuman yang tak hanya menimbulkan kejeraan tapi sekaligus membentuk karakter kedisiplinan dan rasa hormat dalam bentuk aktivitas mendidik. Hukuman berbasis aktivitas sosial dan berbentuk tanggung jawab seperti membersihkan halaman, toilet, atau menyapu setiap hari. Durasi hukuman dapat diperpanjang sesuai dengan perkembangan siswa.  (https://www.detik.com : 18 April 2026)

Peristiwa pelecehan yang terjadi merupakan buah dari penerapan sistem kapitalis yang juga dijadikan dasar dalam sistem pendidikan sekuler liberal. Pendidikan hanya berorientasi pada materi yaitu pencapaian nilai akademik tinggi, meskipun didalamnya terdapat pendidikan karakter. Namun, keberadaannya tidak mempengaruhi penilaian apa pun. 

Dalam pendidikan sekuler, agama disisihkan dan tidak dikaitkan. Oleh karenanya, tindakan amoral merajalela di kalangan pendidikan. Bahkan sering kali dijadikan alat untuk mendapatkan pengakuan keren, viewer, dan follower di media sosial dan teman sebaya. 

Posisi guru yang lemah tanpa payung hukum pelindung profesi dan marwahnya membuat murid beserta orang tuanya semena-semena terhadapnya. Guru menjadi khawatir karena cara mendidiknya dapat berakhir di jeruji besi. Guru pun lebih memilih diam dan membiarkan aksi buruk murid-muridnya. 

Berbeda halnya jika negara menerapkan Islam secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan. Posisi negara sebagai periayah umat menjalankan sistem pendidikan berbasis akidah Islam untuk membentuk individu berkarakter Islam yang mampu berpikir cemerlang. Pendidikan semacam ini akan mampu memecahkan permasalahan dirinya, sosial, dan lingkungan di sekitarnya dengan pola sikap yang senantiasa terikat dengan syariat. 

Peran negara sebagai pelindung umat, tak sekadar melarang  situs-situs yang berpotensi perusak moral. Namun, juga memblokirnya. Selain itu untuk menimbulkan efek jera pada pelaku, maka negara menerapkan hukum Islam yang bersifat jawabir dan zawajir. Setiap individu akan berpikir beribu-ribu kali untuk melakukan kemaksiatan. 

Dalam sistem Islam, kemuliaan dan marwah guru akan dijaga. Negara menjamin kelayakan hidupnya dengan  gaji tinggi melindunginya sesuai syariat.