Demo No Kings, Kebangkrutan AS, Akhiri Penjajahan?


Ilustrasi: Demokrasi " No Kings" ( pinterest)

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban


MediaMuslim.my.id, Opini--Gelombang protes bertajuk “No Kings” kembali meluas di berbagai wilayah Amerika Serikat pada Sabtu, dengan Minnesota menjadi pusat aksi utama di tengah meningkatnya tensi politik dan kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump (idnfinansials.com, 28-3-2026).


Menurut laporan Al Jazeera (29/3), aksi ini merupakan demonstrasi “No Kings” pertama sejak perang gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai sekitar satu bulan lalu. Aksi tersebut juga menandai gelombang ketiga protes nasional sejak Trump kembali menjabat untuk masa jabatan kedua.


Data dari BBC, lebih dari 3.300 titik aksi telah dikoordinasikan di 50 negara bagian. Menjadikan protes ini sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir. Kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Washington, DC diperkirakan menjadi titik konsentrasi massa, sementara aksi paralel juga digelar di berbagai kota dunia seperti Roma, Paris, dan Berlin.


Dua aksi “No Kings” sebelumnya yang digelar pada Juni dan Oktober berhasil menarik jutaan peserta di seluruh Amerika Serikat. Trump merespons aksi Oktober tersebut dengan mengunggah video berbasis kecerdasan buatan yang memicu kontroversi luas karena menggambarkan dirinya menyerang para demonstran.


Gelombang protes ini berlangsung di tengah kampanye menuju pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Partai Republik yang dipimpin Trump berupaya mempertahankan mayoritas di Kongres, sementara Partai Demokrat menargetkan tambahan kursi seiring penurunan tingkat popularitas presiden.


Secara sosiololitis gerakan ini menandai titik jenuh publik terhadap gaya kepemimpinan Donald Trump yang dinilai melampaui batas konstitusional. Pesan tinggal yang tertangkap Amerika adalah republik, bukan monarki. Trump juga dinilai otoriter, mengabaikan kongres dan didikte oleh elite miliader. Dan hal itu nampak dari bagaimana Trump mengabaikan kongres.


Massa menuntut AS menarik diri dari konflik berdarah di Iran, menghentikan perang Iran. Reformasi Imigrasi, menolak razia agresif dan penahanan massal oleh pihak ICE. Mendesak militerisasi di kota-kota besar segera dihentikan. Menuntut jaminan hak pilih dan kebijakan lingkungan yang pro rakyat. Juga mendesak pemerintah fokus pada inflasi yang mencekik ekonomi warga.


Utang nasional AS resmi menembus US$ 39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026. Utang bengkak, menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran. Akibatnya utang per penduduk AS Rp 1,93 M. AS di ambang kebangkrutan akibat ambisius menguasai dunia dengan kebijakan militernya.


Sebetulnya bukan hanya gerakan “No King” ini saja yang mampu mengumpulkan masa begitu banyak, sebelumnya ada Global Sumud Flotilla (GSF) 2025-2026 yang merupakan konvoi kemanusiaan internasional yang terdiri dari puluhan kapal untuk menembus blokade laut Israel di Gaza. Membawa aktivis lebih dari 40 negara, termasuk Indonesia, inisiatif ini bertujuan mengirimkan bantuan dan menegakkan solidaritas Palestina. Semua sikap AS yang mendukung Israel untuk menguasai Palestina, hingga bersekutu dengan Eropa dan negara-nefara Teluk untuk kompak memerangi Iran benar-benar membuka mata dunia betapa jahat dan busuknya para elit global.


Pengkhianatan Penguasa Muslim Bersekutu dengan AS Harus Diakhiri.

Aktifitas penyadaran kepada kau muslim harus terus dilakukan, AS dan hegemoni Kapitalismenya demikian pula dengan politik demokrasinya jelas telah merusak dunia dan kehidupan antar bangsa. Yang terjadi justru adu domba antara umat Islam dan penguasanya demi kepentingan AS. Bukankah ini sudah sangat keterlaluan?


Upaya penyadaran politik umat Islam ini harus dibarengi dengan edukasi tentang politik Islam yang solutif, sistem Islam yang sahih dan kepemimpinan Islam yang meriayah. Terlebih menjadikan Islam diterapkan di muka bumi ini adalah tuntutan akidah kita. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,”Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para Nabi. Setiap kali seorang nabi wafat maka diganti oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku, yang ada adalah para khalifah dan mereka semakin banyak...” (HR. Al-Bukhari No. 3455 & Muslim No. 1842).


Maknanya umat Islam sepanjang sejarahnya tidak pernah kosong dari kepemimpinan yang mengurusi urusan mereka. Maka, ketika pemimpin yang akan menerapkan hukum-hukum Allah itu tidak ada, kaum muslim wajib mewujudkannya. Maka, perjuangan menegakkan Khilafah merupakan bagian tak terelakkan hari ini agar tatanan dunia yang rusak, diganti dengan tatanan syariah Islam yang penuh berkah.


Dengan tegaknya Khilafah, tak hanya Palestina yang akan dibebaskan, namun seluruh negeri muslimpun akan memiliki pemimpin yang bertakwa. Hanya takut pada Allah bukan pada pemimpin kafir. Penjajahan pun akan terhapuskan. Wallahualam bissawab.