Ilustrasi Pinterest
Oleh: Ummu Zeyn
MediaMuslim.my.id, Opini_ Aksi unjuk rasa bertajuk No Kings kembali berlangsung serentak di berbagai wilayah Amerika Serikat pada Sabtu (28/3). Aksi ini menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam beberapa bulan terakhir, dengan lebih dari 3.300 titik protes tersebar di seluruh 50 negara bagian. Penyelenggara menyebut sekitar dua pertiga aksi kini berlangsung di wilayah nonmetropolitan, naik hampir 40% dibanding mobilisasi perdana pada Juni tahun lalu.
Demonstrasi ‘No Kings’ dipicu oleh kebijakan Trump yang dianggap tidak adil dan diskriminatif. Banyak orang yang merasa bahwa kebijakan Trump telah merugikan kelompok-kelompok minoritas dan mengancam hak-hak asasi manusia. Demonstrasi ini juga dianggap sebagai bentuk protes terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dianggap otoriter serta penolakan terhadap perang yang dengan Iran .
Aksi ini adalah akumulasi panjang dari kekecewaan, ketidakpercayaan, dan ketakutan rakyat terhadap arah kebijakan negara yang dinilai semakin menjauh dari prinsip demokrasi. Slogan tersebut sendiri sarat makna yakni penolakan terhadap kepemimpinan yang dianggap otoriter (No King) dan penolakan terhadap kebijakan perang yang tidak jelas dasar maupun urgensinya (No War).
Saat ini utang nasional Amerika Serikat (AS) melonjak drastis hingga menembus rekor US$ 39 triliun (sekitar Rp 661.000 triliun lebih) pada Maret-April 2026, yang dipicu oleh tingginya biaya perang, termasuk keterlibatan dalam konflik di Timur Tengah (khususnya dengan Iran). Sehingga utang per penduduk diperkirakan mencapai US$ 1,93 M per orang. Situasi ini menempatkan Amerika Serikat sebagai "raja utang" dunia, dengan utang yang terus bertambah rata-rata lebih dari US$ 100 miliar per hari dalam periode tertentu di tahun 2026.
Dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap Israel merupakan salah satu pilar kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah yang didorong oleh berbagai kepentingan strategis, geopolitik, dan domestik. Bantuan ini sering kali dipandang sebagai upaya mempertahankan supremasi dan pengaruh AS di kawasan tersebut. Ambisi Trump menguasai dunia dengan kebijakan militernya menjadikan utang negara kian berlipat, sehingga menempatkan AS di ambang kebangkrutan.
Begitulah watak sistem kapitalisme liberalisme saat ini, ketika terlalu ambisius mengejar materi, kedudukan dan kekuasaan sehingga menghalalkan segala cara untuk bisa meraihnya tanpa memperhatikan dampak bagi masyarakat banyak. Maka, wajar jika kemudian muncul gelombang protes dari banyak orang yang sudah muak dengan pemimpin yang dianggap otoriter dan kebijakannya banyak menyengsarakan rakyat.
Padahal, dalam perspektif Islam kepemimpinan bukan sekadar soal kekuasaan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab. Seorang pemimpin yang adil akan mendapatkan dukungan rakyat secara alami, bukan melalui propaganda atau tekanan. Sebaliknya, pemimpin yang zalim atau tidak amanah akan kehilangan legitimasi, bahkan jika secara formal masih memegang kekuasaan.
Aksi demonstrasi di Amerika hari ini seharusnya menjadi refleksi, bukan hanya bagi pemerintahnya, tetapi juga bagi dunia. Bahwa kekuasaan tanpa kepercayaan adalah rapuh. Bahwa kebijakan tanpa legitimasi moral akan selalu dipertanyakan. Dan bahwa rakyat, pada akhirnya, adalah penentu arah sebuah bangsa.
Jika suara rakyat terus diabaikan, maka bisa saja gelombang protes ini akan semakin besar. Namun jika dijadikan momentum untuk introspeksi dan perubahan, maka krisis ini justru bisa menjadi titik balik menuju kepemimpinan yang lebih adil dan bijaksana, yang akan menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas, bukan hanya berambisi atas kekuasaan semata.
Wallahu A'lam BI Ash-Shawwab
Social Plugin