Ilustrasi Pinterest
Oleh: Tsaqifa Farhana
MediaMuslim.my.id, Opini_ Di saat dunia kembali menyerukan “perdamaian” untuk Gaza, pertanyaan mendasar justru belum terjawab: damai untuk siapa? dan dengan harga apa?
Ketika satu pihak didesak untuk menahan diri, sementara luka di lapangan terus bertambah, narasi perdamaian terasa semakin jauh dari rasa keadilan.
Desakan demiliterisasi Gaza kembali mencuat di tengah upaya gencatan senjata. Laporan dari Antara News menyebutkan dorongan agar Hamas segera melucuti senjata sebagai bagian dari rencana perdamaian. Namun di sisi lain, Metro TV News menyoroti respons Hamas yang mendesak dunia untuk bertindak atas pelanggaran gencatan senjata yang masih terjadi.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa konflik belum benar-benar berhenti, dan warga sipil masih menjadi pihak yang paling terdampak.
Di titik ini, muncul pertanyaan mendasar. Mengapa “perdamaian” sering dimulai dari tuntutan pada pihak yang tertekan, bukan dari penghentian kekerasan secara menyeluruh?
Narasi demiliterisasi kerap dibungkus sebagai langkah menuju stabilitas. Namun tanpa jaminan keadilan dan perlindungan bagi warga sipil, tuntutan itu berisiko menjadi tekanan sepihak.
Ketika pelanggaran di lapangan terus berlangsung, seruan untuk melucuti senjata justru terdengar seperti mengabaikan realitas yang dihadapi masyarakat Gaza setiap hari.
Bagi generasi muda, penting untuk tidak menelan mentah-mentah narasi global yang beredar. Dunia internasional tidak selalu berjalan dalam garis netral, namu dipengaruhi kepentingan politik, kekuatan, dan aliansi.
Karena itu, memahami konteks secara utuh adalah kunci agar tidak mudah diarahkan oleh opini yang timpang. Di tengah kompleksitas ini, satu hal yang tidak boleh hilang adalah perspektif nilai.
Dalam ajaran Islam, keadilan (‘adl) dan perlindungan jiwa (hifz an-nafs) merupakan prinsip utama yang harus dijaga. Kepemimpinan dipandang sebagai amanah dan tanggung jawab untuk melindungi, bukan membiarkan ketidakadilan berlangsung.
Bagi generasi muda Muslim, ini adalah panggilan untuk kembali memahami Islam secara menyeluruh (kaffah). Bukan hanya sebagai identitas, tetapi sebagai pedoman hidup yang menuntun cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Social Plugin