Ilustrasi Pinterest
Septa Anitawati
Founder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah
MediaMyslim.my.id, Opini_ Video pelajar SMA di Purwakarta menghina seorang guru di lingkungan sekolah, viral di media sosial. Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein prihatin dengan kejadian tersebut. Dan meminta sekolah untuk memberikan hukuman. Agar perilaku tersebut tidak terulang lagi. Siswa perlu menjalani konseling agar ke depan bisa lebih baik dalam bersikap dan berperilaku. Diberitakan oleh tribunnews.com/18/04/2026.
Analisis Problematis
Dari kejadian tersebut, bisa dianalisis sebagai berikut
Pertama, jelas ini menambah daftar insiden buruk dalam dunia pendidikan negeri ini. Bagaimana tidak? Merendahkan wibawa guru adalah cermin krisis moral. Dampak dari sistem pendidikan sekuler-liberal yang mengabaikan adab kepada guru. Kejadian ini sebagai bukti lemahnya wibawa guru. Mengapa siswa merasa "berani" melakukan hal tersebut? Apakah karena guru tidak berdaya pada siswa yang berbuat salah? Karena takut dituntut jika menegurnya. Seperti kejadian-kejadian sebelumnya saat guru mengingatkan murid agar sholat. Ortunya tidak rela anaknya dinasihati oleh guru. Berikutnya, ortu (orang tua murid) melaporkan ke meja hijau. Dan guru tersebut dituntut denda 50 juta. Astaghfirullah...
Kedua, menambah tebal garis kegagalan sistem pendidikan berbasis sekularisme. Dalam membentuk kepribadian generasi. Yang membawa pada degradasi atau merosotnya adab para pelajar. Seringkali tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Siswa lebih mementingkan viralitas di mata teman sebaya daripada menjaga martabat guru.
Ketiga, tidak cukup perubahan parsial dengan konseling individu pelajar, namun harus ada perombakan secara sistemis. Perombakan dengan mengubah asas pendidikan yakni Sekulerisme. Sekaligus bangunan sistem pendidikan yakni Liberalisme-Kapitalisme-Demokrasi. Mengapa?
Karena terbukti sistem yang diterapkan saat ini tidak mampu menyelesaikan masalah pendidikan. Utamanya terkait dengan adab murid terhadap guru.
Diganti menjadi sistem IsIam. Dari fondasi sampai bangunan pendidikan yang terintegrasi secara sistemik dengan seluruh sistem kehidupan.
Solusi Konstruktif dan Komprehensif
Dari persoalan yang kompleks. Tentu membutuhkan solusi konstruktif dan komprehensif berikut. Yakni meliputi tiga pilar.
Pertama, pilar individu dan keluarga yang bertakwa. Ibu sebagai sekolah pertama dan utama. Ayah sebagai kepala sekolahnya. Pasangan suami istri bersinergi membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Anak-anak terdidik dengan baik di rumah. Mulai dengan fondasi rukun iman dan rukun IsIam sampai bangunan keseluruhan Syariat secara kaffah. Dari keluarga, baiti jannati-rumahku sorgaku terwujud. Berikutnya, generasi ke depan bisa diharapkan menjadi imamnya orang-orang yang bertakwa.
Kedua, pilar masyarakat yang bertakwa. Masyarakat paham Islam secara menyeluruh dan komprehensif. Masyarakat tidak rela jika ada perilaku seseorang yang tidak sesuai dengan akidah dan syariat Islam. Sehingga tidak akan membiarkan begitu saja. Karena Rasulullah SAW bersabda, barang siapa melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu atau kekuasaanmu. Jika tidak mampu, maka dengan lisanmu. Dan jika dengan lisanmu pun tidak mampu, maka dengan doamu. Dan itulah selemah-lemahnya iman. Demikianlah masyarakat ikut menjaga pelaksanaan akidah dan syariat masyarakat di sekelilingnya. Termasuk adab murid terhadap guru. Sehingga wibawa gurupun terjaga.
Ketiga, negara yang bertakwa. Negara di bawah naungan Khilafah membuat kurikulum yang berfondasikan akidah Islam. Adab kepada guru sebelum ilmu diajarkan. Berikutnya ilmu dipahamkan agar membentuk pola pikir dan pola sikap yang Islami. Seluruhnya sesuai dengan akidah dan syariat Islam. Di sinilah wibawa guru diangkat. Juga murid makin pintar makin taat Allah dan Rasulullah sehingga makin beradab.
Negara juga memiliki Departemen Pers yang melakukan dua hal. Yakni menjaga kedaulatan negara dan menjaga agar akidah dan syariat Islam dilaksanakan oleh seluruh warga negara yang muslim secara individu dan keluarga. Serta menjaga pelaksanaan syariat secara hukum publik bagi seluruh warga negara. Yang terdiri dari muslim dan non muslim atau lebih dikenal dengan kafir dzimmi. Sehingga, konten digital yang merusak moral, pembangkangan terhadap guru, dll. Tidak akan terjadi.
Negara memposisikan guru sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara termasuk gaji dan fasilitas yang tidak ada pada saat ini. Sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat.
Betapa indah sistem di bawah naungan Khilafah. Semoga Allah segerakan pertolongan-Nya. Dan kita menjadi pejuang yang berkontribusi untuk mewujudkannya. Aamiin.
Wallahu a'lam bishawab.
Social Plugin