Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Di tengah Ramadhan bulan ketika kaum Muslim mendekat kepada Allah dunia kembali memperlihatkan kenyataan yang mengguncang. Serangan demi serangan menghantam negeri-negeri Muslim. Nyawa melayang. Anak-anak menjadi korban. Namun ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan. Ini adalah cermin dari kondisi umat hari ini.
Membaca Realitas
Apa yang terjadi bukanlah peristiwa acak.
Kekuatan besar dunia bergerak dengan kepentingan yang jelas: menjaga dominasi dan melindungi sekutunya. Narasi perdamaian dan stabilitas hanya menjadi bungkus bagi kepentingan geopolitik mereka. Ini bukan sekadar konflik kawasan. Ini adalah pertarungan kepentingan global dan umat Islam berada di posisi yang lemah.
Ketika Umat Kehilangan Kekuatan
Lalu pertanyaannya: Mengapa umat sebesar ini tak mampu melindungi dirinya sendiri? Padahal jumlah kaum Muslim lebih dari dua miliar jiwa, hidup di wilayah strategis, dan memiliki sumber daya yang melimpah.
Rasulullah ﷺ telah menggambarkan kondisi ini, dalam hadits yang diriwaytkan oleh Abu Dawud:
“Kalian banyak, tetapi seperti buih di lautan…”
Penyebabnya adalah karena penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati.
Ketika dunia menjadi tujuan, keberanian hilang.
Ketika takut kehilangan dunia, umat rela kehilangan kemuliaannya. Wahn tidak muncul tiba-tiba.
Ia lahir ketika hubungan umat dengan Al-Qur’an melemah dibaca, tetapi tidak dipahami maknanya; dilantunkan, tetapi tidak dijadikan pedoman hidup. Dan ketika sirah Nabi ﷺ tidak lagi dipahami sebagai panduan pelaksanaan Islam, melainkan sekadar cerita sejarah. Akibatnya, umat memiliki iman, tetapi kehilangan arah berpikir dan cara bertindak.
Ilusi yang Terus Diulang
Sebagian masih berharap pada solusi dari luar: lembaga internasional, perjanjian global, atau janji-janji perdamaian.
Namun ini bukan sekadar kegagalan diplomasi. Ini adalah ilusi yang terus diulang. Umat berkali-kali menaruh harapan pada pihak yang sama yang justru memiliki kepentingan atas kelemahan mereka. Polanya berulang, hasilnya pun sama.
Ketika kepentingan mereka terganggu, dunia bergerak cepat. Namun ketika kaum Muslim menjadi korban, dunia sering kali diam. Di sinilah peringatan Rasulullah ﷺ dalam HR Bukhari, menemukan maknanya:
“Seorang mukmin tidak akan dipatuk dari lubang yang sama dua kali.” Artinya, seorang mukmin tidak akan terus-menerus tertipu oleh pola yang sama. Lalu mengapa umat ini masih berharap pada jalan yang sama?
Jalan ke Luar yang Jelas
Islam tidak hanya menjelaskan masalah. Islam juga memberikan arah. Jalan ke luar umat ini bukan sekadar persatuan tanpa arah. Ia hanya mungkin terwujud ketika umat kembali menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sumber berpikir, satu-satunya standar bertindak, dan satu-satunya arah perjuangan.
Allah ﷻ telah menegaskan:
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Ma'idah : 48)
Tanpa itu, persatuan hanya menjadi slogan.
Dengan itu, persatuan berubah menjadi kekuatan.
Saatnya Bertanya
Hari ini, yang kita saksikan bukan hanya konflik. Ini adalah pertanyaan besar untuk kita semua: Apakah kita akan terus menjadi penonton dari penderitaan umat ini?
Allah ﷻ telah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Ini bukan sekadar nasihat. Ini adalah arah kebangkitan.
Sejarah telah membuktikan: ketika umat ini kembali kepada petunjuk Allah, mereka bangkit. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah itu mungkin.
Tetapi: apakah kita siap memulainya?
Pelajaran Penting
• Konflik global digerakkan oleh kepentingan, bukan idealisme.
• Kelemahan umat berakar pada wahn: cinta dunia dan takut mati.
• Wahn lahir dari jauhnya umat dari pemahaman Al-Qur’an dan sirah.
• Ketergantungan pada solusi luar hanya memperpanjang kelemahan.
• Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah fondasi kebangkitan umat.
Social Plugin