Ilustrasi Pinterest
Oleh Atin Noer
MediaMuslim.my.id, Opini_ Seorang mahasiswi yang bernama FaradilIa Ayu menjadi korban pembacokan di Kampus Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada hari Kamis, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Korban dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka berat dibagian kepala. Peristiwa ini terjadi pada saat korban akan mengikuti seminar proposal. Pelaku penganiayaan yang berinisial RM adalah temen korban yang sama-sama mahasiswa di Fakultas Syari'ah dan Ilmu hukum UIN Syarif Kasim Riau. Pelaku melakukan penganiayaan dengan menggunakan senjata tajam.
Yang menjadi motif pelaku melakukan penganiayaan diduga terkait persoalan pribadi. Pelaku mempunyai perasaan terhadap korban, namun perasaannya tidak dibalas oleh korban karena menganggap pelaku hanya sebagai teman dan korban sudah mempunyai pacar.
Peristiwa pembacokan sungguh memilukan, banyak masyarakat berpikir kenapa pelaku bisa melakukan penganiayaan yang keji itu padahal sejatinya keduanya merupakan teman kuliah. Kasus penolakan cinta yang berujung penganiayaan bahkan pembunuhan bukanlah hal yang pertama bahkan kejadian ini terus berulang terjadi. Perilaku pemuda yang dekat dengan penganiayaan, kekerasan, pembunuhan, pergaulan bebas menunjukan kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk generasi yang berkepribadian mulia. Pendidikan saat ini lebih menekankan aspek akademik dan capaian materi tapi minim dalam pembinaan iman, akhlak, hukum-hukum syariat dan kontrol diri. Sekularisme membentuk standar kebebasan yang menempatkan keinginan individu sebagai tolak ukur utama, remaja didorong bertindak semaunya tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Sementara itu, normalisasi nilai-nilai liberalisme khususnya dalam pacaran, pergaulan bebas, perselingkuhan di tengah keluarga dan masyarakat berdampak besar dalam mengubah perilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada pembunuhan. Negara dalam sistem kapitalis dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga pemuda hanya dipandang dari segi ekonomi yang mempunyai nilai produktif dan berorientasi pada materi.
Sistem pendidikan dalam Islam dibangun di atas akidah Islam dengan tujuan bukan hanya mencetak para pekerja, namun
membentuk generasi syaksyiah islamiyah yang mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Generasi dididik untuk mempunyai kesadaran untuk taat pada syariat, halal-haram, tanggung jawab dan ketakwaan, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan. Generasi dijauhkan dari pemikiran yang merusak dari ajaran Islam. Masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan sehingga mendukung suasana dalam ketaatan dan menjauhkan perilaku dari penyimpangan. Dalam pandangan Islam menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat.
Atin Noer
Social Plugin