Bertepuk Sebelah Tangan, Kapak pun Melayang



Ilustrasi Pinterest
Oleh : Elly Waluyo
Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam



MediaMuslim.my.id, Opini_ Prinsip kebebasan berperilaku dalam sistem kapitalis dengan standar benar dan salah disandarkan pada pandangan masing-masing individu. Hal ini menimbulkan banyak permasalahan dalam pergaulan antar lawan jenis yang berujung pada tindak kriminal. Pada dasarnya, laki dan wanita diciptakan berpasangan sehingga jika berdekatan secara otomatis menimbulkan perasaan pada salah satunya atau keduanya.

Sebagaimana peristiwa pembacokan yang dilakukan oleh Reyhan Mufazar (22) terhadap Farradhila Ayu Pramesti (23) mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau, Fakultas Syariah dan Hukum. Pembacokan pelaku yang dikenal korban saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) tersebut dipicu oleh perasaan bertepuk sebelah tangan akibat salah paham terhadap perhatian korban. Daffa yang merupakan rekan korban dan pelaku dalam satu kelompok KKN mengatakan bahwa korban memiliki kepribadian yang ramah dan mudah bergaul. Korban sering menunjukkan perhatian pada rekan se-jurusan seperti mengajak makan, mengingatkan makan, atau mengajak kumpul. Pelaku yang berkarakter tertutup dan bahkan tak pernah memiliki teman dekat perempuan menyangka korban memiliki perasaan lebih terhadap dirinya. 

Penolakan korban dengan mengatakan telah memiliki pacar dan penegasan hubungan hanya pertemanan dengan pelaku menimbulkan sakit hati. Korban pun membatasi komunikasi yang justru membuat pelaku semakin terobsesi hingga terjadilah aksi pembacokan dengan kapak tersebut. (https://kumparan.com : 27 Februari 2026)

Sikap pemuda yang hari ini sangat dekat dengan kriminalitas menunjukkan kegagalan sistem kapitalis dalam mencetak generasi berakhlak mulia. Pendidikan sekuler yang diterapkan telah mengkotakkan agama dalam ibadah ketuhanan saja. Kegiatan selain itu tidak disangkutpautkan dengan agama, melainkan bersandar pada kebebasan termasuk dalam pergaulan. Normalisasi segala bentuk kebebasan pergaulan dalam masyarakat tanpa mempedulikan dampaknya bagi orang lain pun terjadi. Bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, pacaran, perselingkuhan, dan lain-lain.

Negara bersistem kapitalis hanya berpangku tangan karena memandang warganya sebagai komoditas ekonomi. Warga negara adalah produk untuk diambil keuntungan materi saja.

Berbeda halnya dengan Islam yang diterapkan secara kaffah dalam suatu negara. Negara akan memandang generasi muda sebagai tonggak peradaban yang mampu menyelesaikan segala problematika di dalam dirinya, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya dengan bersandar pada syariat Islam. Di samping memiliki kemampuan akademik dan keterampilan yang baik.

Generasi cemerlang sedemikian rupa hanya bisa terlahir melalui pendidikan berbasis akidah yang diterapkan dalam seluruh jenjang pendidikan baik formal, non-formal di masyarakat maupun keluarga. Negara memfasilitasi pendidikan dan memastikan seluruh warganya mendapatkan ri’ayah dengan mudah, murah bahkan gratis dengan pelayanan prima, sehingga terbentuk masyarakat yang senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar dan saling ta’awun. 

Selain itu, penerapan hukum Islam yang bersifat jawabir dan jawazir akan semakin melindungi dan mencegah perbuatan maksiat.