Ramadan di bawah Bayang-Bayang Kriminalitas

Ilustrasi Pinterest
Oleh: Rifdah Reza R., S.Sos., M.I.Kom.


MediaMuslim.my.id, Opini_  Ramadan sering dibayangkan dan diharapkan sebagai bulan yang penuh keberkahan, aktif beribadah, dan ketenangan. Mulai dari masjid yang lebih ramai, ibadah meningkat, hingga masyarakat yang berbondong-bondong menahan diri dari berbagai perilaku yang dilarang-Nya. Bisa dikatakan bulan Ramadan adalah bulan perbaikan.

Namun, ternyata Ramadan tidak selalu berjalan mulus. Ternyata di tengah euforia positif, masih ada tindak kriminalitas yang terjadi di ruang publik. Lantas mengapa momentum Ramadan yang begitu kental tidak otomatis menghadirkan rasa aman di tengah kehidupan masyarakat?

Hal itu bisa dilihat dengan adanya kasus penjambretan yang terjadi pada Sabtu (7/3) sekitar pukul 09.00 WIB di area Flyover Lamaran, Karawang. Korban adalah seorang wanita yang mengalami luka robek di beberapa bagian tubuh akibat aksi pelaku. Kejadian ini berlangsung saat mayoritas masyarakat sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Hal ini menggambarkan bahwa tindakan kriminalitas dapat terjadi kapan saja bahkan di situasi dengan simbolik religius. Di sisi lain kita dapat mengetahui pula bahwa peningkatan aktivitas ibadah secara individual tidak selalu selaras dengan terbentuknya keamanan sosial secara struktural. Ritual keagamaan dapat saja berjalan, tetapi sistem sosial yang mengatur kehidupan masyarakat saat ini nyatanya belum mampu mendukung terbentuknya ketertiban dan keamanan total.

Ketika Moralitas Individu Tidak Didukung Sistem Sosial

Tak dapat dipungkiri kita memasuki karakter masyarakat yang lebih condong pada memisahkan agama dari kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan publik. Hal ini disebut dengan sekuler. Ya, ketika agama diposisikan sebagai urusan privat individu semata, sementara negara dan kebijakan publik berjalan dengan landasan yang terpisah dari nilai keagamaan.

Menyoal hal itu, ada kaitannya pula dengan penjelasan dari seorang Sosiolog Klasik, Emile Durkheim. Beliau memaparkan bahwa moralitas sosial ternyata membutuhkan institusi yang mampu menopangnya. Tanpa adanya struktur sosial yang kokoh, maka nilai akan mudah melemah karena hanya bergantung pada kesadaran individu.

Di sisi lain, persoalan pun berkaitan dengan sistem kapitalisme yang juga melahirkan tekanan sosial yang besar. Adanya ketimpangan ekonomi, terbatasnya lapangan kerja, hingga distribusi kekayaan yang tidak merapat dengan mudah menciptakan berbagai tindak kriminalitas. Hal ini sejalan dengan teori Strain dari Sosiolog Robert K. Merton, yaitu kejahatan sering muncul ketika terdapat kesenjangan antara tujuan hidup yang diharapkan masyarakat dengan peluang yang ada untuk mencapai secara sah.

Maka, kriminalitas tak sebatas berkaitan dengan moral individu, melainkan juga berkaitan dengan struktur sistem sosial yang membentuk kehidupan di tengah masyarakat.

Mengapa Ramadan Belum Menghadirkan Keamanan Sosial?

Ramadan pada dasarnya memiliki potensi besar untuk membangun diri, mengendalikan diri, meningkatkan kesadaran spiritual, hingga solidaritas sosial. Namun, potensi ini akan sulit terealisasi maksimal dan berdampak luas ketika tidak diinstitusikan dalam sistem berkehidupan masyarakat.

Tanpa sistem yang selaras dengan aturan-Nya, Ramadan berisiko hanya menjadi momentum spiritual yang sementara, yakni hanya menguatkan individu, tetapi tidak menguatkan dan membentuk tatanan sosial yang aman dan adil.

Urgensi Sistem Islam dalam Mewujudkan Keamanan Sosial

Islam tidak sebatas mengatur persoalan spiritual, melainkan pun mengatur sistem sosial dengan menyeluruh. Pemikir politik Islam Syekh Taqiyuddin an-Nabhani memaparkan bahwa penerapan syariat Islam mencangkup berbagai aspek kehidupan, mulai dari sistem ekonomi, hukum, bahkan pemerintahan. 

Maka, Islam tidak berhenti pada kesadaran individu, tetapi pun aturan harus diterapkan dalam struktur kehidupan masyarakat. Negara dalam sistem berlandaskan Islam bertanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, memastikan distribusi kekayaan yang adil, menyediakan lapangan pekerjaan, dan menerapkan sistem hukum yang tegas serta memberikan pencegahan terhadap tindak kriminal. Dengan ini, keamanan masyarakat didukung oleh sistem sosial yang adil dan terstruktur.

Atas paparan di atas, maka sudah semestinya Ramadan menjadi momen untuk membangun perubahan yang luas hingga tataran sistem yang mengatur kehidupan masyarakat. Tanpa perubahan sistem, Ramadan akan berpeluang menjadi ritual tahunan semata. Mari jadikan bulan suci ini selaras dengan nilai Islam dan menjadi titik lahirnya masyarakat yang aman, adil, dan bermartabat!

Wallahu a’lam bishshawab.