MBG semakin ke Sana semakin ke Sini

Ilustrasi Pinterest
Oleh: Ai Hamzah 


MediaMuslim.my.id, Opini_ Polemik MBG terus menerus menjadi topik pembicaraan. Seperti cerita yang tidak berujung dan tak berkesudahan. Apalagi saat ini ketika anak-anak tengah melakukan puasa wajib Ramadhan. Makan Bergizi Gratis terkesan dipaksakan. Menu makanan pun sudah tidak memenuhi gizi yang digadang-gadang mampu mendrongkak kecukupan gizi masyarakat. Bahkan setelah dibelanjakan nyatanya masih jauh dari nominal yang sudah dianggarkan. 

Sekolah penerima MBG pun bingung dengan menu yang dibagikan kepada anak-anak didiknya. Makanan ringan kering untuk berbuka puasa dikemas alam wadah plastik yang semakin tidak jelas isinya. Susu kotak kecil dan roti yang mungil menjadi menu favorit saat Ramadhan. Didapati juga ada SPPG yang memberi 1 butir kelapa utuh dan 1 buah nanas utuh. Begitu pula orang tua, melihat menu yang semakin memprihatinkan itu tentu saja menuai protes, terlebih program ini diusung untuk memenuhi gizi anak-anak.

Seperti kasus di daerah Cigudeg Bogor misalnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi pemenuhan gizi siswa, justru menjadi polemik. Para wali murid di SD Negeri 01 Bunar Cigudeg kabupaten Bogor mengeluhkan kualitas menu yang menurut mereka jauh dari standar kesehatan dan kelayakan. Pada hari Rabu (25/02) misalnya, menu terdiri dari susu botol, roti, tiga biji kurma, dan satu butir telur. Selain persoalan menu yang minim, muncul fakta yang mengejutkan bahwa sebelum Ramadhan, makanan yang disajikan diduga sering tidak layak konsumsi. Misalnya makanan yang bau sehingga anak-anak pun tidak mau mengambil makanan tersebut. BOGOR Kupas Merdeka, 25 Februari 2026

Kepentingan segelintir orang telah mempertaruhkan kesehatan seorang anak. MBG yang konon katanya dengan melibatkan ahli gizi dan kesehatan nyatanya jauh panggang dari api. Menu yang minim, standar kesehatan yang kurang, gizi yang tidak terpenuhi merupakan sebagian deretan dari potret MBG. Menu yang semakin kesana semakin kesini terkesan asal-asalan yang penting jalan. Padahal dana yang dikeluarkan tidak main-main. Menyedot angka yang fantastis, hingga berefek pada aspek lain misalnya pemangkasan dana pendidikan. Bahkan di beberapa media diberitakan karena dana belum mencukupi, pemerintah mengajak masyarakat untuk ikut menyumbang dana MBG. Semakin memicu gelombang protes di tengah masyarakat.

Program yang unstoppable dan terkesan dipaksakan, dengan mengirimkan makanan kering pada setiap sekolah pada akhirnya menimbulkan pertanyaan baru, lantas untuk apa dapur-dapur tersebut berdiri jika tidak melakukan aktifitas memasak? Sementara para karyawannya diberikan gaji yang cukup besar tanpa melakukan tugas yang optimal.

Kenatra sekali ada maksud dibalik program ini harus tetap berjalan, yaitu kepentingan para pebisnis yang terlibat ‘mengebulkan’ dapur SPPG maka dapur pribadi pun ikut mengebul, tak peduli lagi dengan tujuan awal dibuatnya program ini yang itupun masih mengundang banyak kontroversi pada saat itu.

Kebutuhan pangan memang kebutuhan penting yang harus dipenuhi. Hanya saja kebutuhan ini akan terpenuhi dengan baik ketika penanggung jawab keluarga dapat berperan dengan baik pula. Nafkah yang cukup bagi kehidupan akan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar terpenuhi termasuk kebutuhan pangan. Namun nyatanya saat ini kapitalisme tidak memihak kepada masyarakat kecil. Mereka dibiarkan hidup sengsara dan menderita, sementara para kapital menikmati kehidupan yang nyaman penuh dengan materi. 

Dalam pandangan Islam pemenuhan nafkah ini sifatnya berjenjang, mulai dari kepala keluarga,  apabila kepala keluarga tersebut sudah tidak mampu bisa karena sakit, meninggal, atau kondisi syar’i lainnya, maka kewajiban menafkahi keluarga akan turun kepada wali, jika wali juga tidak ada maka menjadi kewajiban kerabatnya, hingga jika satupun tidak ada yang bisa menanggung maka kewajiban negara untuk menanggunggnya.

Seyogyanya kebutuhan pangan adalah tanggung jawab negara dalam pemenuhannya. Rosulullah Saw bersabda;

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ 
(أحمد ، ومسلم عن عائشة)

“Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu ia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu ia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah ia.”
(HR. Ahmad & Muslim)

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ }
 رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

"Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga Bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, Ya RasulAllah, apakah Bahlatullah itu?.  Beliau menjawab: La’nat Allah". 
(HR. Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Islam memandang dalam pemenuhan kebutuhan dasar ini tentu membutuhkan perhatian khusus. Kepala keluarga sebagai penanggung jawab nafkah pun diberikan lapangan pekerjaan, modal dan juga skill tertentu sehingga dalam memenuhi kewajibannya tidak menemui kesulitan yang berarati. Selain itu penguasa memastikan pemenuhan kebutuhan tersebut sampai kepada orang per orang dalam setiap keluarga.  Sehingga masyarakat menikmati seluruhnya. Baik yang kaya atau  pun yang papa. 
Kebutuhan pangan misalnya sebagai asupan nutrisi setiap orang sangat dijamin kehalalannya, kesehatan dan gizi pangan pun menjadi standar beredarnya makanan. Untuk itu makanan yang beredar dipasaran sudah terjamin untuk dikonsumsi oleh umat.  Dengan pengaturan sedemikian rapi dan tertatanya ini, niscaya asupan gizi  masyarakat akan terpenuhi. Kualitas sumber daya manusia juga akan meningkat. 

Wallahua’lam bishawwab