Oleh: Erika Febiana, A.Md.S.I.Ak
MediaMuslim.my.id, Opini_ Genosida yang terjadi di Palestina sudah berlangsung dari tragedi Nakba pada tahun 1948, puncaknya terjadi pada 7 Oktober 2023 hingga kini genosida dan pembersihan etnik belum berakhir, belakangan ini terjadi perang antara Iran Vs Amerika Serikat dan Israel yang mengakibatkan penutupannya Masjid Al Aqsa dengan alasan menjaga keamanan Israel.
Sepanjang bulan Maret 2026, Israel Kembali melakukan serangan udara di langit Gaza, yang menewaskan 3 orang warga termasuk paramedis dan menambah kerusakan bangunan dan infastruktur di Gaza, serangan terjadi di tengah perjanjian gencatan senjata, (CNNIndonesia,10/03/2026).
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza korban sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025, Syahid mencapai 687 Jiwa, Terluka mencapai 1845 Jiwa, jadi total keselurahan sejak 7 Oktober 2023, Syahid mencapai 72.263 Jiwa, terluka mencapai 171.944 Jiwa. Banyak nya korban bukan hanya hitungan angka semata, tetapi bukti nyata 2 miliyar umat muslim tidak berdaya, bagaimana kita harus bersikap?
Tidak hanya itu Israel dan Amerika Serikat juga melakukan serangan terhadap Lebanon dan Iran. Serangan lebih massif terjadi dari Iran mengirim rudal ke langit Israel, dan menewaskan banyak jiwa disana, sehingga membuat otoritas Israel menutup masjid Al Aqsa pada 10 Malam terakhir Ramadhan hingga tidak diperbolehkannya melakukan solat Idul Fitri di Masjid Al Aqsa dengan dalih menjaga keamanan dari serangan Iran, penutupan Masjid Al Aqsa baru terjadi kali ini dalam sejarah.
Apa yang harus kita lakukan? Dan mengapa umat Islam 2 Milyar tidak Bersatu?
Perjanjian Internasional hanya Ilusi Solusi
Penindasan terhadap Kaum Muslimin di Baitul Maqdis akan semakin masif dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat, dan penindasan tersebut tidak hanya terjadi di tanah para nabi tetapi di negeri negeri muslim lainnya juga akan menghadapi permasalahan yang sama.
Berbagai kecaman dan perjanjian sudah dilakukan tetapi tidak membuahkan hasil hingga saat ini, apakah penindasan itu berakhir? jawabannya adalah tidak akan pernah, karena umat Islam masih terpecah belah dengan kepentingan negara masing masing, kita lihat lebih kecil lagi, umat disibukan dengan permasalahan diri sendiri yang menganggap bahwa urusan diri sendiri lebih berat dibandingkan urusan umat.
Begitupun ketika bergabungnya pemerintah kedalam Board OF Peace yang diinisiasi oleh Donald trump, mengusung perdamaian untuk palestina tetapi didalamnya tidak ada pembahasan untuk perdamaian palestina karena palestina sendiri tidak diikut sertakan didalamnya, agenda BOP hanya sebagai alat untuk memudahkan barat mengkolonialisasi negeri negeri muslim untuk di design sesuai kepentingan dari barat, dan dengan mudahnya merampas tanah palestina dan tanah negeri negeri muslim dengan mudah.
Adanya zionis yahudi di tanah para nabi adalah proyek kolonialisme yang di wariskan oleh Inggris sebagai negera yang berkuasa pada perang dunia ke 1, dilanjutkan oleh Amerika Serikat sebagai negara yang berkuasa pada perang dunia ke 2, zionis yahudi yang mempunyai kepentingan sebagai entitas yang mengontrol negeri negeri muslim, karena secara geografis letak palestina berada di titik tengah atau strategis antara Benua Asia, Benua Afrika, dan Benua Eropa.
Adanya konflik timur tengah yang di cetus oleh Israel disokong oleh negara adidaya membuat focus umat terpecah belah dan lebih focus kepada negaranya sendiri, seebagaimana yang di proklamirkan oleh negara masing masing akan menumbuhkan rasa cinta tanah air (Nasionalisme). Para pemimpin di negeri negeri muslim lebih memilih mengurusi kepentingan masing masing dibandingkan menunjukan keberpihakannya kepada saudara seiman, sekat Nasionalisme mengukung umat muslim yang berjuang untuk palestina oleh kebijakan dari penguasa yang tidak berpihak kepada saudara sesama muslim, dan umat muslim yang banyaknya lebih dari 2 milyar ini bagai buh di lautan dan cinta dunia takut mati, seperti halnya yang diinformasikan oleh Rasulullah saw ribuan tahun yang lalu:
“Hampir saja bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka.”
Seorang Sahabat bertanya, “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?”
Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Allah menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian.”
Seorang Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”
Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).
Negara Adidaya lawan Negara Adidaya Lagi
Sampai sejauh ini belum ada dari pemimpin negeri muslim yang dengan lantang mengirimkan pasukan untuk membantu palestina, tanpa didasari oleh kepentingan pribadi. Seperti hal nya ketika masa pemilihan umum, calon pemimpin berlomba lomba dan menunjukan keberpihakannya kepada Palestina tetapi ketika sudah mengamankan kursi kepemimpinannya mereka membuat aturan yang justru membuat kecewa.
Rasulullah saw. Sudah menginformasikan kepada kita dalam hadistnya
“Akan datang kepada manusia tahun tahun yang penuh dengan tipu daya: Orang yang berdusta akan dipercaya, orang yang jujur akan didustakan, orang yang berkhianat akan diberi Amanah, orang yang Amanah akan dituduh berkhianat, dan pada saat itu berbicaralah Ruwaibidha”, lalu sahabat bertanya, “apa itu ruwaibidha?”, Rasulullah menjawab, “ Orang yang receh (tafih/hina/tidak berkompeten) berbicara dalam urusan orang banyak.”
(HR. Ibnu Majah, Ahmad, al-Hakim, dinilai hasan oleh sebagaian ulama).
Dari ribuan tahun yang lalu Rasulullah sudah mengingatkan kita, bahwa akan ada pemimpin yang tidak berkompeten berbicara untuk kepentingan orang banyak, yang justru banyak mendzhalimi ummat demi kepentingan diri para penguasa.
Satu-satunya negara yang bisa membebaskan Palestina dan negeri negeri lainnya dari kukungan penjajah dan penindasan adalah adanya Khilafah Islamiyyah, Konsep Khilafah Islamiyyah merupakan solusi yang tepat untuk menyatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan yang kuat dan adidaya. Khilafah Islamiyyah bukan konsep baru melainkan konsep yang sudah ada dan diterapkan oleh Rasulullah saw. Ketika di Madinah dan berhasil menguasai 2/3 dunia selama kurang lebih 13 abad berkuasa.
Jadi apa yang harus kita lakukan?
Hal yang harus kita lakukan adalah belajar, agar kita bisa mengetahui bahwa Rasulullah melarang sikap cinta tanah air, Semaksimal mungkin untuk boikot, Teruslah bersuara untuk palestina dan kedzholiman penguasa, Teruslah berdoa, sampai tiba waktunya janji Allah itu datang yaitu kembalinya Sistem Islam (Khilafah), karena solusi yang hakiki adalah dengan adanya Negara Islam yang menyeru akan adanya jihad fii sabilillah untuk mengusir penjajah dari tanah para nabi, dan membebaskan negeri negeri muslim dari kedzholiman dan pemindasan penjajah.
"libertion of mind before libertion of land"
(Prof. Abdul Fattah El-Awaisi)
Wallahu a'lam bish-shawab
Social Plugin