Ilustrasi Pinterest
Oleh Nasya
MediaMuslim.my.id, Opini_ Di tengah harapan pasca Lebaran yang seharusnya jadi momen kembali semangat belajar, justru muncul wacana yang bikin miris: pembelajaran daring akan diberlakukan sebagai langkah penghematan energi. Pendidikan yang seharusnya jadi prioritas utama, perlahan digeser seolah hanya variabel yang bisa dikorbankan. Dalih efisiensi bahan bakar memang terdengar rasional di permukaan, tapi jika ditelisik lebih dalam, kebijakan ini justru memperlihatkan betapa rapuhnya posisi pendidikan dalam arah kebijakan hari ini.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, pembelajaran daring bukan tanpa masalah. Tidak semua siswa punya akses yang sama mulai dari jaringan internet, perangkat, hingga lingkungan belajar yang mendukung. Alih-alih mempermudah, sistem ini justru berpotensi memperlebar kesenjangan. Banyak siswa yang akhirnya tidak mendapatkan hak belajarnya secara utuh, kehilangan interaksi, kehilangan fokus, bahkan kehilangan arah. Jika kebijakan ini tetap dipaksakan, bukan tidak mungkin kualitas generasi ke depan yang dipertaruhkan.
Lebih ironis lagi, kebijakan seperti ini muncul di tengah fakta bahwa negeri ini kaya akan sumber daya. Seharusnya, negara mampu mencari solusi tanpa harus menjadikan pendidikan sebagai “korban keadaan”. Namun inilah potret kebijakan dalam sistem yang berorientasi pada efisiensi semata, bukan pada tanggung jawab hakiki terhadap rakyat. Pendidikan dipandang seperti beban yang bisa ditekan, bukan kebutuhan mendasar yang harus dijaga sepenuh hati.
Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar layanan tambahan, melainkan kebutuhan pokok yang wajib dijamin oleh negara. Negara bertanggung jawab penuh memastikan setiap individu mendapatkan pendidikan yang layak, berkualitas, dan mudah diakses tanpa hambatan. Bukan hanya soal ada atau tidaknya sekolah, tapi bagaimana proses belajar itu benar-benar membentuk manusia yang berilmu, berkepribadian, dan siap menghadapi kehidupan. Karena itu, negara tidak akan gegabah mengambil kebijakan yang berpotensi merusak kualitas pendidikan, apalagi menjadikannya solusi instan atas persoalan lain.
Jika pendidikan terus dikorbankan atas nama efisiensi, lalu siapa yang akan menanggung dampaknya di masa depan? Apakah kita rela masa depan generasi dipertaruhkan hanya karena kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah?
Social Plugin