Ilustrasi Pinterest
Oleh: Lia Fitri
MediaMuslim.my.id, Opini_ Tiga dekade lalu, Bekasi dan Karawang menjadi magnet bagi konsentrasi industri nasional. Disebabkan adanya penyusutan ketersediaan lahan dan biaya operasional yang mahal. Maka investasi global kini beralih menuju Subang.
Fenomena paling krusial yang mewarnai perubahan Subang dalam setahun terakhir adalah ledakan investasi asal China.
Hingga Februari 2026, pemodal dari Negeri Tirai Bambu telah menguasai 50 persen dari total portofolio investasi di Subang Smartpolitan, sebuah kawasan mandiri terintegrasi seluas 2.717 hektar yang dikembangkan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Dilansir Jakarta, Kompas.com (14/03/26)
Bahaya dan Dampak Investasi Asing
Sejak awal orde baru barat telah mencengkram negeri ini dan meraup kekayaannya dengan cara melalui investasi korporasi multinasional mereka. Khususnya di sektor Hulu pengelolaan sumber daya alam seperti tambang, migas, hutan, industri dan sebagainya. Banyak diminati oleh negara-negara yang memiliki keinginan untuk menguasai ekonomi yang dapat mempermudah perputaran ekonomi negara mereka.
Seperti yang dikutip dalam buku "Politik Ekonomi Islam" karya Abdurahman Al Maliki yang memaparkan sesungguhnya pendanaan proyek yang mengundang investasi asing bisa membuat umat menderita akibat dari bencana yang ditimbulkannya yang merupakan jalan untuk menjajah suatu negara.
Dengan adanya investasi asing yang diberikan oleh negara-negara yang memiliki modal itu akan mengikat dengan berbagai syarat seperti adanya jaminan dalam bentuk aset, adanya timbal hasil seperti ekspor komoditas tertentu hingga kewajiban negara penutang agar pengadaan peralatan dan jasa teknis harus diimpor dari negara yang bersangkutan dan juga negara penutang harus membayar bunga yang sangat tinggi.
Maka harus kita lihat pada saat kekayaan negeri ini sudah dikuasai oleh penanam modal asing maka sesungguhnya ekonomi negara tersebut telah dijajah secara keseluruhan dari hulu sampai hilir. Karena, ekonomi yang berjalan adalah ekonomi bangsa lain. Ini merupakan bukti bahwa investasi asing akan terus menjadikan negara penutang terjajah dengan penjajahan gaya baru.
Secara prinsipil arah ekonomi negara tersebut sudah menjadi arah ekonomi dan politik yang mengabdi pada bangsa lain seperti Cina, Amerika, Jepang dan Eropa. Investasi asing sering berdalih karena negeri ini tidak memiliki modal. Padahal sumber daya manusia dan sumber daya alam negeri ini sebenarnya adalah modal.
Ini merupakan akibat dari penerapan aturan yang rusak Kapitalisme sekuler dimana uang, kekuasaan, keserakahan menjadi tujuan utama untuk mendapatkan kebahagiaan.
Ekonomi Islam Solusi bagi Negeri yang Dijajah
Islam tidak menggunakan investasi asing dalam pembiayaan negara. Karena, investasi asing itu syarat akan kepentingan yang bisa mempengaruhi pertahanan, keamanan dan kedaulatan negara dalam jangka panjang.
Investasi asing selain riba, juga alat penjajahan gaya baru. Sehingga pembiayaan dan pembangunan negara haram menggunakan investasi asing. Islam telah jelas dalam hal riba seperti dalam firman Allah SWT yang artinya:
"...Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah: 275)
Islam menjadikan kas negara baitul Mal sebagai sumber pendanaan. Menurut Syekh Abdul Qadim Zalum dalam kitab Al-Amwal Daulah Alkhilafah, pos pendapatan APBN negara Islam terdiri dari 12 jenis yaitu:
1. Ghanimah
2. Fai'
3. Kharaj
4. Jizyah (pungutan dari nonmuslim yang tinggal di negara Islam)
5. Dharibah (pungutan darurat yang dibebankan sementara)
6. Zakat
7. Ushr (bea cukai)
8. Harta milik umum
9. Tanah kharajiyah
10. Harta waris (tanpa ahli waris)
11. Harta orang murtad, dan
12. Pendapatan tidak terduga/lainnya.
Maka kita harus waspada terhadap investasi asing dan memilih ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kita juga akan hidup sejahtera dalam pengaturan Islam.
Wallahu a'lam bish-shawab
Social Plugin