Ilustrasi: Kampung Pancasila (pinterest)
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
MediaMuslim.my.id, Opini--Hari Raya Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi seorang mukmin. Selama satu bulan penuh mengalahkan hawa nafsu, menggencarakan ibadah demi satu pahala yang dilipat gandakan. Lebih istimewa lagi sebagaimana hadis Rasûlullâh Saw. berikut ini, dari Abu Hurairah Ra, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah berfirman, "Setiap amalan anak adam untuknya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya, ia (puasa) untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” ( HR Bukhari dan Muslim).
Artinya, di antara semua ibadah yang disyariatkan Allah, hanya puasa di bulan Ramadan yang mendapat keistimewaan langsung diperhitungkan balasannya oleh Allah. Imam Al-Qurtubi Ra menafsirkan kalimat “Aku yang akan membalasnya”, adalah “Sesungguhnya Aku sendiri (satu-satunya) yang mengetahui kadar pahala dan jumlah kelipatannya.” Maknanya adalah bahwa amalan-amalan ibadah telah diketahui kadar balasannya oleh manusia. Bahwasanya kelipatan balasannya dari 10 kali sampai 700 kali lipat sampai (kelipatan) sesuai kehendak Allah Ta’ala, kecuali puasa. Sesungguhnya Allah Ta’ala memberi ganjaran ibadah puasa tanpa kadar (batas).
Maka, untuk 11 bulan berikutnya setelah Ramadan, sejatinya adalah bulan-bulan perjuangan yang sesungguhnya. Menjadikan diri terus layak di hadapan Allah. Memelihara aktifitas ibadah, tanpa melihat lagi apakah ada tanda atau teman, sebab Ramadan, bulan kebersamaan telah berlalu.
Pasca Ramadan Menjadikan Manusia Fitrah
Namun pernyataan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi sedikit mengganggu pikiran. Ia ingin, program Kampung Pancasila dilanjutkan, sebagai langkah strategis melanjutkan semangat kebersamaan yang terbangun selama Ramadan dan meningkatkan silahturahmi di bulan Syawal.
Modul Pancasila yang diimplementasikan pada program Kampung Pancasila, dilakukan lebih masif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pemkot Surabaya memastikan nilai-nilai seperti saling memaafkan, menguatkan, serta mempererat hubungan antarwarga nantinya dijalankan secara nyata di lingkungan masing-masing. Eri mengatakan sudah ada dua percontohan Kampung Pancasila yaitu di Kecamatan Genteng dan Wonokromo. Keduanya akan jadi acuan dalam percepatan implementasi di seluruh wilayah Kota Surabaya (suarasurabaya.net, 26-5-2026).
Kampung Pancasila Surabaya adalah inisiatif Pemkot Surabaya yang menetapkan kelurahan/RW sebagai percontohan penerapan nilai Pancasila, gotong royong, dan toleransi beragama. Program ini bertujuan menciptakan lingkungan harmonis, mandiri, dan berkarakter, serta menggerakkan ekonomi komunitas berbasis solidaritas warga, yang tersebar di banyak RW.
Pancasila dan agama bukannya bertentangan, namun belum ada yang benar-benar membuktikan jika nilai-nilai dalam Pancasila bisa menjadi solusi bagi semua persoalan manusia. Bahkan meski banyak pejabat mengatasnamakan tindakannya sebagai Pancasilais, ada lembaga yang dinisbatkan sebagai penjaga Pancasila, hari ini kejahatan malah kian meningkat. Rasa aman hilang, demikian pula dengan kesejahteraan.
Seseorang baik, rukun, toleransi hingga berdaya ekonomi berbasis solidaritas bukan karena mereka menerapkan Pancasila. Namun lebih kepada nilai baik secara umum yang masih hidup di masyarakat. Meski standar baik dan buruknya masih bernafas Islam, namun sangatlah lemah. Hanya tumbuh dalam rasa, padahal standar itu akan tumbuh kuat dan menjaga eksistensi manusia jika ada dalam pemikiran dan aturan. Ini yang tidak dimiliki Pancasila.
Kita tahu sejarah perumusan Pancasila sangatlah rumit, berasal dari pemikiran Presiden pertama kita, IR. Soekarno yang mengalami perubahan jumlah sila sebelum kemudian menjadi lima sila seperti sekarang. Bahkan jika diteliti, semangat di dalam lima silanya beraneka ragam, dari tauhid, kapitalisme hingga sosialisme yang keduanya asasnya sekuler (pemisahan agama dari kehidupan).
Salah satu bukti selulernya sila-sila dalam Pancasila, adalah sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, semua harus mengakui bahwa Tuhan itu satu, tunggal, tak berbilang, tak beranak dan diperanakkan. Faktanya, Pancasila tak pernah bisa mengatur lima agama yang diakui di Indonesia untuk hanya menuhankan satu Tuhan saja. Padahal, jika pemahaman ketuhanan saja beragam apakah bisa disatukan untuk aktifitas yang lain? Baik ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan dan lainnya?
Bagaimana dengan firman Allah yang memerintahkan puasa adalah agar menjadi hambanya yang bertakwa? Definisi takwa adalah tidak menuhankan Tuhan yang lain, bersedia menjalankan perintahNya sekaligus menjauhi larangannya? Fitrah penciptaan manusia adalah untuk taat, tunduk dan patuh hanya kepada Penciptanya, yaitu Allah aza wa jalla.
Kampung Pancasila Proyek Moderasi Beragama
Sebagai seorang mukmin yang taat, tentu wacana melanjutkan Kampung Pancasila patut diwaspadai. Bukan karena semata tak berkorelasi dengan kebutuhan umat hari ini juga merupakan proyek pemerintah dalam mengarusutamakan program global yaitu “war of terorism” dengan mensosialisasiakan “ Moderasi Beragama dan Toleransi”. Keduanya bukan berbasis dari syariat Islam.
Umat hari ini butuh persatuan hakiki, bukan berdasarkan suku, budaya, bahasa sebagaimana rumusan Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ikanya, tapi persatuan yang bermakna ukhuwah Islamiyyah. Hubungan yang berbasis akidah Islam. Yang dari persatuan ini mengantar setiap manusia kepada misi visi hidupnya yang benar. Sejahtera dan berkah dunia akhirat. Meninggalkan Sistem Kapitalisme yang hari ini mengatur di semua lini kehidupan mesti dicabut dan digantikan syariat Islam.
Karena sejatinya yang sudah terbukti mampu mengubah keadaan menjadi penuh berkah hanyalah Islam. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu...” (TQS Al-Maidah: 3). Wallahualam bissawab.

Social Plugin