Bahagia Mudik Membawa Bencana


Ilustrasi Pinterest
Oleh Nasya

MediaMuslim.my.id, Opini_ Arus mudik yang seharusnya menjadi perjalanan pulang penuh rindu justru berubah menjadi lorong panjang penuh risiko. Setiap tahun, cerita yang sama terus terulang: kemacetan mengular tanpa ujung, kecelakaan merenggut nyawa, dan kelelahan yang menumpuk di sepanjang perjalanan. Jalanan seakan tak lagi menjadi penghubung kebahagiaan, tetapi berubah menjadi ujian keselamatan. Ironisnya, masalah ini bukan hal baru ia seperti siklus tahunan yang dibiarkan terus berputar tanpa penyelesaian yang benar-benar menyentuh akar persoalan.

Realitas ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan selama ini hanya bersifat tambal sulam. Kebijakan teknis seperti rekayasa lalu lintas atau sistem buka-tutup jalan memang membantu sesaat, namun tidak menyelesaikan persoalan mendasar. Minimnya transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau membuat masyarakat bergantung pada kendaraan pribadi. Akibatnya, jumlah kendaraan melampaui kapasitas jalan yang tersedia. Ditambah lagi dengan kondisi infrastruktur yang belum merata dan masih banyak jalan rusak, risiko kecelakaan pun semakin besar. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan rakyat seolah menjadi taruhan yang terus dipertaruhkan setiap musim mudik tiba.

Lebih dalam lagi, problem ini mencerminkan bagaimana negara dalam sistem saat ini belum sepenuhnya menjalankan perannya sebagai pengurus rakyat. Keselamatan publik belum menjadi prioritas utama, karena kebijakan sering kali berorientasi pada efisiensi anggaran atau kepentingan jangka pendek, bukan pada jaminan perlindungan menyeluruh bagi masyarakat. Akibatnya, mudik yang seharusnya menjadi momen sakral penuh kebahagiaan justru diwarnai kecemasan dan potensi bahaya.

Berbeda dengan itu, dalam pandangan Islam, negara memiliki peran sebagai ‘raa’in ‘ pengurus dan pelindung rakyat. 

Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda, “Imam ibarat raain atau penggembala dan ia bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya).” (HR Bukhari)

Dalam hadits lain, Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam juga bersabda, Imam atau Negara adalah junnah (perisai). Sebagaimana layaknya perisai, ia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap rakyatnya. “Sesungguhnya al-imam (Pemimpin) itu perisai, (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Kedua nas ini meniscayakan kehadiran negara secara utuh di tengah rakyatnya, melayani dan mengurusi kebutuhan pokok rakyat, serta melindunginya dari berbagai segala bentuk upaya penjajahan dan problematika.

Oleh karena itu, Negara tidak boleh membiarkan masalah keselamatan berulang tanpa solusi tuntas. Negara wajib menyediakan sistem transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau dalam jumlah yang memadai, sehingga masyarakat tidak bergantung pada kendaraan pribadi. Selain itu, negara juga bertanggung jawab membangun dan merawat infrastruktur jalan secara optimal, memastikan setiap jalur perjalanan layak dan aman digunakan. Semua kebijakan diarahkan untuk menjaga jiwa manusia, karena keselamatan adalah hal yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam.

Dengan pengelolaan yang berlandaskan tanggung jawab dan pelayanan, perjalanan mudik tidak lagi menjadi ancaman, melainkan kembali menjadi perjalanan penuh makna menghubungkan jarak, merajut kasih sayang, dan menghadirkan ketenangan. Pertanyaannya, sampai kapan perjalanan penuh rindu ini harus terus dibayangi risiko, tanpa perubahan yang benar-benar menyelamatkan?