Atasi Masalah Mudik yang Rumit dengan Islam


Ilustrasi Pinterest
Oleh Nining Sarimanah 
Aktivis Muslimah 


MediaMuslim.my.id, Opini_ Mudik ke kampung halaman sudah menjadi tradisi tahunan menjelang perayaan Idulftri. Bagaimana tidak, bagi perantau mudik menjadi agenda yang selalu dinantikan. Berkumpul bersama keluarga melepas rindu dan bersilaturahmi dengan saudara merupakan kebahagiaan tersendiri. Sayangnya, tradisi yang sudah berlangsung lama ini selalu diwarnai dengan kemacetan panjang dan kecelakaan lalu lintas yang memprihatinkan.

Sebagaimana yang terjadi di Jalur Selatan Nagreg, lebih dari 190 ribu kendaraan melintas menyebabkan kemacetan terjadi di sejumlah titik terutama, di kawasan Cicalengka dengan antrean kendaraan yang mengular hingga lima kilometer. (Metrotvnews.com, 19/3/2026)

Tak hanya kemacetan parah, kecelakaan maut terjadi di tol Pejagan-Pemalang KM 290 jalur B antara bus dengan mobil LCGC Toyota Calya. Kecelakaan terjadi di jalur yang saat itu digunakan untuk one way arah Pemalang. Empat orang penumpang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka. (Kumparan.com, 19/3/2026)

Selama ini upaya pemerintah untuk mengatasi masalah mudik sudah dilakukan, tetapi masih bersifat teknis seperti rekayasa lalu lintas one way, menghimbau kepada pemudik untuk mengecek kendaraan sebelum menempuh perjalanan jauh, beristirahat jika kelelahan, menyiagakan pos pelayanan kesehatan di sepanjang jalur mudik, dan sebagainya. 

Menelisik Akar Masalah

Jika melihat banyaknya masalah mudik dan antisipasi pemerintah di atas, sebenarnya tidak mencukupi dan bisa dikatakan mitigasi pemerintah kurang berjalan dengan baik dan optimal. Ini tampak dari tidak adanya upaya perbaikan sarana prasarana yang ada juga pengaturan teknis ketika terjadi antrean di beberapa titik, dan lainnya.

Padahal, layanan kelancaran lalu lintas saat mudik menjadi tanggung jawab negara sebagai pengurus rakyat. Ketidaksigapan pemerintah dalam mitigasi arus mudik, sayangnya tidak menjadi perhatian masyarakat. Masyarakat hanya fokus pada mudik sehingga adanya kelalaian negara dalam layanan mudik dimaklumi. Masyarakat memandang kemacetan dan segala hambatannya adalah risiko yang wajar dan harus diterima, meskipun nyawa menjadi taruhannya. 

Karena itu dibutuhkan solusi menyeluruh agar pemudik tidak lagi dihadapkan pada persoalan kemacetan bahkan menghantarkan pada kecelakaan yang berulang tiap tahunnya.

Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan mudik terletak pada minimnya pelayanan transportasi massal yang murah dan nyaman, sehingga jumlah kendaraan melampaui pertumbuhan panjang jalan. Minimnya pelayanan transportasi merupakan konsekuensi dari sistem kapitalisme. 

Sistem ini menjadikan pemerintah menyerahkan pelayanan publik kepada perusahaan jasa angkutan mudik yang orientasinya bisnis alias mencari keuntungan. Wajar, untuk mendapatkan fasilitas umum dalam perjalanan mudik, pemudik harus merogok kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. 

Di sisi lain, pemerintah sendiri seakan-akan tidak bisa berbuat banyak. Alih-alih mengurai masalah mudik, pemerintah terkesan diam menyerahkan urusan tersebut diambil alih oleh pengusaha yang mempunyai kepentingan di dalamnya. Alhasil, meskipun pemerintah sudah membuat langkah-langkah penanganan, tetap saja pada akhirnya persoalan mudik tidak bisa dihindari. 

Islam Memberi Solusi

Persoalan mudik tidak akan kunjung usai, selama paradigma bisnis dalam sistem kapitalisme masih menjadi acuan dalam pelayanan kepada masyarakat. Hal ini berbeda dengan sistem Islam, pelayanan dalam pemerintahan Islam memastikan kebutuhan dasar terpenuhi termasuk sarana transportasi. Dengan prinsip ini, negara harus mewujudkan terpenuhinya kebutuhan transportasi yang murah, nyaman, berkualitas bagi semua warga negara. 

Kebutuhan tersebut bisa dipenuhi karena Islam memerintahkan penguasa menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Islam juga membebankan negara untuk mengurus dan menjaga masyarakat agar tetap aman. Dalam hal arus mudik, negara harus memiliki mekanisme terbaik untuk mencegah terjadinya bahaya. Hal itu bisa dilakukan dengan:
1. Menjamin transportasi umum yang nyaman, aman, murah, bahkan gratis.
2. Memastikan jalur lalu lintas dalam kondisi baik.
3. Menyediakan fasilitas umum sebagai tempat istirahat saat kelelahan dan pengecekan kesehatan bagi pemudik. 
4. Memberikan bantuan jika terjadi kecelakaan lalu lintas dan kehabisan bekal.
5. Memiliki sistem pengaturan lalu lintas yang memudahkan pengendara.
6. Memberikan sanksi yang tegas bagi pengemudi ugal-ugalan, dan lainnya. 

Di samping itu, Islam memiliki sumber pemasukan yang beragam dan berlimpah seperti ganimah, fai, sumber daya alam, harta milik negara, dan sebagainya sehingga dapat memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk pelayanan publik seperti sarana transportasi. Karena itu, dalam Islam penguasa sangat memahami bahwa pemimpin adalah amanah yang sangat berat yang akan dimintai pertanggungjawaban pada yaumulakhir. Rasulullah saw. bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya..." (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, tidak ada solusi terbaik selain Islam dijadikan sistem kehidupan untuk mengatasi setiap masalah, termasuk persoalan mudik.


Wallahualam bissawab