MediaMuslim.my.id, Opini_ Alhamdulillah, Allah masih memberi kita umur untuk berjumpa dengan Ramadan 1447 H. Namun izinkan kita bertanya lebih jujur: mengapa sebagian orang begitu merindukannya, sementara sebagian lain biasa saja?
Manusia merindu karena ia merasa butuh. Saat lapar, ia butuh makan. Saat haus, ia butuh minum. Saat sedih, ia butuh penghiburan. Maka Ramadan hadir untuk siapa? Ia hadir bagi jiwa yang ingin dibersihkan dari dosa, bagi hati yang ingin merasakan kembali manisnya ibadah, bagi hamba yang ingin berbagi kebahagiaan agar dibahagiakan Allah pada Yaumul Akhir. Ramadan juga hadir bagi mereka yang ingin taat secara total, menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya tanpa setengah-setengah, tanpa memilih-milih.
Karena itu, rindu kepada Ramadan tidak mungkin tumbuh jika kita belum mengenal Allah. Bagaimana mungkin merindukan bulan yang Allah muliakan, jika kita belum memahami siapa Dia? Apa saja nikmat yang Dia karuniakan sejak kita belum meminta? Bagaimana aturan-aturan-Nya sesungguhnya adalah cara Allah menjaga dan menuntun kita menuju keselamatan?
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (TQS al-Baqarah: 183)
Ramadan adalah proyek takwa. Ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah pembentukan kepribadian bertakwa. Jika seseorang merasa dirinya lemah, sering lalai, jauh dari khusyuk, maka ia akan menyadari: aku membutuhkan Ramadan.
Generasi terdahulu memahami ini. Ibnu Rajab al-Hanbali menukil bahwa mereka berdoa enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, dan enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima. Mereka sadar, Ramadan bukan rutinitas; ia adalah peluang kehidupan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi; dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu…” (HR Ahmad dan an-Nasa’i)
Siapa yang memahami kabar ini dengan akal jernih, tentu akan menantinya dengan hati bergetar. Bahkan beliau juga bersabda:
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya.” (HR Al-Bukhari)
Ramadan adalah bulan yang Allah nisbatkan kepada Diri-Nya. Maka kerinduan sejatinya adalah kerinduan untuk lebih dekat dengan-Nya.
Namun takwa yang dituju bukan takwa sesaat. Allah menegaskan:
“Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (TQS Ali ‘Imran: 102)
Inilah takwa paripurna. Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menjelaskan: takwa adalah takut kepada Allah Yang Mahaagung, mengamalkan wahyu yang diturunkan, merasa cukup dengan yang sedikit, dan bersiap untuk hari kepulangan. Takwa adalah kesadaran, amal, sikap hidup, dan orientasi akhirat sekaligus.
Karena itu Allah memerintahkan:
“Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (TQS al-Baqarah: 208)
Ramadan melatih kita menuju Islam yang kaffah, taat dalam ibadah, jujur dalam muamalah, adil dalam sikap, dan konsisten dalam perjuangan. Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan meninggalkan dusta, menahan kezaliman, menjauhi kemaksiatan, serta menguatkan keberpihakan pada kebenaran dan keadilan.
Maka jika ingin merindukan Ramadan, mulailah dengan ilmu. Kenali Allah. Renungkan nikmat-Nya. Pahami bahwa setiap hukum yang Dia turunkan adalah bentuk kasih sayang dan penjagaan. Namun kasih sayang itu tidak hadir secara sepotong-sepotong. Ia terwujud dalam keutuhan syariat-Nya. Ketika kita menerima seluruh aturan-Nya dengan tunduk dan percaya, di situlah penjagaan dan rahmat-Nya bekerja sempurna dalam hidup kita. Sering kali kita menerima yang terasa ringan, tetapi ragu pada yang terasa berat, padahal rahmat itu justru utuh ketika diterima secara penuh.
Karena itu Allah mengingatkan:
“Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?” (TQS al-Baqarah: 85)
Dari pengenalan itu lahir cinta. Dari cinta tumbuh kebutuhan. Dari kebutuhan mengalir rindu.
Semoga Ramadan kali ini bukan sekadar kita jalani, tetapi kita sambut dengan kesadaran penuh: bahwa ia adalah madrasah menuju takwa paripurna, takwa yang mengantarkan kita masuk ke dalam Islam secara kaffah, hingga Allah memanggil kita dalam keadaan rida dan diridai.
و الله اعلم بالصواب

Social Plugin