Darurat Banjir dan Longsor Berlanjut, Harapan Rakyat Hanyut

Ilustrasi Pinterest
By : Ummu Al Faruq 


MediaMuslim.my.id, Opini_ Hujan deras yang mengguyur wilayah lereng Pegunungan Muria sejak Jumat malam hingga Sabtu (10/1/2026) memicu banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Bencana tersebut berdampak pada lima kecamatan, menyebabkan ribuan rumah terendam dan sejumlah infrastruktur rusak.

Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Jember sejak Rabu (28/1) sore mengakibatkan banjir genangan di belasan lokasi serta musibah tanah longsor.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat total ada 18 titik kejadian yang tersebar di wilayah kota dan sekitarnya.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem mulai terjadi sekitar pukul 15.30 WIB. Curah hujan yang tinggi memicu luapan air yang merendam kawasan padat penduduk dan area institusi pendidikan.

Berdasarkan data hingga pukul 20.45 WIB, Kecamatan Sumbersari menjadi wilayah terdampak paling parah, terutama di kawasan kampus.

Menanggapi situasi ini, BPBD Jember telah melipatgandakan personel di lapangan untuk mempercepat penanganan darurat dan evakuasi.

Petugas BPBD dan relawan tetap bersiaga di lokasi untuk memantau perkembangan situasi serta memastikan keamanan warga yang terdampak genangan. 

Kapitalisme biang kerok kerusakan

Jika kita mau berpikir lebih dalam, bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di ratusan daerah dari berbagai provinsi hanya dalam satu bulan merupakan peringatan keras bagi kita semua. Kerusakan alam dan lingkungan yang diakibatkan oleh ulah tangan-tangan jahil dan rakus manusia semakin nyata. Alam tidak lagi mampu menyembunyikan kerusakannya dan “memuntahkannya” melalui banjir dan tanah longsor.

Kondisi ini tidak terlepas dari peran dan tanggung jawab pemerintah sebagai pemimpin dan pemangku kebijakan, termasuk kebijakan dalam tata kelola alam dan tata kelola ruang hidup yang sangat buruk. Akibatnya, terjadi kerusakan alam dan lingkungan yang pada akhirnya mendatangkan bencana tanpa henti.

Paradigma kapitalisme yang diterapkan di negeri ini menjadi biang kerok yang merusak sendi-sendi kehidupan dan menghanyutkan harapan rakyat akan kehidupan yang sejahtera dan aman. Sistem ini berdiri di atas asas keuntungan yang zalim, dijalankan oleh para penguasa dan pemilik modal dalam bisnis kekuasaan mereka, tanpa memandang halal dan haram dalam setiap interaksi. Dalam sistem kapitalis, kebijakan-kebijakannya mencampakkan hukum Allah dan lebih memilih hukum buatan manusia yang sarat dengan kerakusan dan kezaliman, sehingga mampu menghancurkan negeri dan peradaban yang ditopang olehnya.

Bumi ini adalah ciptaan Allah. Oleh karena itu, sungai, bukit, lembah, hutan, tambang, serta seluruh sumber daya alam lainnya juga diciptakan Allah untuk kemaslahatan hajat hidup orang banyak, bukan untuk dikuasai oleh segelintir orang yang justru mendatangkan kerusakan tanpa akhir.

Khilafah solusi tuntas

Dalam Islam, setiap kebijakan pengelolaan alam yang melanggar syariat akan mendatangkan bencana sebagai teguran atas kerusakan yang dilakukan manusia, agar mereka kembali bertobat kepada Allah, sebagaimana tertuang dalam Surah Ar-Rum ayat 41.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, sudah seharusnya kita berpikir untuk kembali kepada hukum Allah. Paradigma kapitalisme sekuler dalam pengelolaan alam dan tata ruang hidup harus diganti dengan paradigma syariat Islam agar kehidupan Islam yang rahmatan lil ‘alamin benar-benar terwujud dalam sistem Khilafah ala minahjil nubuwah.

Wallahu a‘lam bishshawab.[]