Ramadan Disambut dengan Kenaikan Harga Pangan.

Ilustrasi Ruslan
Oleh Zahrul Hayati


MediaMuslim.my.id, Opini_ Marhaban ya Ramadan.
Mari berbenah menyambut Ramadan.

Tidak ada bulan yang keutamaannya melebihi keutamaan Ramadan. Ramadan sering disebut 'rajanya bulan'. Ramadan penuh keagungan, kemuliaan dan keberkahan. Didalam nya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Didalamnya Allah Swt pun melipat gandakan pahala atas setiap amal kebaikan.
Pantas rasanya setiap Mukmin bergembira menyambut kedatangan Ramadan. Apalagi Ramadan datang cuma setahun sekali. Inilah yang menjadikan kaum Muslim selalu antusias saat Ramadan datang kembali.
Namun, kebahagian ini tercederai dengan rasa gundah masyarakat karena harga pangan membumbung tinggi hampir tidak terjangkau.

Menjelang Ramadan harga komoditas pangan seperti telur, cabai rawit, daging, beras, gula pasir, dan bawang, di berbagai kota di Indonesia terus merangkak naik. Di pasar tradisional kota Bandung misalnya, harga cabai rawit merah yang sebelumnya Rp 40.000 melonjak menjadi Rp 80.000. Telur ayam dijual Rp 32.000 perkilo, naik signifikan yang sebelumnya Rp 28.000.

Kenaikan serupa juga terjadi di Sukoharjo, Magetan, Bangka Belitung, dan lain-lain. Harga bawang merah biasanya Rp 35.000 naik menjadi Rp 50.000. Demikian juga bawang putih yang sebelumnya Rp 35.000 menjadi Rp 45.000. Baik pedagang maupun konsumen mengeluhkan kenaikan harga yang terus berulang ditengah kondisi ekonomi yang berat.

Kenaikan harga pangan sudah menjadi tradisi dan terus berulang. Naiknya harga pangan menjelang Ramadan sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya. Kondisi terasa jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kenaikan harga pangan sering terjadi menjelang bulan Ramadan padahal sembako adalah kebutuhan pokok mendasar bagi masyarakat. Pertanyaannya mengapa fenomena kenaikan harga terus berulang dan dimana peran negara?

Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari prinsip dalam sistem ekonomi yang memandang bahwa agar mekanisme pasar bisa terwujud, peran negara dalam sistem kapitalisme dibatasi hanya sekedar regulator dan pengawas, bukan sebagai pengurus urusan rakyat. Negara mencukupkan dengan solusi populis seperti operasi pasar murah serta imbauan stabilitas stok dan harga sebagai peredam gejolak keresahan masyarakat.

Sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang menjadi asas sistem kapitalisme. Yang mana sistem ini secara nyata menolak pengaturan agama dalam kehidupan, bidang sosial seperti ekonomi, pendidikan, pergaulan, kesehatan dan politik. Selain itu kapitalisme sistem yang tidak memanusiakan manusia, pasalnya dalam sistem ini segala kebijakan hanya bertumpu pada pemilik modal (kapital) yang merupakan segolongan pembisnis yang berdiri di belakang penguasa. Karenanya Muslim yang masih memegang erat sekularisme merekalah benar-benar gagal mengikuti akademi Ramadan, yang berakhir dengan kesia-siaan. Mirisnya hal yang demikian terus berulang setiap tahunnya. Apakah Ramadan hanya sebagai skorsing ketaatan sementara baik untuk individu, masyarakat dan negara?. Padahal Ramadan hadir bukan tanpa maksud melainkan Allah menginginkan setiap Muslim untuk bermuhasabah diri. Terlebih negara dan para penguasa yang cukup lama mengabaikan, mencampakkan hukum-hukum Allah.


Islam Mengatur Ketersediaan dan Pendistribusian Pangan.

Pengelolaan pendistribusian dalam sistem Islam berbeda dengan pengelolaan dalam kapitalisme. Daulah (negara) memiliki tanggungjawab untuk mengatur ketersediaan pangan dan pendistribusian yang merata kepada seluruh rakyat. Tujuannya agar mereka bisa mendapatkan kebutuhan-kebutuhan nya dengan harga yang terjangkau. Daulah akan memastikan tidak ada penimbunan, kecurangan dan permainan harga.  

Sistem ekonomi Islam memiliki pengaturan yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan dengan harga murah dan mudah diakses.
Daulah akan mendukung para petani dalam mendistribusikan hasil panennya. Disatu sisi, terdapat pula hukum yang tegas dan membuat jera para pelaku yang berbuat curang. Walhasil, tidak ada yang berani memonopoli komoditas pangan. Inilah bukti Daulah hadir mengawasi rantai perdagangan.

Rasulullah Saw. bersabda, "Ya Allah, siapa saja yang mengurusi satu perkara umatku, lalu ia menyulitkan umat, maka persulitlah ia. Dan siapa yang mengurusi perkara umatku, lalu ia memudahkannya, maka permudahlah ia."
(HR. Muslim)

Ciri-ciri orang bertakwa banyak disampaikan ulama dari generasi Salaf saleh. Diantaranya yang dinyatakan oleh Al-Hasan, "Orang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni jujur, benar dalam berbicara, selalu memenuhi janji, rendah hati dan tidak sombong, senantiasa memelihara silaturahim, selalu menyayangi orang-orang lemah, miskin dan memelihara diri dari kaum wanita, berakhlak baik, memiliki ilmu yang luas, dan senantiasa bertakarub kepada Allah." (Ibn Abi ad-Dunya', Al-Hilm,1/32).


Meraih Takwa. 

 Apakah Ramadan tahun ini hanya sebagai skorsing ketaatan sementara baik untuk individu, masyarakat, dan negara?  Padahal Ramadan hadir bukan tanpa maksud, melainkan Allah menginginkan setiap Muslim untuk bermuhasabah diri. Terlebih negara dan para penguasa yang cukup lama 
mengabaikan, mencampakkan hukum-hukum Allah.

Tentu memprihatinkan jika masih ada Muslim yang mengabaikan shaum Ramadan tanpa uzur syar'i. Sungguh ia telah kehilangan kesempatan mendulang kebaikan besar. Ia justru malah tenggelam dalam kemaksiatan besar.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:

"Ketika aku sedang tidur, datanglah dua orang laki-laki kepadaku. Mereka lalu memegang kedua lenganku." Beliau pun melanjutkan hadist tersebut. Di dalamnya beliau berkata, "Kemudian keduanya membawaku. Tampaklah suatu kaum yang digantung pada tumit mereka. Terbelah sudut-sudut mulut mereka. Mulut mereka pun mengalirkan darah. Aku bertanya, 'Siapakah mereka ini?' Dijawab, 'Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa Ramadan sebelum waktunya halal bagi mereka untuk berbuka.'...."(HR an-Nasa'i).

Sungguh disayangkan jika ada Muslim yang tidak bersemangat dan bergembira menyambut Ramadan. Padahal Allah hanya meminta kita berpuasa dengan meninggalkan sejenak saja kenikmatan duniawi seperti makan, minum dan hubungan suami istri. Sebagai ganjarannya, Allah Swt akan mengangkat hamba-hamba-Nya ke derajat yang mulia, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Demikian sebagaimana firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS Al-Baqarah [2] :183).

Tidak ada manusia yang derajatnya lebih tinggi di hadapan Allah melainkan orang yang bertakwa. Takwa adalah menjalankan segenap perintah Allah Swt dan meninggalkan semua larangan -Nya. Mereka yang paling bertakwa dinyatakan oleh Allah Swt sebagai orang yang paling mulia disisi-Nya.

Konsekuensi keimanan ialah taat syari'at secara kaffah. Kita harus lebih meningkatkan energi untuk taat kepada syari'at dan mengamalkannya secara keseluruhan. Namun demikian semua itu tidak bisa terwujud secara individu atau masyarakat saja, melainkan umat membutuhkan peran negara, yakni khilafah.

Penguasa yang amanah memiliki keimanan yang kokoh sehingga memimpin Daulah Islamiyah dengan penuh ketakwaan dan mengharap rida Allah Subhanahu wa taala.
Rasulullah Saw. bersabda, "Imam/ Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya." (HR. Bukhari - Muslim)
Wallahu a'lam bisshowaab.