Perlindungan Islam terhadap Generasi


Ilustrasi Marie Louise Peeters
Oleh : Linda Maulidia, S.Si

MediaMuslim.my.id, Opini_ Untuk kesekian kalinya, kabar miris datang dari seorang anak negeri yang mengambil keputusan hidup terakhirnya dengan bunuh diri. Terungkap YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), gantung diri diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah. Semasa hidup, YBR tinggal bersama neneknya di pondok kecil nan reot. (detik.com, 4/2/2026)

Peristiwa ini bukan yang pertama, telah banyak kasus-kasus serupa dan nampak semakin memprihatinkan. Secara umum, fakta Kasus bunuh diri di Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, dengan ratusan kasus tercatat setiap bulannya. Menurut data Pusiknas Bareskrim Polri, sebanyak 1.270 kasus bunuh diri ditangani kepolisian sejak Januari hingga November 2025. Profesi petani, karyawan swasta, dan wiraswasta mendominasi, sementara remaja (di bawah 17 tahun) menyumbang 7,66 persen dari total kasus. 

Pada 2024, KPAI mencatat ada 43 peristiwa anak bunuh diri dengan rentan usia 13-17 tahun. Di tahun berikutnya ada 27 kasus dengan rentan usia 11 – 18 tahun. Sehingga dalam periode 2023-2025 ada sebanyak 116 anak bunuh diri. (Tempo.co, 15/2/2026)

Saatnya untuk menyadari bahwa problem darurat kesehatan mental bukan fakta yang patut diremehkan atau diabaikan. Kondisi generasi yang lemah mental, mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah atau jalan pelarian, tentu mengancam nasib generas dan menghambat proses pembangunan negeri akibat minimnya generasi penerus yang kuat mental.

Melansir laman Detik (12-10-2023), pakar psikologi Universitas Airlangga Atika Dian Ariana menjelaskan bahwa terdapat penyebab biologis dan psikologis atau mental yang melatarbelakangi seseorang melakukan bunuh diri. Secara biologis, orang tersebut mungkin memiliki keluhan fisik yang membuatnya merasa tidak berdaya, misalnya seperti masalah jantung dan hormonal. Sedangkan secara psikologis, korban mungkin memiliki kerentanan untuk merasa tidak berarti dalam kehidupan.

Problem mental dan kerapuhan jiwa ini tentu bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah buah dari sistem pendidikan sekuler yang menekankan pencapaian akademik dan prestasi fisik semata, namun mengabaikan pembentukan kepribadian dan spiritualitas. Agama diajarkan sebatas teori, tanpa membentuk kesadaran mendalam yang mampu menjadi benteng saat anak menghadapi tekanan hidup.

Tekanan hidup yang dihasilkan oleh sistem kapitalisme, seperti ketimpangan ekonomi, perceraian orang tua, tuntutan gaya hidup, hingga paparan media sosial yang menormalisasi bunuh diri, semuanya menjadi faktor non-klinis yang memperparah kondisi mental anak.

Solusi Islam

Membangun generasi berkualitas tentu tidak bisa instan. Dibutuhkan faktor-faktor pendukung yang sistemis dan berkelanjutan serta dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Pertama, membangun pondasi dasar iman, yakni penanaman akidah Islam sejak dini. Setiap anak, dipahamkan kesadarannya sebagai hamba Allah Swt, terbangun ketaatan dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Maka hal ini tentu peran terdepan adalah peran orang tua yang berkewajiban mendidik dan mengasuh sesuai tuntunan Islam.

Kedua, peran lembaga pendidikan yang berbasiskan akidah Islam, hingga tertanam dalam jiwa anak akan kesadaran adanya Allah Swt, memunculkan rasa takut dan ketaatan, senantiasa menyandarkan segala perbuatan sesuai pemahaman Islam. Setiap kurikulum dan bahan ajar senantiasa diwarnai oleh ruh Islam, hingga terhujam dalam jiwanya akidah Islam, terwujud sikap dan pola pikir yang benar sesuai Islam.

Ketiga, memastikan para ibu menjalankan kewajibannya dengan baik. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kaum ibu dalam sistem Islam (Khilafah) akan diberdayakan sebagai ibu generasi peradaban, bukan mesin ekonomi seperti halnya dalam sistem kapitalisme yang malah menghadapkan para ibu pada persoalan ekonomi dan kesejahteraan. 

Keempat, negara akan menetapkan beragam kebijakan yang menjamin terwujudnya generasi harapan umat. Diantaranya melalui pengelolaan ekonomi sesuai konsep Islam, hingga mampu menyediakan berbagai fasilitas dan penunjang. Mulai dari fasilitas fisik sekolah, jaminan kesejahteraan guru, dan fasilitas lain yang dibutuhkan. Kestabilan sistem ekonomi juga akan memudahkan bagi tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan di rumah dan anak-anak. Negara akan menetapkan kebijakan ekonomi yang mampu menyerap banyak tenaga kerja dari kalangan laki-laki. Alhasil, peran ayah dan ibu dalam keluarga dapat berjalan seimbang seiring pemenuhan kebutuhan pokok yang dijamin negara.

Demikianlah penerapan atutan Islam secara menyeluruh akan membentuk individu yang kokoh imannya dan bertakwa. Masyarakatnya juga terbiasa beramar makruf nahi mungkar, dan negara menjalankan peran mengurusi rakyat dengan penuh amanah, maka masalah bunuh diri tidak akan terulang, karena setiap individu muslim dapat memahami hakikat dan jati dirinya sebagai hamba dengan menjadikan Islam sebagai the way of life.  Wallahua'lam