Islam Melindungi Generasi

Ilustrasi Imaginaryrealsmdigitalart.com
Oleh : nayrs._ dan Mawaddah Sopie 


MediaMuslim.my.id, Opini_ Dunia gempar. Saat tersebar berita seorang anak sekolah dasar meninggal hanya karena tidak mampu membeli buku. Peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar yang diduga berkaitan dengan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan belajar adalah tamparan keras bagi  kita bersama. Ini bukan sekadar kisah duka satu keluarga, melainkan cermin kegagalan sistemik dunia pendidikan, dalam memenuhi hak rakyat soal pendidikan. Seharusnya negara  memastikan bahwa setiap anak memiliki rasa aman, dihargai, dan didukung untuk belajar tanpa rasa takut atau malu dalam menuntut ilmu. Tidak seharusnya alat tulis menjadi sumber tekanan bagi seorang anak. Ketika kebutuhan pendidikan dasar saja terasa memberatkan, itu menandakan adanya jurang besar antara kebijakan dan realitas di lapangan. 

Dalam hal ini, anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk memahami kompleksitas masalah ekonomi yang mereka rasakan hanyalah beban, perasaan berbeda, dan kesunyian ketika tidak ada ruang aman untuk bercerita.

Korban dari sistem ini adalah siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berinisial YBR ( usia 10 th). Anak kecil itu   tewas gantung diri dikarenakan orang tuanya tak mampu untuk membelikan buku tulis dan pulpen.

Sebelum tragedi ini terjadi, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah sebesar Rp 1,2 juta. Padahal anak SD tersebut bersekolah di SD negeri. YBR dipungut uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun. 

Karena sistemnya boleh menyicil, menurut Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Pemberdayaan, Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMDP3A) Ngada, Veronika Milo, seharusnya uang tersebut tidak dihitung tunggakan. Apalagi ibu korban sudah berusaha menyicilnya 500 ribu rupiah. (detik.com (5/2/2026). 

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menanggapi kasus anak Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) gantung diri. YBS sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen. Namun, ibunya tak dapat memberi kan uang karena sang ibu pada saat itu tidak memiliki uang.

Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf, menilai kasus tersebut menjadi perhatian Kementerian Sosial. Pihaknya bersama pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan untuk kelompok yang tidak mampu, agar kejadian seperti ini  tidak akan terjadi lagi. (liputan6.com (3/2/2026).

Adanya kasus ini, tidak lain karena efek sistem kapitalis sekuler dimana  dunia pendidikan hanya dijadikan lahan bisnis semata. Tanpa mengindahksn aturan Alloh SWT. Padahal jelas bahwa dalam kacamata aturan Islam. Pendidikan adalah hak warga negara dan kewajiban negara untuk mewujudkannya. 

Peristiwa ini menyadarkan kita  bahwa masih ada banyak  anak-anak yang belum mendapatkan keadilan dalam dunia  pendidikan. Kebutuhan sederhana seperti buku dan pulpen seharusnya tidak menjadi beban yang menekan kondisi mental seorang anak. Hal ini menandakan kurangnya kepedulian dan pengawasan dari lingkungan sekitar terhadap siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, sehingga sekolah, masyarakat, dan pemerintah perlu lebih peka serta memastikan setiap anak merasa aman, diperhatikan, dan didukung dalam proses belajar. Tanggung Jawab Negara itu berat. Dan  bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya.

Hadis Nabi Muhammad SAW: 

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam hal ini Negara, Sekolah, dan masyarakat wajib memastikan tidak ada anak yang terabaikan karena kemiskinan.

Kesimpulan dari  dalil  tersebut menegaskan bahwa peristiwa seperti ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan kegagalan kolektif dalam melindungi hak anak. Pendidikan yang layak, bantuan yang merata, dan kepedulian sosial adalah kewajiban moral dan agama yang tidak boleh diabaikan.

Tanggung Jawab Negara menurut prinsip kemaslahatan
dalam Islam, pemimpin wajib memastikan kesejahteraan rakyat, terutama kebutuhan dasar.

Adapun solusi yang Islam tawarkan adalah
Menjamin pendidikan  gratis dan inklusif bagi masyarakat. Harus ada  pengawasan juga dari negara untuk memastikan  tidak adanya  anak yang putus sekolah karena kemiskinan. Selain itu harus ada sinergi dan kolaborasi yang intens antara  negara dengan lembaga keagamaan dan sosial.

Solusi yang tepat benar - benar bisa berjalan. Jika aturan Islam tegak di dunia ini. Wallohualam bissowab.