Perang Sarung, Perilaku Generasi Gagal Dibendung


Ilustrasi Instagram HumasPemdaKepri
Oleh Septa Anitawati, S.I.P.
Founder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah



MediaMuslim.my.id, Opini_ Laman radarkarawang.id pada tanggal 23 Februari 2026 memberitakan bahwa akhir-akhir ini, marak tawuran di Bulan Ramadan. Terbaru, enam remaja diamankan aparat kepolisian saat hendak terlibat aksi perang sarung di wilayah Desa Pinayungan, Kecamatan Telukjambe Timur, Sabtu (21/2) dini hari.

‎‎Mereka diamankan sekitar pukul 02.30 WIB. Ketika petugas Polsek Telukjambe Timur bersama Tim Dalmas Polres Karawang melaksanakan patroli rutin saat tawuran para pelajar, hingga harus diamankan oleh petugas Polsek Telukjambe Timur bersama Tim Dalmas Polres Karawang. 

Ironisnya, petugas menemukan enam kain sarung yang telah dimodifikasi dan diduga akan digunakan sebagai alat untuk tawuran. Empat unit sepeda motor turut diamankan sebagai barang bukti. 

Sementara di sisi lain, Dinas Pendidikan Jawa Barat memastikan pembinaan siswa SMA dan SMK yang bermasalah, di barak militer tetap berlanjut untuk membentuk para pelajar yang berkarakter dan berakhlak mulia.

Analisis Fakta Tawuran Pelajar

Jika ditelisik fakta tersebut, terdapat tiga analisis. 
Pertama, fenomena perang sarung di bulan ramadhan hanyalah satu dari sekian bentuk kenakalan remaja muslim saat ini. Perilaku pelajar kian beragam. Semakin menggila. Terjadi di berbagai aspek kehidupan. Bahkan makin sulit diatasi.

Kedua, output hasil pendidikan sistem sekularisme yang dianut dalam lembaga pendidikan di negeri ini. Menjadikan generasi kian krisis kepribadian dan identitas sebagai seorang muslim. Hingga berperilaku yang sangat jauh dari seharusnya pemuda muslim.

Ketiga, solusi tidaklah cukup dengan pembinaan di barak  militer, tapi harus perombakan menyeluruh pada sistem yang diterapkan di negeri ini. Terbukti, pembinaan di barak tak mengubah kepribadian pelajar menjadi muslim sejati. 

Konstruksi Solutif

Bagaimana menyolusi masalah tersebut? Setidaknya ada tiga hal berikut. 
Pertama, menjelaskan jalan penyelesaian yang menyolusi bukan parsial dan tambal sulam. Yakni dengan revolusioner melalui perubahan keimanan dan ketaqwaan. Baik ketaqwaan individu, masyarakat maupun negara. Sehingga terjadi perubahan secara menyeluruh, dalam semua aspek kehidupan. 

Kedua, mengganti sistem pendidikan dengan kurikulum berbasis akidah. Yang memiliki kemampuan membentuk generasi cerdas dan berakhlak. Membentuk pelajar yang berkepribadian Islam. Pribadi yang takut melakukan berbagai kemaksiatan. 

Negara tidak boleh abai apalagi diam. Karena generasi adalah masa depan dan tonggak suatu peradaban yang di tangan merekalah akan dibangun suatu bangsa. 

Ketiga, diperlukan penegakan hukum Islam. Baik lembaga maupun aparat yang dapat menjaga masyarakat dan generasi muda dari perilaku merusak dan tindakan anarkis. Penegakan hukum ini untuk tindakan pencegahan maupun pengobatan. Yaitu dengan pemberlakuan hukuman dengan sanksi peradilan. Sehingga terjadi efek jera bagi pelaku maupun yang belum melakukan. 

Harapannya, dengan solusi tersebut, generasi Khoiru Ummah segera terwujud. Seperti firman Alloh Swt. dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 110.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. 
Wallahu a'lam bishawab.