Keracunan MBG Berulang : Potret Negara Tunduk pada Kepentingan Bisnis

 

Sumber Ilustrasi : iStock.

Oleh: Ade Surya Ramayani

MediaMuslim.my.id, OPINI - Kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan lagi insiden sporadis, melainkan pola kegagalan yang berulang. Dalam periode 1–13 Januari 2026, sedikitnya 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan MBG, dan hingga akhir Januari, jumlah korban terus bertambah.


Fakta ini membongkar satu realita pahit: negara gagal menjamin keselamatan dan gizi generasi. Program yang diklaim sebagai solusi stunting justru berubah menjadi ancaman kesehatan massal. Ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan indikasi lemahnya standar keamanan pangan, pengawasan yang longgar, dan tata kelola yang serampangan.


Ironisnya, di tengah korban yang berjatuhan, anggaran MBG justru melonjak drastis. Bukannya berbanding lurus dengan kualitas dan keamanan, pembengkakan anggaran ini malah menimbulkan gugatan dan kecurigaan publik. Ketika dana besar tidak menghasilkan jaminan gizi dan keselamatan, patut diduga bahwa program ini lebih berfungsi sebagai ladang proyek daripada instrumen kesejahteraan.


MBG akhirnya tampak seperti etalase kebijakan populis: ramai di pencitraan, rapuh dalam substansi. Distribusi makanan dijadikan ukuran keberhasilan, sementara kualitas, keamanan, dan keberlanjutan diabaikan.


Kapitalisme dan Bisnis di Balik Program Gizi

Masalah mendasarnya bukan semata pada pelaksanaan MBG, melainkan pada sistem kapitalisme yang menjadi fondasi kebijakan negara. Dalam sistem ini, negara tidak berperan sebagai pengurus rakyat, melainkan sebagai manajer proyek yang memberi ruang luas bagi kepentingan bisnis.


Logika kapitalisme menempatkan efisiensi biaya, keuntungan, dan tender sebagai prioritas. Akibatnya, penyedia makanan ditekan untuk menekan ongkos produksi, sering kali dengan mengorbankan kualitas bahan, kebersihan, dan standar keamanan. Makanan bergizi berubah menjadi komoditas murah yang diproduksi massal, bukan asupan sehat yang dirancang demi keselamatan anak-anak.


Kapitalisme juga melahirkan kemiskinan struktural. Daya beli rakyat rendah, harga pangan bergizi mahal, dan akses tidak merata. Namun alih-alih memperbaiki akar masalah ini—melalui jaminan pekerjaan dan distribusi kekayaan—negara justru memilih jalan pintas berupa bantuan makanan. Inilah ciri khas kebijakan kapitalistik: tambal sulam, reaktif, dan berumur pendek.


Lebih parah lagi, MBG mengaburkan fakta bahwa masalah gizi bukan soal “tidak ada makanan”, tetapi ketidakmampuan rakyat membeli makanan bergizi secara layak dan berkelanjutan. Selama sistem ekonomi menumpuk kekayaan pada segelintir pihak dan menyerahkan pangan pada mekanisme pasar, maka krisis gizi akan terus berulang—dengan atau tanpa MBG.


Pertanyaan Reflektif: Negara untuk Rakyat atau untuk Bisnis?

·       Jika program bergizi berulang kali menyebabkan keracunan, siapa yang sebenarnya dilindungi negara?

·       Jika anggaran besar tidak menjamin keselamatan anak-anak, ke mana uang rakyat mengalir?

·       Dan jika kebijakan gizi terus gagal, mengapa sistem yang melahirkannya tetap dipertahankan


Pertanyaan-pertanyaan ini menelanjangi fakta bahwa dalam sistem kapitalisme, kepentingan bisnis kerap lebih diutamakan daripada keselamatan rakyat. Negara kehilangan peran sebagai pelindung, dan rakyat diposisikan sekadar objek program—bahkan objek risiko.


Islam sebagai Solusi Sistemik dan Fundamental

Islam menawarkan paradigma yang bertolak belakang dengan kapitalisme. Dalam Islam, negara adalah raa’in wa junnah—pengurus dan pelindung rakyat. Negara tidak boleh tunduk pada kepentingan korporasi, apalagi mengorbankan keselamatan generasi demi efisiensi anggaran atau keuntungan bisnis.


Dalam sistem Islam kaffah, pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu—termasuk pangan dan gizi—adalah kewajiban negara. Negara memastikan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan dan upah layak, sehingga pemenuhan gizi tidak bergantung pada bantuan temporer, tetapi pada kemampuan ekonomi yang stabil.


Distribusi pangan diatur agar merata, berkualitas, dan terjangkau, bukan diserahkan pada pasar bebas. Negara mengawasi produksi hingga distribusi secara ketat, menjadikan keselamatan rakyat sebagai prioritas utama, bukan margin keuntungan.


Selain itu, Islam mewajibkan negara menyediakan layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara gratis dan berkualitas, sehingga pencegahan gizi buruk dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.


Keracunan MBG yang berulang seharusnya menyadarkan kita bahwa masalah gizi tidak akan selesai dalam sistem yang menjadikan bisnis sebagai orientasi kebijakan. Hanya dengan penerapan Islam secara kaffah, negara benar-benar hadir sebagai pelindung, bukan sekadar penyelenggara proyek.


Editor : Vindy Maramis