Ilustrasi Mushrooms
Oleh Ummu Bisyarah
(Pegiat Literasi)
MediaMuslim.my.id, Opini_ Dunia kembali diguncang oleh laporan yang menggambarkan sisi paling tragis dari konflik panjang antara Israel dan Gaza. Investigasi media internasional menemukan bahwa serangan udara terbaru di Gaza tidak hanya merenggut nyawa, tetapi dalam banyak kasus memusnahkan tubuh korban tanpa sisa yang dapat dikenali. Laporan tersebut menggambarkan adegan yang lebih mirip dengan fiksi horor daripada kenyataan dunia modern. Korban yang seakan “menguap” di lokasi serangan (aljazeera.com 10/02).
Laporan investigasi oleh jaringan berita internasional menyatakan bahwa ribuan warga Palestina telah lenyap tanpa jejak setelah serangan, hanya menyisakan noda darah atau fragmen kecil di lokasi. Tim medis dan badan pertahanan sipil Gaza mencatat bahwa ribuan warga tidak lagi ditemukan jenazahnya setelah serangan yang diduga menggunakan senjata termobarik (fajar.co.id 13/02).
Senjata termobarik, yang sering disebut “bom vakum”, bekerja dengan menyebarkan aerosol bahan bakar ke atmosfer sebelum dinyalakan, menciptakan gelombang tekanan tinggi dan suhu ekstrem yang menghancurkan ruang tertutup hingga ratusan meter. Dalam beberapa laporan, suhu dan tekanan ini dikatakan cukup untuk melenyapkan materi organik, termasuk tubuh manusia, dalam hitungan detik (detik.com 13/02).
Saksi mata dan pakar yang diwawancarai menggambarkan bagaimana strategi ini bisa menghapus korban secara total, bukan sekadar membunuh, tetapi menghilangkan hampir semua bukti bahwa manusia pernah berada di sana. Seorang analis forensik di Gaza menggambarkan dua korban yang hilang seluruhnya, tanpa tubuh yang bisa diidentifikasi, hanya sisa darah yang samar (thecanary.co 13/02).
Fakta-fakta ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang moralitas penggunaan senjata semacam itu, bukan hanya dari sudut hukum internasional, tetapi juga dari nilai kemanusiaan dan agama. Dalam Islam, nyawa manusia memiliki martabat yang tak tergantikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa siapa yang membunuh satu jiwa yang tidak bersalah seakan-akan telah membunuh seluruh umabahkant manusia (QS al-Mā’idah: 32). Prinsip ini menegaskan bahwa hak hidup bukan sekadar konsep, ia adalah fondasi etika yang harus dijaga.
Islam tidak pernah memuliakan perang; ketika konflik tak terelakkan, ada aturan moral yang tegas. Nabi Muhammad SAW melarang pembunuhan terhadap perempuan, anak-anak, orang tua, serta melarang perusakan harta yang tidak terkait perang. Ajaran ini menunjukkan bahwa konflik yang adil bukan sekadar urusan strategi, tetapi juga tentang menjaga martabat sesama manusia.
Ketika teknologi perang semakin maju, sampai pada titik di mana sebuah ledakan mampu menghapus keberadaan manusia total. Kita harus kembali bertanya, apakah teknologi ini masih dalam batas moral kemanusiaan? Atau justru telah menjadi perangkat yang mengikis nurani dan memperlebar jurang penderitaan? Peradaban yang memuliakan kemanusiaan tak bisa diam ketika senjata-senjata yang menghasilkan penderitaan ekstrem digunakan di tengah permukiman warga sipil.
Organisasi internasional dan pakar hukum perang telah memperingatkan bahwa senjata yang tak mampu membedakan antara kombatan dan warga sipil berpotensi melanggar hukum humaniter internasional. Prinsip proporsionalitas dan perlindungan non-kombatan bukan sekadar jargon, tetapi penjaga batas moral dalam konflik bersenjata (aaj.tv 13/02).
Namun di luar ranah hukum, apa yang terjadi di Gaza adalah tragedi kemanusiaan. Bayangkan seorang ibu yang kehilangan anaknya tanpa jasad yang bisa ia kuburkan. Bayangkan keluarga yang hanya menyimpan kenangan tanpa makam, tanpa kesempatan untuk berduka secara layak. Inilah yang terjadi ketika nyawa manusia diubah menjadi statistik atau angka di laporan media.
Dari perspektif Islam, setiap nyawa adalah amanah. Kekerasan terhadap yang tak bersalah adalah noda sejarah yang tak mudah dilupakan. Menyuarakan keadilan berarti berpihak pada martabat manusia tidak dilihat dari identitas, kebangsaan, atau latar belakang. Ini adalah panggilan fitrah, panggilan untuk mempertahankan nilai kemanusiaan di atas segala perbedaan.
Peluru dan bom tidak hanya menghancurkan tubuh, tetapi juga memecah kepercayaan kita terhadap sistem global yang kita bangun. Ketika dunia menyaksikan penderitaan tanpa akuntabilitas yang jelas, kepercayaan terhadap prinsip universal ikut terkikis. Senjata yang melenyapkan tubuh manusia, tetapi tidak menghapus luka batin yang ditinggalkan, menjadi simbol kehancuran nurani.
Sistem global saat inijelas terbukti tidak layak untuk menjadi gaya aturan kita hari ini. Dunia yang didominasi sistem kapitalisme terbukti telah gagal dalam melindungi nyawa manusia karena paradigma mereka tak memandang nyawa manusia lebih berharga dibanding keuntungan materi yang di dapat oleh segelintir oligarki. Sudah saatnya kita mengganti sistem global kita dengan menerapkan sistem baru, yakni sistem Islam. Wallahu alam bissawab.
Social Plugin