![]() |
| Sumber Ilustri : iStock |
Oleh: Nazli Agustina Nst, S.Pd.I
MediaMuslim.my.id, OPINI - Arogansi entitas zionis Israel kembali mencuat ke permukaan tanpa tabir penutup. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, secara terbuka mengklaim bahwa seluruh wilayah administratif di Tepi Barat—baik Area A, B, maupun C—adalah “milik Israel”. Tidak sekadar melontarkan retorika politik, Ben-Gvir bahkan mengancam akan membubarkan Otoritas Palestina dan mendesak pengusiran massal warga Palestina demi memperluas kontrol penuh atas wilayah tersebut.
Pernyataan ini menegaskan bahwa ambisi kolonial rezim zionis tidak pernah surut. Di balik meja perundingan damai yang selama ini diagungkan dunia internasional, tersimpan niat busuk untuk merampas seluruh tanah Palestina dan mewujudkan proyek ekspansionis "Israel Raya".
Kebohongan Bernama "Solusi Dua Negara"
Berdasarkan Kesepakatan Oslo II tahun 1995, Tepi Barat dibagi menjadi tiga zona administratif: Area A di bawah kendali penuh Palestina, Area B di bawah kendali sipil Palestina dan keamanan Israel, serta Area C—yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat—di bawah kendali penuh Israel. Namun, dengan klaim terbaru dari Ben-Gvir, pembagian administratif tersebut secara sepihak diabaikan. Bagi rezim zionis, seluruh tanah Palestina adalah hak mutlak mereka.
Fakta ini menelanjangi kebohongan besar dari konsep “Solusi Dua Negara” yang selama ini digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat, negara-negara sekutu Barat, serta diamini oleh para penguasa negeri Muslim. Solusi dua negara terbukti hanyalah ilusi penenang tidur yang diciptakan untuk melanggengkan penjajahan, memberikan waktu bagi zionis mencaplok tanah secara sistematis, dan meredam perlawanan hakiki rakyat Palestina.
Genosida dan Pengkhianatan Nyata
Apa yang disaksikan dunia hari ini di Palestina bukanlah sekadar konflik perbatasan, melainkan genosida sistematis, penghancuran total Jalur Gaza, perampasan tanah dan pemukiman di Tepi Barat, pembakaran puluhan masjid, hingga penodaan rutin terhadap Kompleks Masjid Al-Aqsa. Ini adalah kejahatan kemanusiaan dan kejahatan akidah yang sangat besar terhadap Islam dan umat Islam.
Ironisnya, di tengah derita darah dan air mata rakyat Palestina, para pemimpin negeri-negeri Arab justru menunjukkan gestur pengkhianatan yang nyata. Sebagian penguasa Muslim tetap membuka ruang diplomasi, sibuk merajut normalisasi, dan dengan santai duduk berpangku tangan atau bahkan tersenyum bersalaman dengan para penjahat perang. Pertemuan-pertemuan bilateral ini merupakan tikaman dari belakang bagi perjuangan pembebasan Palestina.
Jalan Keluar Hakiki: Persatuan Umat dan Komando Khalifah
Sejarah membuktikan bahwa entitas zionis tidak mengenal bahasa diplomasi ataupun resolusi Dewan Keamanan PBB. Mereka adalah penjajah brutal yang hanya mengerti satu bahasa : kekuatan. Kejahatan zionis tidak akan pernah selesai dengan ilusi solusi dua negara, melainkan wajib diperangi melalui jalan jihad fi sabilillah.
Namun, jihad melawan zionis Israel tidak akan pernah bisa sempurna di bawah naungan dunia Islam yang terpecah-belah menjadi puluhan negara bangsa (nation-states) sekuler. Kekuatan militer negeri-negeri Muslim saat ini terkunci di dalam barak akibat cengkeraman para penguasa komprador yang setia pada aturan main Barat.
Jihad yang agung ini hanya akan sampai pada puncaknya jika ada persatuan utuh umat Islam global di bawah satu kepemimpinan politik dan militer yang agung yakni : Khilafah Islamiyah. Hanya dengan komando seorang Khalifah, seluruh potensi kekuatan, logistik, dan tentara kaum Muslimin dapat disatukan untuk menggerakkan barisan jihad, merontokkan cengkeraman zionis, dan membebaskan tanah Palestina secara total.
Perjuangan menegakkan kembali sistem kepemimpinan Islam global ini bukan lagi sekadar pilihan teoretis, melainkan sebuah keniscayaan politik dan kewajiban syariat yang mendesak. Tanpa itu, Palestina akan terus merintih dalam genosida, dan umat Islam akan terus tertindas di negeri sendiri.
Wallahu a’lam.
Editor : Vindy Maramis
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.

Social Plugin