Mudahnya Lisan Menghujat, Meminta Maaf Jadi Andalan

 

Ilustrasi: pencela (pinterest)

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban


MediaMuslim.my.id—Dua pegawai SPPG di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, mengejek korban keracunan makanan MBG saat melakukan siaran langsung di media sosial. Video mereka viral, tak berapa lama mereka kemudian menyampaikan permintaan maaf. Kepala Regional BGN Sumut Yoga Arizanto membenarkan video tersebut, sekaligus menyatakan mereka berdua telah dipecat. 


Dalam surat pemecatannya disebutkan penyebabnya karena mereka dinilai telah menunjukkan sikap yang kurang pantas dan mencoreng nama baik SPPG. Keduanya diberhentikan per tanggal 30 September 2026 dari SPPG Galang Barat 2, Kabupaten Deli Serdang tempat sebelumnya mereka dipekerjakan. 


Kasus lain, oknum polisi yang terekam menjulurkan lidah ke arah pendemo saat aksi Hari Tani Nasional di depan kantor gubernur Bengkulu kini dikenai tindakan disiplin dan ditempatkan di ruang khusus atau Patsus. Kabid Humas Polda Bengkulu, Kombes Pol Imam Wijayanto menyebut tindakan disiplin ini menjadi bagian dari evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang (Polda Bengkulu, 29-9-2026). Pola yang sama selalu berulang, berkata kasar, merendahkan, mengejek, dan seterusnya, lalu minta maaf, dengan ekspresi sedih bukan kapok. Dan lenyap bak ditelan bumi, tak ada sanksi apapun. 


Kapitalisme Hilangkan Adab Kepada Sesama


Tak muluk-muluk kiranya ketika dikatakan hari ini banyak orang kehilangan adab. Hanya karena kebebasan berpendapat dijamin. Namun, karena asas sistem hari ini, yaitu Kapitalisme, adalah sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan, telah terjadi kebebasan yang salah kaprah. Ditambah dengan kemajuan teknologi, bermedia sosial semudah makan kacang goreng. Apapun bisa diviralkan, FYP jadi target tak peduli konten yang dibuat bermuatan positip atau negatif. 


Bermunculan pula akun-akun yang sangat tidak bermanfaat, perselingkuhan, aib keluarga, joged di depan non mahram, tabaruj dan menghina manusia lain, secara verbal video maupun tulisan. Dan bisa ditebak, para pelakunya akan segera meminta maaf kemudian selesai. Sungguh miris, di negeri dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam namun tak memanusiakan manusia jadi tontonan. Padahal Rasûlullâh Saw. suri teladan terbaik bagi umat manusia mengatakan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).


Kapitalisme memberikan kekuasaan kepada manusia padahal hanya makhluk, maka yang terjadi adalah pertentangan, permusuhan dan saling dendam. Hubungan antar manusia pun seolah hukum rimba, siapa kuat dia kuasa. Tak ada kasih sayang, yang ada mode bertahan hidup ala binatang tak berakal. Rutinitas inilah yang menekan setiap orang untuk memenuhi standar hidup ala manusia, lupa bahwa hidup bukan sekadar hidup. Melainkan ada tujuan mulia mengapa Tuhan menciptakan manusia di dunia. Yaitu menjadi hamba Allah. 


Masyarakat Islam Jauh Lebih Beradab


Syekh Taqiyuddin an-Nhabani dalam kitabnya “ Nizamul Islam “ menjelaskan bahwa masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi satu sama lain serta memiliki kesatuan pemikiran (afkar), perasaan (masya’ir), dan aturan (nizham). Oleh karena itu kebangkitan berfikir sehingga menjadi produktif adalah ketika masyarakat tersebut memiliki landasan yang sahih ketika berpikir, memiliki perasaan ( rasa marah dan ridanya) dan peraturan. 


Kapitalisme yang asasnya sekuler samasekali tidak bisa disebut masyarakat yang bangkit atau tinggi pemikirannya, karena bukan halal haram yang jadi tolok ukur perbuatannya. Demikian juga akidahnya menjadi pilihan masing-masing individu. Itulah sebabnya, setiap perilaku buruk tak ada sanksi yang berarti. Mencoreng nama baik seseorang, menuduh yang buruk dan lainnya hanya semata kebebasan berbicara, bukan konsekwensi akidah yang jika melanggar ada hukumannya. 


Maka, dalam sistim negara Islam atau Khilafah yang menerapkan syariat Islam kâfah, akan ada jaminan terhadap tujuh tujuan pokok (maqashid syariah), yaitu penjagaan agama, penjagaan akal, penjagaan jiwa, penjagaan harta, penjagaan keturunan, penjagaan kehormatan, penjagaan keamanan, dan penjagaan negara) pun tidak akan mampu diwujudkan.


Kemuliaan setiap individu rakyat akan terjaga, pun jika ia bukan muslim namun menjadi warga Daulah Khilafah. Ada sanksi hukum yang tegas yang akan menghentikan setiap hinaan atau kata-kata yang tak pantas diucapkan. Hanya Islam yang mampu mewujudkannya. Allah SWT. berfirman yang artinya, "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."(TQS Al-Hujurat:13). Wallahualam bissawab.