Oleh : Nazli Agustina Nst, S.PdI
MediaMuslim.my.id, OPINI - Dunia teknologi kembali diguncang oleh peringatan serius dari para peneliti dan tokoh terkemuka kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), termasuk ilmuwan yang dijuluki sebagai "Bapak AI" dunia. Mereka mendesak pemerintah global untuk bersiap menghadapi potensi "ledakan kecerdasan" (intelligence explosion). Di satu sisi, AI menjanjikan lompatan peradaban yang luar biasa, seperti revolusi di bidang medis, efisiensi finansial, dan kemudahan operasional lainnya. Namun, di balik itu, ledakan kecerdasan menyimpan risiko eksistensial yang menganga : mulai dari ancaman biologis dan siber yang mematikan, potensi hilangnya kendali manusia atas mesin, hingga pemicu perang antarnegara yang destruktif.
Analisis: Dua Mata Pedang Bernama Teknologi
Perkembangan AI sekali lagi membuktikan watak dasarnya sebagai teknologi : ia adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memberikan kemudahan luar biasa bagi hajat hidup manusia; namun di sisi lain, ia menyimpan potensi bahaya laten yang mematikan. Realitas ini menegaskan bahwa penggunaan AI sangat bergantung pada siapa yang memegang kendali dan untuk apa ia diarahkan.
AI bisa digunakan untuk kebaikan, tetapi sangat niscaya pula dieksploitasi untuk kejahatan, dominasi hegemonik, dan perusakan massal. Ketika sebuah sistem super cerdas (superintelligence) lepas dari kendali nilai-nilai moral yang baku, pertumbuhan eksponensialnya bukan lagi membawa kemajuan, melainkan beralih menjadi ancaman nyata bagi kepunahan peradaban. Ledakan kecerdasan buatan tanpa kendali akidah dan syariat Islam terbukti berisiko tinggi menyeret umat manusia menuju jurang kehancuran total.
Konstruksi Pandangan Islam
Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan anugerah akal mulia agar mampu memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya serta menjalankan amanah agung sebagai khalifatullah fil ardh (khalifah di bumi). Akal manusia dirancang untuk berpikir, meneliti, dan melahirkan karya, namun bukan untuk bertindak melampaui batas ketundukan kepada Sang Pencipta.
Islam memandang bahwa segala bentuk hasil pemikiran manusia—termasuk teknologi canggih seperti AI—harus ditimbang melalui hukum syara'. Dalam khazanah pemikiran Islam, produk pemikiran manusia diklasifikasikan ke dalam ranah madaniyah (perkembangan materi/teknologi yang sifatnya netral lintas peradaban) dan hadarah (pemikiran yang terikat dan dipengaruhi oleh ideologi tertentu).
AI secara wujud fisik adalah buah dari perkembangan teknologi buatan manusia (madaniyah). Namun, dalam operasional, algoritma, dan tujuannya, AI sangat dipengaruhi oleh berbagai informasi, paradigma, dan ideologi yang diproses di dalamnya. Data yang dimasukkan, nilai yang ditanamkan, serta orientasi pembuatnyalah yang akan menentukan arah keputusan AI.
Oleh karena itu, keberadaan AI di tangan manusia yang memiliki akidah kokoh serta ketundukan mutlak pada syariat Islam akan mendatangkan maslahat yang besar bagi kemanusiaan. Sebaliknya, jika AI berada di tangan peradaban sekuler atau manusia yang mengingkari aturan Tuhannya, teknologi ini justru menjelma menjadi alat penjajahan baru, ancaman biologis, dan sumber kerusakan moral yang masif.
Mengingat kompleksitas dan potensi destruktif dari teknologi modern ini, sistem kehidupan manusia—termasuk tata kelola sains, teknologi, dan negara—tidak boleh diserahkan pada hawa nafsu atau liberalisme berpikir semata. Seluruh tatanan ini wajib diatur dan dikendalikan dengan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh).
Hanya dengan naungan akidah yang lurus dan hukum syariat yang adil, manusia dapat selamat dari petaka buatan tangan mereka sendiri, menjadikan teknologi sebagai pelayan peradaban, bukan algojo yang menghancurkannya. Dan satu-satunya sistem yang memiliki mekanisme penjagaan atas akal manusia dan seluruh tatanan peradaban yang sesuai dengan fitrah manusia hanyalah sistem Islam dalam naungan institusi Khilafah Islamiyah.
Editor : Vindy Maramis
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.

Social Plugin