Maulid 1449 H: Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi Muhammad SAW

Sumber Ilustrasi : iStock/REIMUSS


Oleh : Nazli Agustina, S.Pd.I

MediaMuslim.my.id, OPINISetiap tahun, umat Islam memperingati hari kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad Saw dengan penuh sukacita. Berbagai acara mulai dari pembacaan selawat, tabligh akbar, hingga pawai obor digelar di berbagai penjuru negeri. Namun, sangat disayangkan substansi dari peringatan besar ini kerap kali berhenti pada aspek ritual dan emosional semata. Pembahasan mengenai ittiba’ (mengikuti) Nabi Saw pada momentum Maulid masih dibatasi pada keteladanan akhlak pribadi, namun belum menyentuh kesadaran politik untuk mengubah sistem jahiliyah—yang menuhankan dunia dan hawa nafsu—menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan secara totalitas hanya kepada Allah SWT. Walaupun tuntutan perubahan ke arah Islam telah muncul di tengah umat, arah dan metode perjuangannya masih sangat jauh dari metode perjuangan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Penyempitan makna ini membuat Maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan sentimental tanpa konsekuensi ideologis. Padahal, cinta yang sejati kepada Rasulullah Saw harus melahirkan keterikatan mutlak pada risalah dan metode perjuangan yang beliau bawa. Hari ini, umat seolah kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik di negeri-negeri Muslim. Sistem demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme telah nyata-nyata menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Umat Islam saat ini secara formal dipimpin di bawah sistem demokrasi yang dipaksakan, sedangkan secara faktual seluruh sektor kehidupan perekonomiannya dikendalikan oleh sistem ekonomi kapitalis. Ini adalah bencana pemikiran terbesar yang sedang menimpa umat Islam. Sistem kapitalis sekuler ini, demi mempertahankan eksistensinya, akan terus menggunakan segala cara dan sarana menyesatkan untuk menghalangi dan membungkam suara kebangkitan umat yang menuntut perubahan sistem secara mendasar.

Oleh karena itu, momentum Maulid harus digunakan untuk mengembalikan makna ittiba’ yang hakiki, yaitu keterikatan penuh pada syariat dan metode perjuangan Nabi Saw bukan sekadar seremonial ritual (sebagaimana pesan dalam QS. Ali Imran: 31). Penerapan sistem kapitalisme-sekuler yang merusak di negeri-negeri Muslim saat ini mewajibkan setiap Muslim untuk memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah melalui institusi kepemimpinan Islam (Khilafah). Di sinilah pentingnya peran para pengemban dakwah untuk secara konsisten mengungkap kebobrokan asas-asas kapitalisme, menghancurkannya secara pemikiran, dan menyodorkan solusi Islam murni yang bersumber dari akidah Islam, bukan sekadar mencari kecocokan dengan zaman. Upaya melanjutkan kembali kehidupan Islam melalui tegaknya Khilafah ar-Rasyidah ini adalah satu-satunya jalan membebaskan umat dari dominasi asing.

Metode perjuangan ini wajib mencontoh persis manhaj dakwah Rasulullah Saw di Makkah yang ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah):

  1. Tahap Tatsqif (Pembinaan): Membina akidah dan kesadaran ideologis individu-individu agar memiliki kepribadian Islam yang tangguh.
  2. Tahap Tafa'ul ma'al Ummah (Berinteraksi dengan Umat): Mengajak masyarakat secara luas dan melakukan pergolakan pemikiran untuk meruntuhkan ide-ide kufur serta membangun opini umum yang berpihak pada syariat Islam.
  3. Tahap Istilamul Hukmi (Penerimaan Kekuasaan): Penyerahan kekuasaan secara damai dari pemilik kekuatan (tholabun nusroh) untuk menerapkan hukum Islam secara praktis. 

Dengan konsisten mengikuti metode perjuangan Rasulullah SAW inilah kehidupan Islam akan tegak kembali di muka bumi. Melalui penerapan syariat Islam secara menyeluruh di bawah naungan Khilafah, Islam akan kembali hadir memancarkan keadilan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran:

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya : 107)

Wallahua'lam.


Editor : Vindy Maramis


Disclaimer:

Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.