Ketika Takwa Melahirkan Keberanian untuk Menasehati


Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah

MediaMuslim.my.id, Opini — Takut kepada Allah, bukan takut kepada manusia.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS Fathir [35]: 28)

Pernahkah kita berpikir:
Jika seseorang benar-benar takut kepada Allah, apakah ia akan takut dikritik manusia?

Mungkin justru sebaliknya.
Ia takut salah. Karena itu, ia ingin diingatkan.
Ia takut amanahnya disia-siakan. Karena itu, ia membuka ruang untuk dikoreksi.

Sikap seperti ini menarik untuk kita renungkan ketika mencermati pernyataan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, 19 September 2026.

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Kiai Hasan menyinggung fenomena cari muka hingga cari jabatan. Beliau juga menyampaikan prinsip kesederhanaan pimpinan pesantren: jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumah pimpinan jauh melebihi apa yang dimiliki para santri, dirinya boleh diprotes, dikritik, bahkan didemo.

Kalimat itu tampak sederhana.
Namun di dalamnya ada prinsip kepemimpinan yang dalam:

Pemimpin bukan orang yang harus selalu dibenarkan. Pemimpin adalah orang yang harus siap mempertanggungjawabkan amanahnya.

 Kalau Saya Salah, Luruskan Saya

Teladan seperti ini telah ditunjukkan Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
Saat menerima amanah sebagai khalifah, beliau berkata:
“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat buruk, luruskanlah aku.”

Bayangkan. Seorang pemimpin yang baru saja menerima kekuasaan justru meminta rakyatnya:

“Kalau saya salah, luruskan saya.”
Bukan, "Jangan pertanyakan keputusan saya.”
Bukan, "Saya lebih tahu.”

Tetapi:
“Luruskan saya.”
Di sinilah kekuatan seorang pemimpin.
Bukan karena ia tidak pernah salah. Bukan pula karena tidak ada yang berani mengkritiknya.
Tetapi karena ia memiliki kerendahan hati untuk menerima kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu datang dari orang yang dipimpinnya.

 Kritik Bukan Musuh

Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah.

Allah SWT berfirman:

*إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا*

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS an-Nisa’ [4]: 58)

Karena pemimpin adalah manusia, ia mungkin keliru. Maka Islam tidak mengajarkan budaya yang membuat pemimpin kebal terhadap nasihat.

Rasulullah saw. bersabda:

*افْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ*

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.”
(HR Ahmad)

Namun, kritik bukan berarti menghina. Nasihat bukan berarti mencaci. Keberanian bukan berarti kehilangan adab. Ada perbedaan antara kritik yang lahir dari kepedulian dan *serangan yang lahir dari kebencian.

Yang pertama ingin memperbaiki. Yang kedua hanya ingin menjatuhkan.
Ketika Ilmu Melahirkan Keberanian. Sejarah Islam memperlihatkan bahwa ulama tidak selalu memilih jalan yang nyaman ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Hasan al-Bashri rahimahullah dikenal berani menyampaikan kebenaran di tengah kekuasaan Hajjaj bin Yusuf. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah juga dikenal kritis terhadap penggunaan harta kaum Muslim yang menurutnya tidak semestinya.

Mereka bukan berani karena tidak takut.
Mereka berani karena rasa takut kepada Allah lebih besar daripada rasa takut kehilangan kedudukan. Inilah salah satu makna penting QS Fathir [35]: 28.

Ilmu seharusnya tidak hanya membuat seseorang pandai berbicara. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Allah dan semakin berani menjaga kebenaran. Karena itu, ulama memiliki amanah untuk menasihati. Penguasa memiliki amanah untuk mendengar.
Keduanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

 Tapi, Bagaimana dengan Kita?

Tulisan ini mudah diarahkan menjadi kritik kepada penguasa. Padahal pertanyaannya lebih dekat kepada diri kita:

Bagaimana dengan kita? Ketika menjadi pemimpin, apakah kita masih mau dikritik?
Ketika menjadi guru, apakah kita masih mau dikoreksi Ketika menjadi orang tua, apakah kita masih mau mendengar anak? Ketika merasa berilmu, apakah kita masih mampu berkata, “Mungkin aku keliru”? Dan ketika mengkritik orang lain, apakah kita benar-benar ingin memperbaiki—atau hanya ingin merasa lebih benar?

Kita sering mengatakan:
Pemimpin harus mau dikritik. Tetapi jangan lupa: orang yang mengkritik juga harus siap dikritik.

Kita ingin ulama berani mengatakan kebenaran. Namun, apakah kita siap mendengarnya ketika kebenaran itu tidak sesuai dengan keinginan kita?

Kita ingin pemimpin rendah hati. Namun, apakah kita juga rendah hati ketika ternyata kita yang salah? Barangkali inilah budaya yang perlu kita bangun:

Pemimpin yang tidak alergi terhadap nasihat.
Ulama yang tidak takut kehilangan kedudukan.
Masyarakat yang berani menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan adab. Sebab amanah tidak dijaga dengan pujian. Amanah dijaga dengan kebenaran.

Dan pada akhirnya, yang paling perlu kita takuti bukanlah kritik manusia. Melainkan saat di hadapan Allah nanti, kita tidak memiliki alasan untuk menjawab mengapa amanah yang dititipkan kepada kita telah kita sia-siakan.

Maka: Takutlah kepada Allah.
Beranilah mengatakan yang benar.
Rendah hatilah menerima nasihat.

Karena tidak ada seorang pun yang terlalu tinggi untuk diingatkan. Dan tidak ada seorang pun yang terlalu kecil untuk menyampaikan kebenaran. Wallahu a’lam bi ash-shawab.