Jika Allah Sudah Mengatur, Mengapa Kita Masih Mencari?

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah

MediaMuslim.my.id, Opini — Desil berapa kita?
Pertanyaan ini kini semakin akrab di tengah masyarakat. Pemerintah menggunakan desil untuk memetakan tingkat kesejahteraan dan menjadi salah satu dasar penentuan berbagai bantuan sosial.

Data tentu penting. Namun persoalan muncul ketika angka tidak sesuai dengan kenyataan hidup manusia. Ada warga yang merasa hidupnya serba kekurangan tetapi masuk kelompok kesejahteraan yang lebih tinggi. Sebaliknya, ada pula yang berkecukupan tetapi tercatat dalam kelompok bawah.

Ketika data menjadi dasar bantuan, kesalahan klasifikasi bukan sekadar persoalan angka. Ia menyangkut kehidupan manusia.

 Ketika Angka Berbeda dengan Realita

BPS menggunakan garis kemiskinan nasional, sedangkan Bank Dunia menggunakan garis internasional untuk membandingkan kondisi antarnegara.

Namun ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apakah manusia yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi sejahtera hanya karena statistik menempatkannya pada kelompok tertentu?

Seorang pekerja informal mungkin tercatat sebagai orang bekerja, tetapi penghasilannya belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebab di balik angka ada manusia. Ada ayah yang memikirkan nafkah.
Ada ibu yang menghitung uang belanja.
Ada anak yang memiliki cita-cita tetapi terbentur biaya.
Maka angka seharusnya menjadi alat untuk membaca realitas, bukan menggantikan realitas.

 Islam Memandang Manusia

Islam tidak menjadikan kemiskinan sekadar persoalan statistik.

Dalam pemikiran ekonomi Islam, kemiskinan berkaitan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan pokok: pangan, sandang dan papan.

Orang yang mampu bekerja wajib menafkahi dirinya dan keluarganya. Jika tidak mampu, kerabat bertanggung jawab. Ketika semua itu tidak mampu, *Islam memberikan amanah kepada penguasa untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.*

Allah SWT berfirman:

> *وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada mereka dengan cara yang makruf.”
(QS al-Baqarah [2]: 233)

Rasulullah ﷺ bersabda:

> *وَمَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيْنَا

“Siapa saja yang meninggalkan orang yang lemah, maka mereka menjadi tanggungan kami.”
(HR al-Bukhari)

Jadi Islam tidak hanya berbicara tentang kepedulian kepada orang miskin. Islam membangun tanggung jawab.
Lalu apa yang masih kita cari?
Jika Allah yang menciptakan manusia, bukankah Allah paling mengetahui apa yang dibutuhkan manusia?

Allah berfirman:

> *الَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ*

“Tidakkah Dia yang menciptakan itu mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”
(QS al-Mulk [67]: 14)

Allah telah memberikan aturan.

Allah mengatur kepemilikan, nafkah, zakat, waris, harta milik umum, serta melarang riba, penipuan dan kecurangan.

> *كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ*

“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.”
(QS al-Hasyr [59]: 7)

Maka persoalannya bukan karena manusia tidak memiliki petunjuk. Persoalannya: apakah kita mau tunduk kepada petunjuk itu?

Kita ingin kesejahteraan, tetapi mencari formula sendiri.
Kita ingin keadilan, tetapi menentukan ukurannya sendiri. Kita ingin kehidupan yang berkah, tetapi aturan kehidupan justru dipisahkan dari aturan Allah.

Padahal Allah telah berfirman:

> *وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا*

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
(QS Thaha [20]: 124)

Maka mungkin persoalannya bukan kita kekurangan cara untuk mencari kesejahteraan.

Kita membutuhkan keberanian untuk kembali kepada aturan Allah. Karena Islam tidak sekadar mengajarkan bagaimana menjadi kaya. Islam mengajarkan bagaimana manusia hidup sesuai kehendak Penciptanya.

Bukan sekadar agar manusia memiliki lebih banyak, tetapi agar manusia hidup mulia, kebutuhan pokoknya terjamin, hartanya berkah, dan seluruh kehidupannya bernilai ibadah.

Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Sistem apa yang paling mampu membuat manusia sejahtera?”

Tetapi:

“Jika Allah sudah memberikan aturan kehidupan, mengapa kita masih mencari aturan lain?”

Barangkali inilah panggilan fitrah yang sering kita abaikan:
Allah sudah menciptakan kita.
Allah sudah mengetahui kebutuhan kita.
Allah sudah menunjukkan jalan.

Yang tersisa adalah satu pilihan:
Maukah kita kembali hidup dengan aturan-Nya?
Sebab yang kita cari bukan sekadar kesejahteraan.
Yang kita cari adalah kehidupan yang Allah berkahi.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Nadisah Khairiyah