Ekonomi Sirkular, Wajah Baru Kapitalisme?

 

Ilustrasi: Circular Economy (LSProIGS)

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban


MediaMuslim.my.id, Opini—Baru-baru ini, Luna Maya, aktris sekaligus Co‑Founder TS Media, sebuah perusahaan pemasaran terpadu, media, dan hiburan (integrated marketing, media, and entertainment company) di Indonesia, menginvestasikan penghasilannya di startup pengelolaan sampah Waste4Change dan aktif berbicara tentang pentingnya peran individu dalam mengatasi masalah lingkungan (Katadata, 16-9-2026). 


Waste4Change adalah perusahaan startup yang memberikan layanan pengelolaan sampah dari rumah pelanggan hingga proses daur ulang, perusahaan ini mendapatkan pendanaan dari Agaeti Ventures, East Ventures, dan SMDV, sebuah perusahaan pengumpul modal yang dikelola oleh investor dan pengusaha kaya berpengalaman. Awalnya Luna sebagai pengguna layanan, dan mantab berinvestasi sejak Februari 2023 karena ingin memastikan pengelolaan sampah di rumahnya dilakukan secara optimal.


Luna mengatakan, upaya menghadapi persoalan lingkungan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memahami penyebab persoalan tersebut dan mengambil peran sesuai kemampuannya. Masyarakat perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi terhadap perubahan. Bentuknya tidak harus selalu sama, tetapi dapat dimulai dari tindakan yang berada dalam kendali masing-masing.


Kapitalisasi Sampah: Ekonomi Sirkular


Ada gula ada semut, “in this economy” sampah jadi bahasan seksi, salah satunya muncul istilah ekonomi sirkular , yaitu model atau sistem ekonomi yang bertujuan menjaga nilai produk, material, dan sumber daya selama mungkin untuk meminimalkan limbah. Prinsip utamanya 3R (Reduce, Reuse, Recycle)/ 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin). 


Ekonomi sirkular jelas beda dengan ekonomi konvensional, yang masih mengambil pola “ambil–pakai–buang” (take, make, dispose) yang menghasilkan banyak sampah. Ekonomi sirkular memutar kembali aliran material ke dalam rantai produksi agar tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia. Sekilas nampak bagus, karena berkelanjutan dan sangat efisien. Jika kita amati, isu ini sudah mendunia, bahkan berbagai pihak tak segan menjadi donatur proyeknya. Apalagi dikaitkan dengan upaya global mengatasi perubahan iklim ekstrem dan pengalaman ekonomi hijau ( green economy). 


Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan ekonomi sirkulasi ini sesuai dengan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) dan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan 12 yaitu Kebijakan nasional pengendalian perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup. Itulah mengapa Indonesia gerak cepat meratifikaI proyek global ini sebagai proyek nasional unggulan (kemenlh). 


Namun jika semua proyek sempurna ini ada dalam sistem kapitalisme, kita perlu menelaah lagi lebih mendalam, benarkan demi perbaikan lingkungan dan manusia secara berkelanjutan ataukah ada bisnis to bisnis dengan menjadikan sampah sebagai komoditas? 


Agustus lalu, Pemda Sidoarjo, Jawa Timur meraih penghargaan Terbaik II kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Jawa dan Bali. Ajang kompetesi ini diikuti oleh 33 provinsi di Indonesia, atas capaian tersebut, Kabupaten Sidoarjo berhak mendapatkan apresiasi sebesar Rp1,5 miliar (DLHKSidoarjo, 29-8-2026). 


Lanjutan dari apresiasi itu, Kabupaten Sidoarjo menjadi pilot projek pelaksanaan Proyek InCircular di Jawa Timur. Program strategis ini, digulirkan untuk mendukung Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045, bersama empat daerah lainnya yaitu Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Probolinggo.


Proyek InCircular diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ GmbH) dan Pemprov Jawa Timur dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Jerman melalui BMZ (Bundesministerium für wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung) yaitu Kementerian Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan milik pemerintah Jerman yang fokus pada pengarahan strategis. 


Peran GIZ lebih kepada mengarahkan strategi bantuan luar negeri serta kerja sama pembangunan Jerman untuk negara-negara berkembang, memberantas kemiskinan, kelaparan, dan peningkatan kesejahteraan global. Lebih lanjut, mendukung negara-negara berkembang transisi ekonomi hijau, energi terbarukan, perlindungan lingkungan, ketahanan pangan, serta hak asasi manusia (republikjatim, 16-9-2026).


Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mendukung upaya kerjasama ini, mengingat volume timbulan sampah di Jatim saat ini mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun, dengan tingkat pengelolaan optimal yang baru menyentuh angka 25 persen. Melalui ekonomi sirkular ia berharap bisa mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang. 


Kapitalisme memang tak kurang ide untuk menjadikan sesuatu bernilai ekonomi, kali ini yang menjadi isu seksi adalah sampah. Sepanjang bisa menghasilkan uang, pasar dan pengaruh global maka akan diupayakan langkah-langkah strategis untuk meraihnya. Sidoarjo boleh berbangga menjadi pilot projek proyek bergengsi ini, namun kita tetap harus waspada, karena setiap proyek selalu ada imbasnya, tak ada makan siang gratis. Karena meski tidak ada pengeluaran samasekali dari APBN atau APBD, Jerman sejatinya hanya mencari panggung. Kemajuan teknologi yang ia usung ke Indonesia tak lebih sekadar upayanya meraih kepemimpinan global menjadi negara yang konsisten mengelola green economy. 


Sementara Indonesia, dalam hal ini Sidoarjo adalah market strategis bagi proyek ini. Sebagai negara berkembang dengan populasi terbanyak kedua di dunia, tentu tingkat konsumsi tinggi, inilah yang menjadi obyek utama. Seolah negara berkembang ini adalah biang kerok sampah yang tak becus kelola sampah. Padahal, penghasil sampah terbesar adalah negara maju, termasuk pengguna bahan bakar fosil, hingga pelaku penggundulan hutan hingga tingkat oksigen di dunia berkurang berganti dengan karbon. Itu pun sudah ada proyeknya, jual beli karbon. Kerjasama ini hanya sampai 2029, kemudian berakhir. Apakah sampah benar-benar bisa terkelola dengan baik, apakah akan kembali menunggu investor lain untuk melanjutkan?


Masalah sampah tak benar-benar selesai. Sebab kita tak hanya bicara literasi dan budaya, tapi juga idiologi. Sepanjang kita masih percaya dan menerapkan ekonomi kapitalis, maka sepanjang itu pula, sampah menjadi komoditas, dan pemerintah hanya regulator kebijakan yang tak pernah benar-benar menyelesaikan sampah dari akar. 


Islam Selesaikan Sampah Secara Komprehensif


Hidup sehat adalah mutlak dalam Islam, sebab itu menjadi modal seorang muslim untuk beribadah. Maka, jaminan kesehatan ada di tangan negara, dalam hal ini Khilafah. Dimana sehat bukan semata fisik tapi juga lingkungan. Jaminan kesehatan negara tidak berhenti pada pembangunan fasilitas umum dan kesehatan secara gratis, tapi juga melakukan tata kelola perumahan, jalur resapan air, hingga kebersihan saluran air dan sampah. 


Pemukiman jauh dari daerah industri, demikian pula pembuangan sampah akhir tidak berdekatan dengan pemukiman. Hari ini persoalan utama pada SDM, infrastruktur dan teknologi, maka itu yang akan diambil alih negara. Dengan pembiayaan dari Baitulmal. Mekanisme pembiayaan yang tidak bertumpu pada pajak dan utang, melainkan dari hasil pengelolaan harta milik umum dan negara. 


Khilafah akan memberikan sanksi berupa takzir kepada siapa saja yang terbukti melanggar aturan sampah, misal buang sampah sembarangan. Juga menyediakan Qadi Hisbah atau petugas khusus yang berkeliling mengadakan pengawasan dan tindakan di tempat. Media sosial dan penerangan negara akan secara kontinyu mengedukasi rakyat agar berperilaku bersih dan tidak bergaya hidup konsumtif. Negara tidak butuh pencitraan bahkan kompetisi untuk mengadakan pelayanan bagi rakyatnya. Pendidikan pun akan diriayah secara total oleh negara agar tercetak para ahli yang bertakwa, yang siap menyumbangkan pikiran dan tenaga terbaik untuk negara.  Rasûlullâh Saw. bersabda, “Imam/Khalifah adalah penggembala (raa’in), dan dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.”(HR. Bukhari dan Muslim). Wallahualam bissawab.