Ilustrasi Pinterest
Oleh: Okta (Muslimah Indonesia)
MediaMuslim.my.id, Opini — Lagi dan lagi, masyarakat harus meluapkan kecewa terhadap kinerja pemerintah yang buruk melalui aksi menanam pohon pisang. Aksi ini merupakan bentuk protes warga yang suaranya tak didengar oleh pemangku kekuasaan.
Sejumlah warga Kampung Citaman, Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, melakukan aksi spontan dengan menanam pohon pisang di area proyek perbaikan Jalan Provinsi Pangkalan-Loji. Warga mengeluhkan proyek perbaikan jalan yang tak kunjung rampung meski sudah berjalan satu bulan. Proyek yang terbengkalai ini menghambat aktivitas sehari-hari masyarakat. Selain mempersulit akses, kondisi proyek juga menimbulkan debu pekat yang mengganggu kesehatan warga di sekitar lokasi (RadarKarawang, 7 September 2026).
Watak Negara Berpaham Kapitalisme
Aksi menanam pohon pisang sering kali menjadi jalan yang dipilih warga untuk menyuarakan kekecewaan atas kinerja pemerintah. Seharusnya, hal ini menjadi bahan evaluasi pemerintah setempat atas kebijakan yang diambil. Seperti halnya proyek pembangunan jalan yang molor ini, jika dibiarkan tentu menimbulkan dharar (bahaya) bagi masyarakat sekitar. Debu tebal di mana-mana, risiko kecelakaan, bahkan potensi jatuhnya korban jiwa adalah bentuk kezaliman. Inilah watak pemimpin berpaham kapitalisme, pembangunan hanya berorientasi pada keuntungan belaka bukan pada kebutuhan. Investasi digelontorkan secara jor-joran untuk proyek strategis tertentu, tetapi di sisi lain, infrastruktur dasar untuk rakyat justru dibiarkan lambat, bahkan mangkrak. Lantas, pembangunan masif yang sering diunggul-unggulkan pemerintah itu sebenarnya ditujukan untuk siapa?
Negara seharusnya menjadi pihak terdepan dalam melindungi dan menyediakan kebutuhan rakyat tanpa pandang bulu. Proyek pembangunan harus merata untuk seluruh lapisan masyarakat, bukan sekadar memuluskan kepentingan korporasi dalam mendistribusikan kepentingan-kepentingannya semata. Pemimpin negara sepatutnya bertindak sebagai pengurus (ra'in) bagi rakyat, bukan sekadar regulator yang menyeimbangkan kepentingan pemilik modal dan rakyat. Jika peran pengurus ini berjalan, tidak akan ada lagi aksi tanam pohon pisang di jalan karena negara hadir secara penuh melayani rakyat.
Watak pemimpin yang hanya bertindak sebagai regulator merupakan cerminan paham Kapitalisme. Pemimpin dengan pola pikir seperti ini hanya akan memfasilitasi proyek-proyek strategis yang menguntungkan secara finansial atau politik, sementara proyek yang dianggap tidak membawa keuntungan bagi penguasa bisa ditunda.
Aksi protes masyarakat hendaknya tidak dianggap sepele oleh pemerintah. Sejatinya, hal itu merupakan bentuk muhasabah lil hukkam (koreksi terhadap penguasa) dan hak masyarakat dalam mengontrol pemerintahan. Negara tidak boleh diam; pemerintah harus membuka akses pengaduan agar keluhan warga langsung ditindaklanjuti, bukan diabaikan hingga menimbulkan dampak yang lebih buruk.
Prasarana Umum dalam Islam
Dalam Islam, jalan raya termasuk ke dalam marafiq 'ammah (fasilitas umum) yang wajib disediakan, dibangun, dirawat, dan dipastikan fungsinya dengan baik oleh negara. Artinya, penyediaan jalan yang layak bagi publik bukanlah pilihan opsional, melainkan kewajiban mutlak negara sebagai pengurus rakyat. Salah satu tujuan utama pembangunan jalan raya adalah mendukung kelancaran aktivitas masyarakat, baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun kegiatan sosial lainnya.
Oleh karena itu, perbaikan fasilitas umum berupa jalan raya harus menjadi prioritas negara. Pengerjaannya tidak boleh menimbulkan bahaya atau mengganggu kepentingan masyarakat secara berlarut-larut. Selain menghindari potensi bahaya, negara wajib mengupayakan pengerjaan perbaikan secara cepat tanpa mengurangi kualitas bahan dan kekokohan konstruksinya.
Karena hal ini merupakan kewajiban agama dan bernegara, pemerintah akan menjalankannya secara maksimal. Pemimpin yang bertakwa sadar bahwa seluruh upaya untuk kemaslahatan umat adalah amanah yang tidak bisa ditunda. Sebagaimana teladan Khalifah Umar bin Khattab Ra. yang pernah berkata: "Seandainya seekor keledai terperosok di Irak, aku takut Allah akan menanyakanku: 'Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?''
Kekhawatiran Khalifah Umar Ra. sungguh luar biasa. Hal yang beliau khawatirkan bahkan nasib seekor hewan. Hari ini, yang terjatuh di jalan berlubang adalah manusia yang notabene makhluk yang dimuliakan oleh Allah Swt. Jika Khalifah Umar Ra. menganggap keselamatan seekor keledai begitu berharga, apalagi lagi dengan nyawa manusia. Seharusnya tidak boleh ada kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa dengan mudah. Rasa takut seperti yang dicontohkan Khalifah Umar Ra. lahir dari ketakwaan dan rasa takut akan murka Allah Swt. jika ia lalai menjaga amanah.
Keimanan dan ketakwaan seperti inilah yang harus ditumbuhkan pada setiap individu agar terbentuk kepribadian Islam, baik dalam pola pikir maupun pola sikap. Ketika individu yang bertakwa menjadi pemimpin, ia akan menjalankan amanahnya dengan penuh kehati-hatian. Setiap proyek yang diambil tidak ditujukan untuk menguntungkan pribadi, golongan, atau korporasi oligarki, melainkan semata-mata demi meraih keridaan Allah Swt. serta mewujudkan masyarakat yang aman dan sejahtera.
Langkah penting lainnya yang harus dilakukan negara adalah menjalin komunikasi yang baik dengan rakyat. Harus ada ruang untuk menyerap dan menindaklanjuti keluh kesah masyarakat. Melalui struktur pemerintahan yang melayani (departemen kemaslahatan umat), penguasa dapat bergerak cepat merespons setiap aduan warga, terutama yang berkaitan dengan fasilitas umum.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Social Plugin