Ilustrasi Pinterest
Oleh: Aksara Jiwa
MediaMuslim.my.id, Opini_ Ibnu mas’ud radhiyallahu anhu mengatakan :
“Tiada hari yang lebih aku sesali selain hari dimana mataharinya tenggelam dihari itu, umurku berkurang dan amalku tidak bertambah.”
Nasehat indah yang membuat hati tergoyah, lantunan kata dari lisan ulama membuat diri merenung, muhasabah, dan rasanya harus berbenah. Terbersit pertanyaan, "Ada apa dengan waktu?" "Salahkah dengan waktu?"
Mari kita renungkan sejenak firman Allah dalam QS. Yunus:6
"Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."
Begitulah Allah menciptakan waktu yang merupakan kebesaran, kekuasaanNya sebagai Al Khaliq atau Al Mudabbir. Allah ciptakan waktu malam dan siang yang kedua waktu itu sangatlah ada kebaikan, karena semua yang Al Khaliq ciptakan tentu tiada yang tak memberikan kebaikan.
Lantas kenapa dengan "Waktu yang menipu"? mari kita pahami bersama tentang "waktu".
Saat merenungi firman Allah yang di kabarkan dalam Al Qur'an, bahwasanya waktu siang untuk mencari penghidupan dan malam nya untuk beristirahat, lantas kenapa bisa menipu. Bahkan rasa tak pantas jika menipu di sandingkan dengan waktu.
Mari kita selesaikan perihal apa ada waktu yang menipu?
bukan sebuah kewajaran dan juga alasan jika waktu yang di ciptakan Allah, menjadi sebab ketertipuan dalam menjalaninya.
Waktu yang luang, hari yang terasa masih panjang, tak terasa malam pun datang namun kita lupa akan pertanggung jawabannya kelak di hari penghisaban. Teringat kembali simpul besar hadirnya kita di dunia ini.
Dari mana kita berasal? Dari Allah. Allah yang ciptakan
untuk apa? Beribadah kepadaNya.
Mau kemana setelah ini? Akan kembali kepada Allah.
Sebuah pertanyaan, yang begitu mudah untuk di respon dengan jawaban yang tak serumit matematika.
Jawabannya akan sangat mempengaruhi sikap kita dalam menjalani kehidupan. Salah menjawab, akan menjerumuskan kita dalam kubangan kehancuran. karena ini simpul besar, pertanyaan akidah yang tak sembarang kita berikan jawaban.
Sebuah Jawaban yang tak hanya sekedar di ucapkan dalam lisan, tapi harus kita amalkan dalam kehidupan. Kita yakini bahwa Allah sebagai Al khaliq, adanya kita di dunia ini Allah yang menciptakan. Sebagai pencipta Allah maha tahu aturan yang tepat untuk penciptanya dan yang harus kita perankan. Keterikatan kita dengan syariat maka itulah yang harus di perankan karena itulah konsekuensi dari keimanan.
Dalam menjalani peran sebagai hamba Allah, ternyata ada rambu rambu yang harus terus kita ingat. Hubungan kita dengan Allah, dengan diri kita sendiri, dan juga hubungan kita dengan manusia lainnya. Mari kita melihat kondisi yang saat ini terjadi, datang nya keresahan ketika umat bangga dengan kecintaan nya terhadap dunia hingga tak lagi memikirkan akan Allah mengawasi setiap gerak geriknya.
Islam yang merupakan agama yang di ridhai Allah yang menjunjung tinggi keselamatan, kebaikan di dalamnya, selalu di sudut kan dengan ketidakbaikan.
Umat Islam yang meyakini bahwa Allah sebagai pencipta nya tapi enggan di atur bagaimana etika saat berpakaian, juga bagaimana dalam pergaulan.
Dengan dalih, "Jangan bawa agama dalam kehidupan, agama cukup di bahas di mesjid saja".
Tidaklah terpikirkan bahwa Allah mengawasi dalam setiap aspek kehidupan.
Hari demi hari, jam, menit, bahkan detik yang kita jalani, mari bersama kita renungi sudah layak kah kita memainkan peran sebagai hamba yang Allah cintai, dan ingin berlabuh pada Syurga yang sangat di rindukan yang kekal dan abadi.
Hadirnya waktu atas izin Nya bukan semata hadir tanpa ada maksud Nya, melainkan untuk semata-mata memanfaatkannya dalam ketaatan kepadaNya.
Kita harus Sadari betul bahwa setelah kehidupan di dunia ini, akan ada kehidupan selanjutnya, yang setiap gerak gerik memainkan peran selama di dunia aka ada perhitungan yang panjang di hisab dengan begitu rincinya. Teruslah ukir waktu waktu kita yang menjadi sebab bertambahnya amalan kebaikan. Pijakan kaki yang membuat hati senang, hadirnya kegembiraan, hingga kita terlena dengan kenyamanannya. Sungguh itu sebuah tipuan.
Firman Allah mengatakan: "Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20).
Mari kita jalani waktu dengan bermakna, memurnikan ketaatan hanya kepadaNya hingga menggapai rida dan pantaslah surga sebagai tempat kembali kepada Nya.
Nasehat untuk diri yang fakir ilmu dan amal yang masih terus harus berbenah dalam ketaatan dan semoga bisa tetap istiqamah.
Social Plugin