HIV Merajalela, Ancam Generasi Muda


Ilustrasi Pinterest
Oleh : Elly Waluyo
Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam

MediaMuslim.my.id, Opini_ Sekularisme sebagai induk dari sistem kapitalis yang diterapkan oleh negara menyebabkan berbagai macam problematika umat. Pemisahan agama dari kehidupan didalamnya, membawa individu masuk dalam jurang liberal. Kebebasannya dibatasi oleh benar dan salah yang kategorinya bergantung pada pandangan individu. Oleh karenanya permasalahan yang timbul semakin banyak dan komplek termasuk dalam sistem pergaulannya, seperti pernikahan dini, kehamilan diluar nikah, prostitusi hingga penyakit.

Sebagaimana yang terjadi saat ini, Human Immunodeficiency Virus (HIV) semakin meningkat. Data yang berhasil dikumpulkan oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) Sidoarjo sejak tahun 2001 hingga 2026 menunjukkan bahwa penderita HIV mencapai 7.230 orang dan mirisnya 522 orang diantaranya merupakan pelajar jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Penyusunan kebijakan dalam rangka pencegahan HIV/AIDS pun akan dilakukan. Kepala Bidang Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Lilik Setyowati menyatakan bahwa kebijakan dilakukan untuk semua jenjang tanpa diskriminasi. 

Selaras dengan hal itu, dr. Yanto Lipu, Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Sidoarjo, menerangkan bahwa risiko penularan HIV dapat ditekan melalui terapi pengkonsumsian antiretroviral (ARV) oleh penderita secara rutin sampai keadaannya  mencapai _undetected_. Namun, dr. Yanto juga menyampaikan bahwa _undetected_-nya virus tidak bisa diartikan sembuh, hanya berhasil ditekan, sehingga terapi ARV tetap berlanjut.
(https://kumparan.com/kumparannews: 24 Juli 2026). 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengeluarkan himbauan agar masyarakat tidak memberikan label negatif pada orang dengan HIV (ODHIV) serta meminta masyarakat untuk memahami data tersebut sebagai keberhasilan layanan pendeteksian dini yang semakin meluas dan bisa segera ditangani sesuai ketentuan yang berlaku. (https://www.detik.com: 26 Juli 2026)

Semakin membengkaknya kasus HIV menunjukkan kerusakan sistem sosial. Hal ini merupakan dampak penerapan sistem sekuler kapitalis sehingga masyarakat semakin jauh dari agama. Agama hanya mengatur urusan ritual. Akibatnya individu tak merasa takut berbuat dosa bahkan tak ambil pusing dengan konsekuensi perbuatannya terhadap diri, keluarga dan lingkungannya. 

Negara tak mengambil perannya sebagai pelindung umat. Negara hanya menghitung untung rugi dari setiap kebijakan atau solusi yang disuguhkan. Cara pandang terhadap kasus peningkatan HIV ini misalnya dinilai berhasil dengan deteksi yang dilakukan pemerintah bersama dengan mitranya, bukan dipandang dari meluasnya penularannya.

Kegagalan dalam membaca masalah dan tidak memahami akar permasalahan karena sibuk dengan keuntungan materi inilah yang menyebabkan solusi yang disuguhkan tak pernah solutif.

Problematika umat termasuk kasus pergaulan hanya bisa diselesaikan dengan menerapkan sistem Islam. Negara akan menerapkan semua aturan Islam dalam setiap aspek.

Hanya sistem Islam yang memiliki seperangkat sistem perlindungan umat, termasuk sistem pergaulan (Nizam Al Ijtima’i) yang mutlak. Aturan tidak dapat dirubah karena berasal langsung dari Sang Maha Pengatur, Allah Swt. 

Syariat yang diterapkan mewajibkan setiap individu berpakaian syar’i, menundukkan pandangan pada yang bukan mahramnya, larangan mendekati zina, dan pengaturan pernikahan.

Pelanggaran pada syariat akan dikenai sanksi atau uqubat yang bersifat mencegah dan menjerakan. Pemahaman pelajar akan materi kesehatan tentang reproduksi didapat melalui ilmu fiqih pergaulan dan akhlak karena merupakan ibadah dan amanah ilahi dalam menjaga kesehatannya. Setiap individu menyadari bahwa segala perbuatannya sekecil apapun akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt. 

Negara juga akan melindungi umat dengan memblokir situs-situs yang dapat merusak atau mengancam akidah dan akhlak umat. Demikian pula dalam keluarga negara akan benar-benar mencukupi kebutuhan rakyatnya dan juga memberikan _ri’ayah.

Hal ini yang akan menciptakan keluarga yang sejahtera dan penuh kasih sayang dikelilingi oleh masyarakat yang saling menjaga dan menasehati. Demikianlah sistem Islam mengatur setiap lini kehidupan sesuai dengan fitrah manusia.