Oleh: Erina Febiani S.Gz
MediaMuslim.my.id, Opini_ Hampir tiga tahun kondisi Gaza tanpa perubahan dan solusi nyata. Pergerakan yang hanya diwakilkan oleh beberapa negara dan aktivis nyatanya belum mampu memberikan perlindungan secara totalitas untuk Gaza.
Di tengah puing-puing di Gaza, fakta terbaru yang tersembunyi tanpa banyak sorotan berhasil di ungkap oleh Associated Press pada 21 Juli 2026, dilaporkan bahwa Israel membangun tembok tanah raksasa sepanjang 23 kilometer yang membelah lebih dari separuh wilayah Gaza. Fakta ini terungkap bukan melalui pengumuman resmi, melainkan dari data satelit yang menunjukan pergerakan cepat dalam pembangunan tembok yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir (Kompas.id, 21/07/2026).
Tipu Muslihat BoP dan Gencatan Senjata
Keberadaan tembok tersebut bukan hanya sekadar proyek pembangunan infrastruktur biasa, sebab pembangunan tersebut mengorbankan pemukiman Palestina hingga hancur dibombardir Israel. Bukankah sangat mengherankan, gencatan senjata yang disahkan oleh BoP malah berujung pada perluasan wilayah Israel di Gaza, hingga mengakibatkan lebih dari dua juta penduduk saat ini masih berjuang mempertahankan hidup di tengah keterbatasan.
Tanah Gaza telah porak-poranda dan kini berdiri batas baru yang kian mencengkram Gaza tanpa adanya perlindungan yang hakiki. Pembangunan tembok yang membelah Jalur Gaza mempertegas ambisi untuk mengontrol wilayah Gaza secara menyeluruh bukan hanya secara militer, tetapi juga secara geografis dan sosial. Ketika sebuah wilayah dipisah secara fisik, maka yang terjadi bukan hanya pembatasan ruang, melainkan juga pembatasan kehidupan: akses, mobilitas, dan harapan.
Lebih jauh lagi, langkah ini memperlihatkan bahwa harapan akan kemerdekaan Palestina melalui kebijakan sepihak Israel semakin sulit diwujudkan. Sejarah panjang konflik menunjukkan bahwa tekanan internasional nyatanya tidak cukup untuk mengubah arah kebijakan yang sudah mengakar.
Dalam konteks ini, keyakinan bahwa Israel akan dengan sukarela memberikan kemerdekaan kepada Palestina menjadi semakin dipertanyakan, terutama ketika di lapangan justru terjadi penguatan kontrol dan pemisahan wilayah.
Di sisi lain, berbagai narasi seperti konsep BoP maupun “New Gaza” patut dilihat secara kritis. Alih-alih menjadi jalan menuju kemerdekaan, gagasan tersebut berpotensi menjadi alat Israel dan Amerika untuk menguasai Gaza dan merugikan seluruh rakyat Palestina.
Hati-Hati Propaganda Barat
Jika tidak disertai perubahan nyata terhadap perubahan sistem Islam, maka wacana-wacana ini hanya akan menjadi retorika yang menjauhkan dari solusi hakiki. Oleh karena itu, menggantungkan harapan kemerdekaan semata pada pengakuan atau kebijakan dari pihak yang selama ini menjadi penjajah justru beresiko memperpanjang ketidakpastian dan penderitaan yang ada.
Selain itu, Board of Peace (BoP) merupakan propaganda negara kafir yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Seperti yang kita ketahui, bahwa Amerika Serikat ini memiliki rekam jejak panjang sebagai penjajah dan penghancur negeri-negeri muslim. BoP hanyalah ilusi nyata yang berhasil mengelabui negeri-negeri muslim yang tidak berdaya di bawah tekanan AS.
Tujuan resmi BoP yaitu untuk mengelola Gaza, menjaga stabilitas, dan mencegah kekerasan berulang. Tujuan tersebut pada faktanya merupakan propaganda agar umat Islam rela ditipu. Lihat saja, kehadiran BoP berhasil mengambil alih Gaza tanpa kita sadari dan Israel justru memperkuat jangkauan wilayah Gaza dibawah kata “Gencatan Senjata” yang dikeluarkan oleh BoP.
Lantas, perdamaian seperti apa yang dipimpin oleh kaum penjajah? Maka darinya, bergabung dengan BoP haram hukumnya. Ironisnya, mayoritas anggota BoP adalah negeri-negeri muslim. Padahal, berdirinya BoP hanya menambah cengkraman bagi Gaza dengan penguasaan wilayah yang semakin besar-besaran dengan didirikannya tembok sepanjang 23 kilometer di seluruh wilayah Gaza.
Umat Butuh Khilafah dan Jihad
Islam memiliki pandangan khas, bagaimana cara melawan penjajah kafir, yakni dengan berjihad melalui bergabungnya seluruh umat Islam di bawah naungan Khilafah. Allah SWT, memiliki Solusi hakiki dalam Tafsir Quran Surah Al-Baqarah ayat 191 yang berisi “Jika mereka memerangi kalian maka perangillah mereka. Demikianlah balasan setimpal bagi kaum kafir”.
Persatuan umat di bawah kepemimpinan khilafah adalah kunci kemenangan Palestina dan seluruh dunia Islam. Khalifah sebagai satu-satunya pemimpin umat Islam menyatukan seluruh umat Islam dibawah naungan khilafah. Keberadaan Khilafah dan Khalifah sebagai perisai umat merupakan doa dan harapan terbesar umat islam. Umat akan bersatu setelah terpisah akibat sekat nasionalisme yang terlahir dari sistem sekulerisme.
Ketika daulah Khilafah tegak, semua sistem kufur akan diruntuhkan, bahkan penderitaan di seluruh negeri muslim termasuk Palestina akan dibebaskan dari penjajahan. Penerapan syariat Islam secara Kaffah melalui penegakan Khilafah keniscayaan lahirnya pergerakan jihad fisabilillah yang dikomandoi oleh Khalifah. Maka darinya, bersatulah wahai umat Islam dan turut berjuang dalam penegakan Khilafah. Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung." (HR. Bukhari Muslim)
Wallahu a'lam bishshawab
Social Plugin