Ilustrasi Pinterest
Oleh: Irma Ulpah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Selain serangan bom yang bertubi, Zionis tak pernah berhenti melancarkan perang narasi. Mereka terus berupaya melalui meja perundingan, propaganda dan skema damai yang dibungkus kemanusiaan.
Seperti yang dilansir AFP 31/7/2026, Trump secara terbuka mengumumkan bahwa pelucutan senjata Hamas dan seluruh kelompok bersenjata di Gaza sebagai langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan jangka panjang.
Setelah pelucutan senjata selesai, tentara zionis Israel diminta mundur dari Gaza. Tanggung jawab keamanan Gaza
kemudian akan diambil alih oleh Pasukan Stabilitas Internasional yang bekerja sama dengan polisi Palestina yang baru.
Kehadiran pasukan internasional di bawah skema ini tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajahan zionis Israel. Justru ia berfungsi sebagai tameng baru untuk mengamankan kepentingan penjajah setelah para pejuang Palestina tidak lagi bersenjata.
Serangan zionis Israel tetap berlanjut di berbagai titik Gaza. Sekolah, rumah sakit lapangan, dan tenda pengungsi masih menjadi sasaran. Jika benar tujuannya damai, mengapa peluru belum berhenti? Jika benar tujuannya kemanusiaan, mengapa blokade masih ketat? Inilah kontradiksi yang tidak bisa dijawab oleh narasi pelucutan senjata sebagai upaya menuju perdamaian.
Pelucutan Senjata sejatinya Siasat Melemahkan, bukan Membebaskan.
Sejarah penjajahan selalu punya 2 tahap, pertama, lumpuhkan kekuatan lawan. Kedua, kuasai wilayahnya. Tuntutan pelucutan senjata hari ini adalah tahap pertama itu.
Melalui BoP, AS dan zionis Israel ingin menciptakan situasi di mana Gaza tidak punya gigi. Tidak ada roket, tidak ada faksi bersenjata, tidak ada kemampuan membela diri. Setelah itu, semua keputusan ada di tangan mereka.
Yang berbahaya hari ini adalah semangat untuk menolak BoP mulai memudar di sebagian kalangan. Bergabung dengan BoP hari ini sama dngan menyerahkan kunci Gaza kepada mulut harimau AS dan zionis Israel. Sementara di saat yang sama, satu-satunya alat pertahanan rakyat dilucuti.
Pelucutan Senjata bukan solusi tepat. Karena akar masalah Gaza bukan pada senjata Hamas. Akar masalahnya adalah penjajahan, perampasan tanah, pengepungan 17 tahun, dan genosida yang berjalan sistematis oleh Zionis yang terus-menerus menjadikan Gaza seperti kota otonom tanpa kedaulatan, tanpa tentara, tanpa hak menentukan nasib sendiri.
Pasukan Stabilitas Internasional bukan penjamin, melainkan penjaga baru penjajah Di mana pun pasukan seperti ini ditempatkan tanpa mandat pembebasan, hasilnya adalah membekukan konflik, bukan menyelesaikannya.
Tugas mereka bukan mengusir zionis, melainkan menjaga agar tidak ada lagi perlawanan bersenjata. Mereka akan bekerja sama dengan aktor lokal dalam bentuk Polisi Palestina Baru untuk memastikan tidak ada lagi intifada, tidak ada lagi perlawanan. Inilah outsourcing penjajahan.
AS dan zionis Israel tidak pernah kehabisan siasat. Mulai dari Oslo, Annapolia, Dua Negara, sekarang BoP, Pelucutan Senjata dan Pasukan Stabilitas Internasional. Nama yang berbeda namun isinya sama-sama melanggengkan penjajahan.
Tugas umat Islam hari ini adalah membongkar makar mereka. Tawaran damai Zionis dan AS harus dipastikan bisa mengembalikan tanah Palestina, mengakhiri blokade dan mengakui hak kembali para pengungsi. Jika hal itu tidak terwujud, sejatinya tawaran damai hanyalah jebakan dan jeratan langgengnya penjajahan.
Umat harus menyadari bahwa kondisi penjajahan ini terus berlangsung karena lemahnya para pemimpin Islam. Alih-alih membela saudaranya yang tertindas melainkan berkhianat ikut dalam skema BoP dan duduk bersama dengan para penjajah, mengorbankan darah Palestina demi kursi, demi investasi, demi normalisasi.
Umat Islam harus berjuang menyuarakan kritik dan koreksi pada para pemimpin Islam sebagai bentuk nasihat dan amar ma'ruf nahi munkar. Pemimpin yang benar akan berdiri bersama umat tertindas, bukan duduk satu meja dengan penjajahnya.
Umat Islam harus menyadari bahwa solusi tuntas masalah ini adalah bersatunya Umat Islam dengan menegakkan syariat Islam secara kaffah. 70 tahun mencoba solusi parsial tidak membuahkan hasil. Mulai dari bantuan, donasi, kecaman PBB, gencatan senjata, semua itu hanya membuat Gaza semakin hancur dan Al-Aqsa terus dinodai.
Solusi parsial tidak akan memecahkan masalah sistemik. Yang dibutuhkan adalah solusi sistemik yaitu persatuan umat Islam. Bukan 57 negara yang jalannya sendiri-sendiri, tapi satu komando, satu kebijakan luar negeri, satu tentara seperti yang di contohkan Rosulullah SAW yaitu Daulah Islam Khilafah
Khilafah Islam adalah sistem yang secara historis mampu menyatukan kekuatan umat dan melindungi tanah-tanah Islam, termasuk Palestina. Tanpa persatuan ini, umat Islam akan terus menjadi santapan para penjajah.
Palestina hanya akan bebas ketika ada kekuatan yang mampu memaksa zionis keluar. Kekuatan itu adalah tentara kaum muslimin di bawah komando Khilafah yang bergerak untuk memerangi zionis Israel. Inilah logika pembebasan. Tidak ada penjajah yang pergi kecuali karena diusir. Tidak ada pendudukan yang berakhir kecuali karena ada yang mengakhiri. Wallahu a'lam bissawab.
Social Plugin