Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa rasa takut?
Seorang ibu melepas anaknya ke sekolah dengan tenang. Seorang ayah berangkat mencari nafkah tanpa rasa cemas. Pedagang membuka tokonya hingga malam dengan hati tenteram.
Itulah kehidupan yang Allah gambarkan dalam firman-Nya,
الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
"Dialah Allah yang telah memberi mereka makanan ketika lapar dan memberikan rasa aman dari ketakutan."
(QS Quraisy: 4)
Mengapa Allah menyandingkan rasa aman dengan makanan?
Karena manusia tidak cukup hanya kenyang. Tanpa rasa aman, ibadah terganggu, pekerjaan tidak tenang, dan keluarga hidup dalam kecemasan.
Tidak heran jika Nabi Ibrahim 'alaihis salam ketika berdoa untuk sebuah negeri, pertama kali memohon keamanan.
Allah mengabadikan doa beliau,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا
"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman."
(QS Al-Baqarah: 126)
Bahkan sebelum memohon rezeki, beliau memohon keamanan. Betapa berharganya nikmat ini di sisi Allah.
Lalu, mari kita melihat keadaan hari ini.
Belum lama ini, dua orang meninggal setelah diamuk massa karena diduga mencuri. Di tempat lain, maraknya begal membuat masyarakat mengusulkan hadiah bagi siapa saja yang berhasil menangkap pelakunya. Berita-berita seperti ini semakin sering kita dengar.
Bukankah semua ini menunjukkan bahwa rasa aman yang Allah sebut sebagai nikmat mulai memudar?
Keamanan Bukan Tanggung Jawab Rakyat
Jika keamanan adalah nikmat besar, siapakah yang berkewajiban menjaganya?
Rasulullah ﷺ telah memberikan jawabannya dalam hadits:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Pemimpin adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa menjaga keamanan bukan diserahkan kepada masing-masing warga. Negara melalui pemimpinlah yang bertanggung jawab melindungi jiwa, harta, dan kehormatan rakyat.
Artinya, rakyat berhak hidup aman. Sebaliknya, pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah jika rasa aman itu hilang dari tengah masyarakat.
Ketika Negara Lalai
Saat keamanan tidak lagi dirasakan, masyarakat mulai mencari jalannya sendiri.
Orang yang baru diduga bersalah dipukuli hingga meninggal. Massa merasa berhak menghukum sebelum pengadilan memutuskan.
Mereka lupa atau bahkan tidak tahu, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa:
Seorang Muslim adalah orang yang lisan dan tangannya membuat orang lain selamat, dan seorang Mukmin adalah orang yang orang lain merasa aman atas darah (nyawa) dan harta mereka darinya. (Terjemah HR. Nasa'i dan Tirmidzi)
Karena itu, tidak boleh ada seseorang yang kehilangan hak, kehormatan, apalagi nyawa, hanya karena dugaan atau emosi sesaat. Atau sebaliknya tidak boleh seorang mukmin mengambil harta saudaranya dengan cara yang batil.
Islam Tidak hanya Melarang, tetapi Memberi Solusi
Islam tidak cukup mengatakan, "Jangan berbuat zalim."
Islam juga menjelaskan bagaimana keamanan diwujudkan.
Negara wajib memiliki aparat yang profesional dan amanah, melakukan patroli, menjaga ketertiban, serta merespons cepat setiap gangguan keamanan. Hukum ditegakkan dengan adil tanpa membedakan siapa pelakunya.
Di saat yang sama, negara juga wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat. Sebab kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sering menjadi pintu masuk lahirnya berbagai kejahatan.
Dengan menjaga keamanan sekaligus mengurus kesejahteraan rakyat, negara menutup pintu-pintu yang mengantarkan kepada kriminalitas.
Jalan yang Ditunjukkan Islam
Sejarah mencatat bahwa ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh, masyarakat merasakan keamanan yang nyata. Hukum ditegakkan tanpa pilih kasih, kebutuhan rakyat diperhatikan, dan aparat menjalankan amanahnya dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, solusi Islam bukan sekadar memperbanyak patroli atau memperberat hukuman. Solusi yang ditawarkan adalah mengembalikan negara kepada tugas utamanya sebagai raa'in, pengurus rakyat, yang menerapkan syariat Allah secara kaffah sehingga keamanan benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Renungan
Setiap ibu pasti menginginkan anaknya tumbuh di lingkungan yang aman. Setiap keluarga mendambakan kehidupan yang tenang.
Islam mengajarkan bahwa harapan itu bukan sekadar impian. Rasa aman adalah hak rakyat yang wajib dijamin oleh negara.
Maka ketika keamanan semakin hilang, yang perlu kita tanyakan bukan hanya, "Mengapa kejahatan semakin banyak?" tetapi juga, "Sudahkah kehidupan ini diatur sebagaimana yang Allah kehendaki?"
Sebab hanya aturan Allah yang mampu menghadirkan keadilan, dan dari keadilan itulah lahir keamanan yang menjadi nikmat bagi seluruh manusia.
"Dalam qishash itu terdapat jaminan kehidupan bagi kalian, wahai orang-orang yang berakal." (TQS al-Baqarah: 179)
Wallāhu a'lam bish shawāb.
Nadisah Khairiyah
Social Plugin