Pelucutan Senjata Hamas : Siasat AS-Israel Melumpuhkan Gaza dan Pengkhianatan Skema BoP

 
Sumber Ilustrasi : iStock.


Oleh : Nazli Agustina Nst S.PdI (Pembina Kajian Islam)

MediaMuslim.my.id, OPINI - Rencana pelucutan senjata Hamas dan kelompok perlawanan di Gaza yang diumumkan Presiden AS Donald Trump lewat platform Truth Social (31/7/2026) dinarasikan sebagai langkah penting menuju perdamaian. Melalui kerangka kerja Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, Trump mengklaim bahwa militer Israel akan ditarik bertahap dari Gaza seiring tuntasnya proses pelucutan senjata. Keamanan wilayah selanjutnya diserahkan kepada Pasukan Stabilitas Internasional (International Stabilization Force/ISF) yang bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru. Namun, realitas di lapangan berkata lain: serangan dan pembantaian oleh tentara zionis Israel tetap membara.

Kondisi ini makin mempertegas bahwa agenda pelucutan senjata sejatinya merupakan siasat Amerika Serikat dan zionis Israel untuk melemahkan pilar pertahanan rakyat Palestina dari dalam. Pemikiran untuk menolak skema BoP hari ini mulai terkikis oleh narasi manis diplomasi global. Padahal, bergabung dengan BoP sama saja menyerahkan Gaza ke mulut harimau. Di saat alat pertahanan kaum muslimin dilucuti, agresi zionis justru melenggang bebas tanpa tandingan.

Pelucutan senjata bukanlah solusi bagi perdamaian, keamanan, apalagi pembebasan Gaza. Penjajahan, perampasan tanah, dan genosida akan terus berlangsung selama entitas penjajah itu berdiri. Propaganda proyek pembangunan New Gaza yang diklaim "demi keselamatan warga" hanyalah kedok yang menggaet aktor-aktor lokal agar penjajahan ini bisa diterima publik. Jika AS dan sekutunya tulus peduli pada kemanusiaan, mengapa perlindungan itu tidak diberikan sejak dulu sebelum puluhan ribu nyawa melayang? Di sisi lain, kehadiran Pasukan Stabilitas Internasional sama sekali tidak dirancang untuk membebaskan Palestina, melainkan menjadi pilar penjamin keamanan entitas zionis.

Instrumen politik yang dirumuskan AS dan mendapat dukungan dari sejumlah negeri Muslim merupakan bentuk pengkhianatan nyata atas kaum muslimin. Oleh karena itu, negeri Muslim mana pun—termasuk Indonesia—haram bergabung dengan BoP yang menjadi bagian strategi AS untuk menguasai Palestina. Allah Swt. secara tegas berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.”
(QS An-Nisa’ [4]: 141)

Keterlibatan Indonesia dalam BoP adalah sebuah kemungkaran yang bertentangan dengan perintah Allah Swt. AS dan Israel adalah negara kafir harbi fi’lan karena telah terang-terangan memusuhi dan memerangi kaum muslim. Hubungan dengan kedua negara ini hanyalah hubungan perang; haram melakukan kerja sama, apalagi bergabung mendukung kepentingan mereka dengan alasan apa pun.

Agar kaum muslim dapat keluar dari cengkeraman kerangka pikir Barat yang rusak, umat Islam wajib merumuskan sendiri agenda pembebasan Palestina secara mandiri, ideologis, dan bersatu. Ini membutuhkan kesadaran akan adanya perang pemikiran (ghazwul fikr) yang dirancang Barat untuk melemahkan kaum muslim, salah satunya melalui stigmatisasi syariat Islam yang mulia seperti jihad dan Khilafah.

Jihad—yang saat ini didiskreditkan sebagai aksi teror dan didikotomikan dengan kata "perdamaian"—sesungguhnya adalah satu-satunya solusi nyata bagi Palestina hari ini. Kaum muslim harus membebaskan diri mereka dari sekap ego nasionalisme. Sejarah mencatat bahwa negeri-negeri Muslim dulunya adalah satu kesatuan wilayah dalam naungan Khilafah. Kafir penjajah sengaja melancarkan politik belah bambu dengan menghembuskan ide nasionalisme, Pan-Arabisme, dan isu sektarian agar umat lupa akan persatuan akidah.
Umat Islam harus menyadari bahwa hadirnya institusi pemersatu tidak hanya akan menjadi kekuatan politik yang menyaingi ambisi Barat, melainkan juga mengomando umat di bawah arahan seorang Khalifah. Sebagai pemimpin, Khalifah berwenang memobilisasi kaum muslim untuk berjihad melawan entitas zionis dan meruntuhkan kepongahan adidaya Barat, sebagaimana firman Allah Swt.:

“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian… Bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.”
(QS Al-Baqarah [2]: 190-191)

Sikap tegas ini tepermanai dalam sejarah ketika Khalifah Sultan Abdul Hamid II mengusir Theodor Herzl yang mengemis sejengkal tanah Palestina untuk permukiman Yahudi. Umat Islam tidak perlu menggantungkan nasib pada lembaga-lembaga internasional bentukan Barat yang hanya menjadi alat hegemony global. Pembebasan sejati Palestina baru akan terwujud ketika tentara kaum muslimin bergerak di bawah komando Khilafah, guna mengembalikan posisi umat sebagai khairu ummah sejalan dengan janji Allah Swt. dalam QS An-Nuur [24]: 55.

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik.”

Wallahu a’lam.

Editor : Vindy Maramis

Disclaimer:

Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab MediaMuslim.