Merdeka : Bebas dari Siapa, Tunduk kepada Siapa

Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah

MediaMuslim.my.id, Opini_ “Merdeka!”
Setiap 17 Agustus, kata itu bergema di mana-mana. Merah Putih berkibar. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Anak-anak mengikuti berbagai perlombaan. Para pahlawan yang  mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan dikenang.

Kita pun bersyukur.

Indonesia telah merdeka dari penjajahan fisik.

Tetapi, pernahkah kita bertanya lebih jauh:

Apa sebenarnya arti merdeka?

Mari lihat diri kita.

Pernahkah kita ingin melakukan sesuatu yang kita yakini benar, tetapi mengurungkan niat karena takut “kata orang”?

Ingin mendidik anak dengan tegas, takut dianggap galak.
Ingin berpakaian sesuai syariat, takut dianggap kuno.
Ingin berpakaian syar'iy tetapi pekerjaan melarangnya.
Ingin berkata benar, tetapi takut tidak disukai.

Jika pilihan kita lebih banyak ditentukan oleh penilaian manusia daripada keridhaan Allah, apakah kita benar-benar merdeka?

Allah SWT berfirman:
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang-orang beriman.”
(QS Ali Imran [3]: 175).

Kadang kita bukan menjadi tawanan manusia, tetapi menjadi tawanan diri sendiri.

Kita berkata, “Aku bebas. Ini hidupku. Aku berhak melakukan apa yang aku mau.”

Lalu ketika keinginan datang, kita sulit berkata tidak. Ingin membeli, kita membeli. Ingin makan, kita makan. Ingin marah, kita lampiaskan. Ingin berkata, kita katakan.

Sampai akhirnya “aku mau” menjadi ukuran benar dan salah.

Allah SWT mengingatkan dentan firman Nya:
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS al-Jatsiyah [45]: 23).

Kita merasa bebas. Padahal bisa jadi kitalah yang sedang dikendalikan oleh keinginan sendiri.

Seseorang tidak harus dipenjara untuk disebut tidak merdeka. Ia bisa memiliki ilmu, uang, dan banyak pilihan, tetapi tetap menjadi tawanan penilaian manusia dan hawa nafsu.

Jika manusia tidak boleh menjadi hamba manusia, tidak boleh menjadi hamba hawa nafsu,  lalu kepada siapa manusia seharusnya menghamba?

Jawabannya ada dalam tujuan penciptaan kita.
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS adz-Dzariyat [51]: 56).

Ternyata manusia memang diciptakan untuk menjadi hamba.

Persoalannya: kepada siapa kita menghamba?

Ketika  hanya menghamba kepada Allah, kita tidak lagi  mengejar ridha manusia atau menjadikan hawa nafsu sebagai penentu hidup. 

Dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah.

Di sinilah muncul persoalan berikutnya.
Kalau kita mengaku hanya ingin menjadi hamba Allah, bolehkah kita memilih-milih bagian kehidupan yang ingin kita taati dengan aturan Allah?

Islam untuk shalat, tetapi bukan untuk ekonomi?
Islam untuk keluarga, tetapi bukan untuk kehidupan masyarakat?
Islam untuk masjid, tetapi bukan untuk mengatur kehidupan?

Tentu tidak.

Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(TQS al-Baqarah [2]: 208).

Kaaffah.

Bukan sebagian.

Islam bukan hanya mengatur  shalat dan keluarga, tetapi juga  harta, pendidikan,  masyarakat dan negara.

Sebab Allah SWT berfirman:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak-Nya.”
(TQS al-A’raf [7]: 54).

Jika Allah adalah Pencipta, maka Allah pula yang paling mengetahui aturan terbaik bagi manusia.

Maka kemerdekaan hakiki bukanlah bebas dari aturan, tetapi bebas dari penghambaan kepada selain Allah, lalu tunduk  kepada aturan Allah.

SUDAHKAH INDONESIA MERDEKA?

Indonesia telah terbebas dari penjajahan fisik. Namun kehidupan sebuah negeri juga ditentukan oleh pemikiran dan sistem yang menjadi dasar pengaturannya.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Namun kemiskinan masih ada, ketimpangan masih terasa, dan berbagai persoalan ekonomi masih dihadapi.

Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa negeri yang kaya ini belum sepenuhnya menyejahterakan rakyatnya?”

Tanyakan pula:
“Dengan asas apa kehidupan negeri ini diatur?”

Sebab penjajahan tidak selalu berbentuk pendudukan wilayah. Ada penjajahan pemikiran dan dominasi ideologi. Ada sistem yang membuat manusia merasa bebas, padahal arah kehidupannya ditentukan oleh standar selain wahyu Allah.

Maka kemerdekaan fisik adalah nikmat yang harus disyukuri. Tetapi sebagai Muslim, kita tidak boleh berhenti di sana.
Kita membutuhkan kemerdekaan yang lebih tinggi: kemerdekaan untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah secara kaaffah.

Dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah.
Dari hawa nafsu menuju wahyu.
Dari mengambil Islam sebagian menuju Islam secara keseluruhan.

Ketika Merah Putih berkibar, jangan hanya bertanya:
“Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”

Mari bertanya kepada diri sendiri:
“Sudahkah aku benar-benar merdeka?”
Sudahkah aku merdeka dari takut kepada manusia?
Sudahkah aku merdeka dari hawa nafsu?

Dan yang paling penting:
Sudahkah aku menjadi hamba Allah sepenuhnya?

Sebab mungkin kita sudah bebas dari penjajah.
Tetapi kemerdekaan hakiki baru terwujud ketika seluruh kehidupan manusia tunduk kepada Allah SWT.

Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.