Ilustrasi Pinterest
Oleh: Yayat Rohayati
MediaMuslim.my.id, Opini_ Merdeka adalah suatu kondisi yang dicita-citakan oleh setiap individu dan bangsa di mana pun berada. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka berarti bebas dari perhambaan, penjajahan, atau kekangan pihak tertentu. Merdeka juga dapat berarti berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, serta leluasa bertindak.
Bulan Agustus telah tiba. Delapan puluh satu tahun yang lalu, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya setelah melalui perjuangan panjang melawan penjajah. Untuk mengenang perjuangan para pahlawan dan sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan dari penjajahan, kita baru saja menyaksikan antusias masyarakat menghias lingkungan dengan nuansa merah putih dan berbagai ornamen lainnya. Berbagai perlombaan dan kegiatan hiburan pun digelar.
Kemerdekaan secara fisik memang telah diraih. Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar merdeka?Sebab, penjajahan dapat hadir dalam berbagai bentuk dan wajah. Mirisnya, masyarakat terkadang tidak menyadari bahwa berbagai bentuk ketergantungan dan tekanan yang masih terjadi dalam segala aspek kehidupan adalah salah satu tanda bahwa kita belum merdeka.
Atau kita bisa melihat tujuan kemerdekaan yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 apakah sudah sesuai dengan kondisi umat hari ini?
Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Artinya, negara berkewajiban memberikan perlindungan dan menjaga keselamatan seluruh rakyat dari berbagai bentuk ancaman, baik fisik maupun psikis. Namun, faktanya masih banyak masyarakat yang mengalami berbagai tindakan kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi.
Mengutip dari detik.com, 14 Agustus 2026, penganiayaan ayah terhadap anak pada bulan Februari di Purwakarta kini viral dan Satreskrim Polres Purwakarta bergerak cepat mengamankan seorang pelaku. Motif dari tindakan tersebut, pelaku kesal karena tidak diberi uang oleh istrinya yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Kedua, memajukan kesejahteraan umum. Artinya, masyarakat berhak mendapatkan taraf hidup yang layak dan kesejahteraan secara adil. Namun, lagi-lagi faktanya tidak selalu sesuai dengan cita-cita tersebut. Masyarakat dihadapkan pada tingginya biaya hidup, kenaikan harga bahan pokok, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, serta sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan. Kalaupun pekerjaan tersedia, upah yang diterima sebagian pekerja masih dirasakan belum sebanding dengan kebutuhan hidup. Akibatnya, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan.
Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, masyarakat berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas dan dapat diakses secara luas. Namun, pendidikan masih terasa sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat karena biaya yang mahal. Ditambah lagi dengan persoalan kesejahteraan tenaga pendidik yang belum sepenuhnya terselesaikan, kondisi ini semakin menjauhkan kita dari cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan mirisnya dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 negara tidak memasukkan alokasi untuk kenaikan gaji guru, mereka berfokus pada pengoptimalan program MBG dan berbagai mutu pembelajaran (sindonews.com, 15/8).
Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Artinya, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk berperan dalam menciptakan perdamaian dan keadilan dunia. Namun, berbagai persoalan global masih menjadi tantangan. Konflik di Gaza, Palestina, misalnya, telah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat sipil. Sebagai bagian dari masyarakat dunia dan sebagai sesama Muslim, sudah seharusnya kita peduli dan bantu mereka. Namun sekat nasionalisme menjadikan langkah kita hanya diwujudkan melalui doa dan bantuan kemanusiaan.
Di sisi lain, ketergantungan terhadap kekuatan ekonomi dan kepentingan asing juga menjadi tantangan bagi negeri ini. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan rakyat belum sepenuhnya dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat. Kondisi ini tidak terlepas dari bagaimana negara menjalankan fungsi dan kebijakannya dalam mengelola sumber daya serta memenuhi kebutuhan rakyat. Negara dalam hal ini hanya berfungsi sebagai regulator pembuat kebijakan yang berpihak pada para korporat.
Maka dari itu, apa artinya sebuah kemerdekaan jika sebagian rakyat masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, biaya kesehatan dan pendidikan terasa mahal, sementara hukum terkadang tajam kepada masyarakat kecil tetapi tumpul terhadap yang memiliki kekuasaan dan kekayaan?
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan mulia. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh harta, jabatan, suku, ataupun kekuasaan, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu" (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mengejar kebebasan duniawi, melainkan menjalankan pengabdian kepada Sang Pencipta.
Oleh sebab itu, kemerdekaan hakiki adalah ketika seseorang mampu menghamba kepada Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Merdeka yang sesungguhnya berarti tidak diperbudak oleh hawa nafsu, materi, kekuasaan, maupun manusia lainnya. Ia menjadikan ketundukan kepada Allah dan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Tidak seperti sekarang, dalam kehidupan, standar manusia hari ini adalah materi dan kepuasan jasadiyah. Bukan lagi aturan Allah yang diterapkan, tetapi aturan berasal dari akal manusia yang semakin menjauhkan IsIam dari kehidupan.
Dan untuk meraih kemerdekaan hakiki hanya dengan penerapan IsIam secara keseluruhan dalam segala lini kehidupan. Karena IsIam tidak hanya mengatur masalah ibadah (hablumminallah), akan tetapi mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya (habluminafsi), dan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya (habluminannas) yang mencakup masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, politik dan pemerintahan.
Semoga kemerdekaan yang telah diwariskan para pahlawan tidak berhenti sebagai sejarah, tetapi menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan diridai Allah Swt.
Wallahua'lam.
Social Plugin