Ilustrasi Pinterest
Oleh: Anggi
MediaMuslim.My.id, Opini_ Tahun ajaran baru 2026/2027 seharusnya menjadi momen penuh semangat bagi dunia pendidikan. Namun, yang terjadi di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) justru sebaliknya: bangku-bangku kosong, ruang kelas sunyi, dan beberapa sekolah bahkan tidak memperoleh satu pun murid baru.
"Pemerintah telah melakukan pendataan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) terutama terhadap sekolah yang memiliki kurang dari 100 siswa, bahkan di bawah 60 siswa," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Jakarta, Selasa (14/7) dikutip dari Antara.(www.cnnindonesia.com)
Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa orang tua semakin enggan menitipkan putra-putrinya di sekolah negeri? Dan yang lebih mendasar: apa yang salah dengan sistem pendidikan kita hari ini?
Sejumlah laporan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa beberapa SDN mengalami penurunan jumlah murid baru secara drastis. Ada sekolah yang hanya mendapat tiga hingga lima murid dalam satu angkatan, bahkan ada yang tidak mendapat murid sama sekali.
Di sisi lain, sekolah-sekolah swasta berbasis agama—mulai dari madrasah, sekolah Islam terpadu, hingga pesantren tingkat dasar—justru kebanjiran pendaftar. Orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar demi memastikan anak mereka mendapatkan pendidikan yang dinilai lebih "aman" dan "membentuk karakter."
Tidak dapat dipungkiri, perubahan struktur penduduk turut berperan. Program pengendalian kelahiran yang digalakkan pemerintah selama puluhan tahun telah menurunkan angka fertilitas secara signifikan. Generasi muda hari ini menghadapi tekanan ekonomi yang luar biasa: biaya hidup melambung, lapangan kerja menyempit, dan kesejahteraan semakin sulit diraih. Akibatnya, banyak pasangan muda menunda atau bahkan memutuskan untuk tidak memiliki anak.
Faktor yang jauh lebih menentukan adalah pergeseran orientasi pendidikan masyarakat. Orang tua hari ini tidak sekadar mencari sekolah yang mengajarkan calistung (membaca, menulis, berhitung). Mereka mencari “perlindungan”.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Kasus perundungan (bullying), kekerasan di lingkungan sekolah, paparan konten negatif melalui gawai, tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba yang merambah usia SD, hingga berbagai bentuk kenakalan remaja yang semakin ekstrem—semua ini menjadi berita harian yang menghantui setiap orang tua. Mereka takut anak-anak mereka menjadi korban, atau lebih buruk lagi, menjadi pelaku.
Dalam situasi demikian, sekolah yang menawarkan pendidikan agama—mengaji, praktik ibadah, pembinaan akhlak, dan lingkungan yang lebih terkontrol menjadi pilihan yang dianggap lebih aman. Orang tua merasa sekolah negeri, dengan segala keterbatasannya, tidak mampu membentengi anak dari arus kerusakan yang begitu deras.
Sistem sekuler liberal yang diterapkan hari ini memisahkan agama dari kehidupan publik, termasuk dari ruang-ruang kelas. Pendidikan direduksi menjadi sekadar transfer pengetahuan dan persiapan tenaga kerja, sementara pembentukan kepribadian, moral, dan spiritualitas anak diabaikan atau diserahkan sepenuhnya kepada keluarga.
Perubahan kurikulum yang berganti-ganti (dari KBK, KTSP, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka) terbukti tidak mampu membendung kerusakan yang terjadi. Setiap ganti menteri, ganti kurikulum. Namun angka kekerasan di sekolah, degradasi moral pelajar, dan krisis karakter tidak pernah benar-benar teratasi. Mengapa? Karena yang diubah hanyalah metode dan konten permukaan, bukan “fondasi filosofis” sistemnya.
Selama sistem pendidikan berdiri di atas asas sekuler liberal, yang menjadikan materi dan kompetisi sebagai orientasi utama, yang menyerahkan anak pada mekanisme pasar, maka kerusakan akan terus diproduksi secara sistemik. Sekolah negeri menjadi "pabrik" yang mencetak generasi rapuh secara spiritual, rentan secara moral, dan mudah terombang-ambing oleh budaya permisif.
Orang tua yang memilih sekolah agama pada dasarnya sedang melakukan “mekanisme pertahanan individual” terhadap kerusakan yang diproduksi secara sistemik. Mereka menyelamatkan anak masing-masing, tetapi tidak memiliki daya untuk mengubah sistem yang menjadi sumber kerusakan itu sendiri.
Islam memandang pendidikan bukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, melainkan sebagai “kebutuhan dasar” setiap manusia dan “pilar utama peradaban”. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)
Dalam negara Islam (Khilafah), pendidikan dijamin oleh negara sebagai hak setiap warga—tanpa memandang status ekonomi. Negara bertanggung jawab penuh atas: pembiayaan pendidikan yang ditanggung oleh Baitul Mal (kas negara), sehingga tidak ada orang tua yang harus memilih antara memberi makan anak atau menyekolahkannya. Setiap anak, di kota maupun di pelosok desa, berhak mendapat pendidikan berkualitas. Negara menyediakan gedung sekolah yang layak, laboratorium, perpustakaan, serta guru-guru yang kompeten dan sejahtera.
Tidak akan ada lagi cerita SDN yang kosong murid karena lokasinya terpencil, atau sekolah yang kekurangan guru karena anggaran tidak memadai. Negara yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas peradaban akan memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal.
Sistem pendidikan dalam Khilafah menggunakan “kurikulum yang berlandaskan akidah Islam”. Artinya:
seluruh ilmu pengetahuan diajarkan dalam kerangka keimanan kepada Allah SWT. Sains, matematika, bahasa, dan teknologi tidak dipisahkan dari nilai tauhid. Anak didik memahami bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dan mengamalkannya adalah amanah.
Tujuan utama pendidikan bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang berpikir dengan standar Islam, bersikap sesuai syariat, dan berakhlak mulia. Anak didik dilatih untuk memiliki aqliyyah Islamiyyah (pola pikir Islami) dan nafsiyyah Islamiyyah (pola sikap Islami).
Islam tidak anti-sains. Justru sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, dan Jabir bin Hayyan. Dalam sistem Islam, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat.
Sekolah menjadi ruang yang aman dari segala bentuk kerusakan. Tidak ada ruang bagi konten yang merusak, pergaulan bebas, atau budaya yang bertentangan dengan Islam. Anak-anak tumbuh dalam ekosistem yang mendukung kesalehan.
Dengan kurikulum semacam ini, orang tua tidak perlu lagi merasa "terpaksa" memilih sekolah swasta berbayar mahal demi keselamatan moral anaknya. Sekolah negeri—yang disediakan negara secara gratis dan berkualitas—justru menjadi pilihan utama karena telah mengintegrasikan pendidikan agama, akhlak, dan ilmu pengetahuan dalam satu kesatuan.
Sikap orang tua yang memilih sekolah agama demi "menyelamatkan anak sendiri" adalah langkah yang dapat dipahami, namun belum memadai. Selama sistem sekuler liberal masih berdiri kokoh, kerusakan akan terus diproduksi secara massal dan tidak semua keluarga memiliki kemampuan finansial untuk "membeli" perlindungan bagi anak-anak mereka.
Maka, kesadaran masyarakat perlu dinaikkan dari level “keselamatan individual” menjadi “kesadaran politik”: bahwa kerusakan yang menimpa generasi hari ini bukanlah takdir yang tak bisa diubah, melainkan konsekuensi logis dari penerapan sistem hidup yang salah. Bahwa kurikulum yang berganti-ganti tidak akan pernah cukup selama fondasinya tetap sekuler. Bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar "tambal sulam" kebijakan, melainkan “perubahan sistem secara menyeluruh”.
Islam menawarkan harapan yang nyata. Ketika pendidikan dikembalikan pada relnya—sebagai tanggung jawab negara, berbasis akidah, dan berorientasi membentuk kepribadian Islam sekaligus menguasai iptek—maka: tidak ada lagi orang tua yang cemas mengirim anaknya ke sekolah, karena negara menjamin lingkungan pendidikan yang aman dan membentuk. Tidak ada lagi kesenjangan antara sekolah "elite" dan sekolah "pinggiran", karena negara menjamin pemerataan kualitas. Tidak ada lagi generasi yang rapuh secara moral dan spiritual, karena mereka dididik di atas fondasi keimanan yang kokoh. Tidak ada lagi krisis murid di sekolah negeri, karena sekolah negeri menjadi institusi yang membanggakan gratis, berkualitas, dan Islami.
Lebih dari itu, pendidikan yang benar akan melahirkan generasi yang tidak hanya saleh secara individual, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membangun peradaban. Generasi yang akan menjadi ilmuwan, pemimpin, dan pejuang yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Social Plugin