Oleh: Salis F Rohmah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Unggahan seorang pasien BPJS yang mengeluhkan dirinya belum dapat kamar selama 8 jam di Threads sempat viral dan menuai banyak komentar. Respon dari nakes menjadi sorotan ketika banyak komentar dari mereka yang justru dinilai tidak berempati bahkan terkesan merundung pasien tersebut. Terlebih lagi diketahui pasien tersebut meninggal diduga akibat telatnya menanganan. Hal ini semakin menyedot perhatian dan membuat gelombang hujatan netizen semakin besar kepada para nakes yang berkomentar buruk terhadap pasien. Sehingga beberapa nakes akhirnya membuat video permintaan maaf akibat ulah mereka di media sosial.
Beberapa sumber menyebutkan keluh kesah pasien yang viral di Threads itu sedang dirawat di RSCM. Di satu sisi, RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional memiliki kapasitas terbatas dalam menyediakan kamar perawatan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama sehingga pasien bisa dapat kamar bahkan mampu menembus angka 8 jam untuk menunggu. Itu yang terjadi di rumah sakit rujukan nasional, kita bisa bayangkan bisa jadi akan lebih lama jika terjadi di rumah sakit daerah yang sarananya lebih terbatas lagi.
Begitulah fakta kondisi negeri ini. Satu sisi sistem kesehatan kita belum mampu memberikan sarana terbaik sekalipun di dalam rumah sakit rujukan nasional. Bahkan terkesan diskriminatif terhadap pasien yang berobat memakai layanan BPJS. Kecepatan layanan kesehatan bergantung pada seberapa rupiah yang bisa dibayar pasien. Sedih bukan? Bahkan nyawa manusia lebih berharga dari pada rupiah yang bisa didapat.
Belum lagi karakter masyarakat terutama dalam hal ini adalah nakes ternyata masih perlu diarahkan kembali bahkan terhadap pasien. Tenaga kesehatan harusnya adalah mereka yang terdidik, tidak hanya secara profesionalitas kerja tapi juga secara karakter. Ini yang banyak terjadi, tingkat kecerdasan intelektual seseorang tidak dibarengi dengan tingkat kecerdasan moral hingga melahirkan orang-orang yang nirempati.
Pola pikir harusnya berhubungan erat dengan pola sikap sehingga bisa menjadikan kepribadian yang kuat. Kepribadian Islam akan terbentuk jika pola pikir dan pola sikap juga Islami. Dan inilah yang akan dilakukan oleh pendidikan dalam Islam yang berlandaskan aqidah Islam. Tidak hanya transfer ilmu, tapi guru akan mengupayakan transfer karakter itu terjadi. Sehingga melahirkan manusia yang tidak hanya berilmu namun juga bertaqwa.
Nakes yang nirempati tidak hanya lahir dari pendidikan sekuler yang berorientasi pada materi semata. Sistem kesehatan yang berbasis pada konsep bisnis dan paradigma kapitalisme menjadikan pelayanan kesehatan yang ada sangat minim empati. Bagaimana bisa nakes akan all out melayani jika ternyata mereka juga tidak pernah mendapatkan hak mereka yang sesuai? Banyak cerita bahwa nakes sekalipun dokter spesialis pun hanya mendapatkan gaji yang sangat rendah lewat layanan BPJS. Ini adalah ironi. Maka tidak heran jika lahir nakes-nakes yang akhirnya bersikap tercela akibat 'bisnis' sistem kesehatan seperti ini.
Jelas, bahwa sistem kesehatan berbasis sekuler kapitalistik ini merugikan rakyat secara umum. Paradigma sekuler kapitalistik ini jelas harus diganti. Dan paradigma Islam adalah jawabannya.
Sistem jaminan kesehatan di dalam Islam tidak lepas dari peran negara yang sangat menonjol sebagai rain (pengembala, penanggung jawab). Negara akan menjamin hak komunal masyarakat seperti kesehatan, pendidikan dan keamanan. Bukannya layanan kesehatan dialihkan kepada lembaga lain seperti BPJS. Negara tidak akan mengkomersilkan hak publik meski seseorang mampu membayar. Negara justru akan berupaya penuh membiayai anggaran kesehatan yang diperlukan masyarakat. Pembiayaannya dari Baitul mal yang dananya bersumber dari pengelolaan harta milik umum seperti hasil tambang, hasil hutan yang dikelola oleh negara. Dengan begitu tidak akan sistem layanan kelas berdasarkan rupiah yang dibayarkan.
Sistem layanan kesehatan Islam telah terbukti mampu menciptakan sistem kesehatan yang unggul. Bimaristan di bawah kepemimpinan Islam adalah contoh nyata. Tempat ini menjadi cikal bakal rumah sakit modern karena menerapkan sistem perawatan medis yang maju, pemisahan bangsal pasien, hingga pendanaan berbasis wakaf. Tempat pertemuan yang unik, toleran, dan damai untuk mempelajari tradisi filosofis dan medis Persia, Yunani, India, Zoroaster, Yahudi, dan Nestorian, yang menjadi dasar bagi kemajuan medis luar biasa yang akan terjadi di bawah pemerintahan Muslim (Andrew C Miller, 2006).
Bimaristan Al-Mansuri di Kairo yang didirikan pada tahun 1284 M merupakan salah satu rumah sakit terbesar pada masanya dengan kapasitas 8.000 tempat tidur. Institusi ini dibiayai melalui sistem wakaf dengan pendapatan tahunan mencapai satu juta dirham. Bimaristan Al-Mansuri menerapkan prinsip pelayanan kesehatan universal yang gratis dan non-diskriminatif bagi seluruh warga negara, tanpa membedakan ras, agama, jenis kelamin, usia, maupun status sosial.
Sistem perawatan yang diterapkan tidak membatasi durasi rawat inap. Pasien dirawat hingga sembuh total dan dipindahkan ke bangsal pemulihan apabila masih lemah. Pada saat penerimaan, pakaian dan uang pasien diamankan oleh pihak rumah sakit. Selama perawatan, pasien menerima pakaian bersih, obat, dan makanan secara cuma-cuma di bawah pengawasan dokter.
Saat pemulangan, barang milik pasien dikembalikan. Selain itu pasien diberikan pakaian bersih dan uang kompensasi untuk menggantikan kehilangan pendapatan serta membantu memulai mata pencaharian baru. Dengan demikian, Bimaristan Al-Mansuri mencerminkan integrasi awal antara layanan medis, jaminan sosial, dan pemulihan ekonomi yang menjadi dasar sistem rumah sakit akademik modern.
Sungguh pelayanan yang demikian luar biasa akan terjadi jika semua dilandaskan pada paradigma aqidah Islam. Sama sekali tidak pada prinsip bisnis ala sekuler kapitalistik. Maka sistem Islam secara komprehensif mutlak diperlukan untuk mewujudkan paradigma Islam di level individu, masyarakat maupun negara. Wallahu a'lam bishshawab.
Social Plugin