Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ Derita Gaza belum berakhir. Yang berubah adalah perhatian kita.
Berita tentang Gaza mungkin tidak lagi memenuhi layar ponsel seperti pada awal perang. Dunia sibuk dengan berbagai persoalan. Namun, apakah berkurangnya pemberitaan berarti penderitaan Gaza juga berkurang?
Tidak.
Pada 21 Juni 2026, UNRWA melaporkan bahwa menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, 73.035 warga Palestina telah terbunuh dan 173.368 terluka sejak 7 Oktober 2023. Kekerasan pun belum sepenuhnya berhenti.
Bagi kita Gaza mungkin bergeser dari halaman utama berita. Tetapi bagi seorang ibu di Gaza, kehilangan anak bukan berita lama.
Gaza adalah kehidupan, bukan sekadar statistik.
Dari Rasa Menuju Solusi
Angka korban penting. Tetapi angka dapat membuat manusia kehilangan wajahnya. Bayangkan setiap angka itu sebagai seorang ibu, anak, ayah, kakak atau saudara yang memiliki nama, keluarga dan orang-orang yang mencintainya.
Karena itu, persoalan Gaza tidak boleh berhenti pada rasa kasihan.
Kasihan adalah awal kepedulian, tetapi tidak cukup untuk melahirkan perubahan.
Islam tidak mendidik seorang Muslim hanya untuk menangis ketika melihat kezaliman. Islam mendidiknya untuk memiliki sikap terhadap kezaliman.
Allah SWT berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ
“Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah?”
(QS an-Nisa’ [4]: 75)
Ayat ini membawa kita dari rasa tanggung jawab menuju perjuangan.
Lalu kita perlu bertanya:
Mengapa setelah begitu banyak korban, dunia belum mampu memberikan perlindungan yang nyata kepada Gaza?
Ada diplomasi. Ada lembaga internasional. Ada bantuan kemanusiaan. Ada berbagai kesepakatan.
Tetapi jika agresi tetap berlangsung, berarti ada persoalan yang lebih mendasar.
Gaza bukan hanya persoalan kemanusiaan. Gaza adalah persoalan politik dan kekuasaan.
Bantuan diperlukan untuk menyelamatkan korban. Tetapi bantuan tidak menghentikan pihak yang terus menciptakan korban.
Kecaman menunjukkan sikap. Tetapi kecaman tidak menghentikan agresi.
Diplomasi dapat menghasilkan kesepakatan. Tetapi rakyat yang diserang membutuhkan perlindungan yang nyata.
Di sinilah pertanyaan pentingnya:
Siapa yang memiliki kewenangan dan kekuatan untuk melindungi kaum Muslim ketika mereka diserang?
Islam tidak menyerahkan urusan ini kepada individu.
Islam memiliki konsep ri'ayah: penguasa bertanggung jawab mengurus dan melindungi rakyat.
Rasulullah saw. bersabda:
الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Maka darah kaum Muslim di Palestina bukan sekadar urusan organisasi kemanusiaan. Ia adalah amanah yang menuntut tanggung jawab kekuasaan.
Lalu, Apa Solusi Islam?
Islam tidak mengajarkan umat untuk pasrah melihat saudaranya dibantai.
Ketika sebuah negeri Muslim diserang, syariat mewajibkan pembelaan. Allah SWT berfirman:
فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ
“Siapa saja yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian.”
(QS al-Baqarah [2]: 194)
Karena itu, solusi terhadap Gaza tidak cukup berupa bantuan dan kecaman.
Negeri-negeri Muslim yang memiliki kekuatan wajib menggunakannya untuk menghentikan agresi dan melindungi rakyat Palestina.
Kekuatan diplomatik harus digunakan untuk memberikan tekanan nyata.
Kekuatan ekonomi harus digunakan untuk memutus dukungan terhadap agresor.
Perbatasan harus dibuka bagi bantuan kemanusiaan.
Dan ketika agresi tidak dapat dihentikan dengan cara-cara tersebut, pembelaan bersenjata merupakan bagian dari pembahasan jihad yang memiliki hukum, otoritas dan aturan syariat—bukan tindakan individual yang dilakukan tanpa kendali.
Namun di sinilah persoalan umat menjadi lebih dalam.
Mengapa kekuatan negeri-negeri Muslim yang begitu besar tidak bergerak sebagai satu kekuatan untuk melindungi Palestina?
Karena umat Islam hari ini terpecah ke dalam negara-negara yang masing-masing memiliki kepentingan politik sendiri.
Maka penyelesaian Gaza memiliki dua lapis.
Pertama, solusi segera: seluruh kekuatan yang dimiliki negeri-negeri Muslim harus diarahkan untuk menghentikan agresi, melindungi rakyat Palestina, memastikan bantuan masuk, dan membebaskan wilayah yang dirampas.
Kedua, solusi strategis: umat Islam membutuhkan kepemimpinan politik yang menyatukan kekuatan mereka di bawah satu kepemimpinan yang menjadikan syariat sebagai dasar pengelolaan urusan umat.
Dengan demikian, kekuatan umat tidak berhenti pada kecaman masing-masing negara, tetapi menjadi kekuatan politik yang mampu menjalankan kewajiban perlindungan secara nyata.
Inilah mengapa persoalan Gaza pada akhirnya bukan hanya bertanya:
“Apa yang bisa kita berikan kepada Gaza?”
Tetapi juga:
“Kekuatan seperti apa yang harus dimiliki umat agar tidak ada lagi Gaza berikutnya?”
Maka, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Kita memang tidak semuanya berada dalam posisi mengerahkan kekuatan negara. Tetapi kita semua dapat mengambil bagian dalam membangun kesadaran umat.
Pelajari realitas Palestina.
Sebarkan informasi yang benar.
Bantu korban melalui jalur kemanusiaan yang terpercaya.
Dorong para pemimpin agar menggunakan kekuatan politiknya untuk membela Palestina.
Dan yang paling penting: bangun umat yang memahami bahwa persoalan kaum Muslim adalah persoalan bersama, bukan sekadar berita yang muncul di layar lalu hilang dari ingatan.
Jangan biarkan Gaza hanya membuat kita menangis.
Biarkan Gaza membuat kita berpikir.
Jangan biarkan Gaza hanya membuat kita marah.
Biarkan Gaza membuat kita memahami.
Jangan biarkan Gaza hanya membuat kita berdoa.
Biarkan doa melahirkan amal dan perjuangan yang benar.
Sebab Gaza bukan hanya sedang meminta bantuan.
Gaza sedang menunjukkan kepada kita betapa mahal harga sebuah umat ketika kekuatannya tidak terhimpun untuk melindungi mereka yang dizalimi.
Maka pertanyaan akhirnya bukan lagi:
“Mengapa Gaza terus menderita?”
Tetapi:
“Apa yang harus kita bangun agar umat Islam memiliki kekuatan untuk menghentikan kezaliman dan menjaga darah kaum Muslim?”
Di situlah Gaza berhenti menjadi sekadar berita.
Ia menjadi panggilan untuk berpikir, memahami, dan bergerak.
و الله أعلم بالصواب
Social Plugin