Bandung Maju, Warga Sejahtera? Bebenah Bandung, Mencari Barokah



Ilustrasi Pngtree
Oleh Nadisah Khairiyah

MediaMuslim.my.id, Opini_ Bandung sedang bergerak. Investasi didorong, teknologi dikembangkan, tata kelola dibenahi, dan berbagai persoalan kota terus dicari solusinya.
Tetapi pada saat yang sama, ada wajah Bandung yang lain. PHK dan beban hidup menghimpit sebagian warga. Harga pangan meningkat. Kejahatan jalanan, narkoba dan miras masih menjadi ancaman. Sampah menumpuk. Sebagian wilayah kekurangan penerangan dan air bersih. Persoalan sosial masih hadir.
Maka layak kita bertanya: Bandung maju, warga sejahtera?

Ini bukan pertanyaan untuk mencari siapa yang salah. Ini pertanyaan untuk menguji arah pembangunan kita.

Sebab tidak semua pertumbuhan adalah kemajuan. Tidak semua investasi otomatis menghadirkan kesejahteraan. Tidak semua teknologi membuat manusia lebih baik. Kota yang semakin modern belum tentu menjadi kota yang semakin berkah.
Lalu apa ukuran kemajuan yang sebenarnya?

Allah memberikan standar yang tidak boleh kita tawar:

 “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
(TQS. Al-A’raf: 96)

Keberkahan tidak lahir semata-mata dari kekayaan, kecanggihan, atau pembangunan. Allah mengaitkannya dengan iman dan takwa.
Maka Bandung yang kita inginkan bukan sekadar Bandung yang tumbuh. Kita menginginkan Bandung yang diberkahi.

Ekonominya bergerak tanpa meninggalkan yang lemah.
Teknologinya maju tanpa kehilangan arah hidup.
Kotanya aman, bersih, dan lingkungannya terjaga.

Masjidnya bukan hanya bangunan, tetapi menjadi pusat kebaikan dan kekuatan umat.
Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Ketika melihat persoalan kota, mudah bagi kita menunjuk: pemerintah harus bebenah, aparat harus tegas, pengusaha harus peduli, masyarakat harus tertib.

Benar.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih berat:
Bagaimana dengan kita?
Ketika sampah menumpuk, apakah kita sudah sungguh-sungguh menjaga sampah kita sendiri?

Ketika kriminalitas, narkoba dan miras mengancam generasi, apakah kita sudah ikut menjaga anak-anak dari pintu rumah kita sendiri?
Ketika ada warga kesulitan ekonomi, pernahkah kita memastikan tetangga terdekat kita tidak sedang menanggung beban sendirian?

Dan ketika melihat kota ini belum seperti yang kita harapkan, pernahkah kita bertanya:
Jangan-jangan sebagian masalah Bandung juga tumbuh dari kelalaian kita?
Inilah saatnya memandang Bandung sebagai amanah.

Allah berfirman:
 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”
(TQS. An-Nisa: 58)

Jabatan, kekuasaan, harta, ilmu, anak, pekerjaan, dan lingkungan—semuanya amanah.

Maka menjadi warga Bandung bukan sekadar memiliki tempat tinggal. Ia adalah kesempatan untuk menunaikan amanah dan mengambil bagian dalam kebaikan.

Bebenah Bandung tidak cukup dengan mengganti kebijakan. Bebenah harus dimulai dari manusia.
Pemimpin membenahi kebijakan. Aparat membenahi pelayanan. Pengusaha membenahi cara usaha. Pendidik membenahi pendidikan. Orang tua membenahi cara membersamai anak. Setiap warga membenahi bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

Bukan karena kita merasa sudah baik.
Justru karena kita sadar masih banyak yang harus diperbaiki.

Sebab orang beriman tidak berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang salah?”

Ia berani bertanya: "Apa yang menjadi tanggung jawabku?”
Inilah bebenah yang barokah.

Bukan sekadar membuat kota tampak lebih indah, tetapi membuat kehidupan lebih dekat kepada kebaikan yang Allah ridhai.

Bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan menghadirkan maslahat.
Bukan sekadar membangun kota, tetapi membangun manusia.

Kita mungkin saat ini  belum mampu mengubah seluruh Bandung. Tetapi kita mampu mengubah rumah, menjaga lingkungan, mendidik anak, menolong tetangga, dan menjaga amanah.
Kita mampu berhenti menjadi bagian dari kerusakan.
Kita mampu mulai menjadi bagian dari perbaikan.

Sebab boleh jadi kita terlalu sibuk menunggu Bandung berubah, sementara Allah sedang menunggu kita berubah.

Kelak, mungkin bukan pertanyaan, "Seberapa maju Bandung ketika engkau hidup di dalamnya? Yang paling berat.

Melainkan:
“Apa yang telah engkau lakukan dengan amanah yang Aku titipkan kepadamu?”

Maka mari kita jawab pertanyaan itu mulai hari ini.
Bandung, mari kita benahi.
Bukan hanya agar lebih maju.
Bukan hanya agar lebih makmur.
Tetapi agar lebih baik. Agar lebih dekat kepada ketaatan. Agar pembangunan, kebijakan, pekerjaan, dan kontribusi kita menjadi jalan menuju keberkahan.
Bandung maju. Warga sejahtera. Kehidupan barokah.