Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ "…Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (TQS al-Mujadilah [58]: 11).
Indonesia bercita-cita mewujudkan Generasi Emas 2045. Namun, mungkinkah sebuah bangsa melahirkan generasi unggul jika masih banyak guru yang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya, sekolah-sekolah mengalami kerusakan, perpustakaan kehilangan koleksi buku, dan budaya literasi belum tumbuh menjadi napas kehidupan?
Kita sering berbicara tentang pentingnya pendidikan, tetapi sesungguhnya, apakah hakikat pendidikan itu?
Allah SWT telah menjawabnya jauh sebelum manusia berbicara tentang teori pendidikan modern. Allah tidak menyebut harta, kekuasaan, ataupun keturunan sebagai jalan kemuliaan. Allah justru mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Dari sinilah kita memahami bahwa pendidikan bukan sekadar sarana mencetak tenaga kerja atau mengejar pertumbuhan ekonomi. Pendidikan adalah jalan memuliakan manusia.
Karena itulah wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ adalah perintah Iqra'. Perintah itu bukan sekadar mengajarkan manusia agar pandai membaca, tetapi membangun sebuah peradaban yang bertumpu pada ilmu. Sebab ilmu bukan hanya memenuhi akal dengan pengetahuan. Ilmu adalah cahaya yang menghidupkan hati, meluruskan cara berpikir, mengarahkan langkah, lalu melahirkan amal saleh. Dari ilmu lahirlah manusia yang mampu memperbaiki dirinya, membimbing masyarakatnya, dan membangun peradaban yang membawa rahmat bagi semesta.
Atas dasar itulah Islam menetapkan tujuan pendidikan yang jauh lebih luhur daripada sekadar menghasilkan lulusan yang cerdas. Pendidikan harus membentuk syakhshiyyah Islamiyah, yaitu manusia yang menjadikan aqidah Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap. Manusia yang kokoh imannya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, tajam cara berpikirnya, sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap umat. Karena itu, Islam tidak pernah mempertentangkan agama dan sains. Ilmu syariat memberi arah kehidupan, sedangkan sains dan teknologi menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan.
Tujuan sebesar itu tidak mungkin dicapai hanya dengan memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala peserta didik. Pendidikan adalah proses membangun manusia. Ia dimulai ketika peserta didik diajak membaca realitas kehidupan. Realitas itu kemudian dipahami dengan cara pandang Islam sehingga melahirkan rasa; rasa cinta kepada kebenaran, rasa takut kepada kemaksiatan, rasa syukur kepada Allah, dan rasa peduli terhadap sesama. Dari rasa lahirlah amal. Amal yang dilakukan terus-menerus menjadi kebiasaan. Kebiasaan akhirnya membentuk syakhshiyyah.
Realitas → Cara Pandang Islam → Rasa → Amal → Kebiasaan → Syakhshiyyah.
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah seberapa banyak ilmu yang dihafal, melainkan seberapa jauh ilmu mengubah perilaku. Anak yang dahulu harus diingatkan shalat kini bergegas memenuhi panggilan azan. Anak yang dahulu membaca Al-Qur'an karena diperintah kini merasa ada yang hilang jika sehari tidak membacanya. Ilmu telah turun dari kepala ke hati, lalu menjelma menjadi amal. Itulah pendidikan yang sesungguhnya.
Namun lahirnya generasi seperti itu tidak mungkin hanya dibebankan kepada guru dan orang tua. Sebesar apa pun pengorbanan mereka, pendidikan merupakan maslahah 'ammah yang menjadi tanggung jawab negara. Seorang guru mungkin mampu mengubah satu kelas. Sebuah sekolah mungkin mampu mengubah satu kota. Namun hanya negaralah yang mampu mengubah arah sebuah peradaban.
Karena itu, negara dalam Islam tidak sekadar mengatur pendidikan, tetapi menjadi pelindung ilmu. Negara memuliakan guru, menyediakan pendidikan terbaik bagi seluruh rakyat, membangun sekolah dan perpustakaan, mendukung penelitian, menyediakan bahan bacaan, serta membuka kesempatan belajar yang sama bagi setiap anak, baik di kota maupun di pelosok. Setiap dinar yang dikeluarkan untuk pendidikan dipandang sebagai investasi peradaban, bukan sekadar belanja negara.
Sejarah membuktikan bagaimana amanah itu diwujudkan. Ketika negara menjadikan ilmu sebagai jantung peradaban, lahirlah Bayt al-Hikmah di Baghdad dan berbagai pusat ilmu di seluruh wilayah Islam. Perpustakaan dipenuhi manuskrip, guru dimuliakan, ilmuwan didukung, dan masyarakat dibiasakan mencintai ilmu. Dari sistem seperti itulah lahir Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Jabir bin Hayyan, Ibnu al-Haitsam, Ibnu Khaldun, serta banyak ilmuwan Muslim yang menerangi dunia dengan karya-karyanya.
Bandingkan dengan keadaan hari ini. Pendidikan memang masih berjalan, tetapi belum sepenuhnya dimuliakan. Guru masih bergelut dengan persoalan kesejahteraan. Banyak sekolah membutuhkan perbaikan. Budaya literasi belum menjadi arus utama. Bahkan dukungan terhadap perpustakaan dan bahan bacaan masih menghadapi berbagai tantangan. Padahal di ruang-ruang kelas itulah masa depan umat sedang dipersiapkan.
Karena itu, persoalan pendidikan sesungguhnya bukan hanya persoalan anggaran. Persoalan yang paling mendasar adalah arah. Ketika pendidikan kehilangan tujuan membentuk manusia yang beriman dan berilmu, maka sebesar apa pun biaya yang dikeluarkan tidak akan mampu melahirkan peradaban yang agung. Sebaliknya, ketika pendidikan dibangun di atas aqidah Islam dan dipikul sebagai amanah negara, ilmu akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga amanah, berkepribadian Islam, serta siap memimpin dunia dengan petunjuk Allah SWT.
Allah SWT telah menunjukkan jalan kemuliaan itu lebih dari empat belas abad yang lalu. Tugas kita hari ini bukan mencari jalan baru, melainkan kembali menempuh jalan yang telah Dia tunjukkan. Sebab setiap kebangkitan peradaban selalu dimulai dari satu hal yang sama: ketika ilmu dimuliakan, guru dihormati, negara memikul amanah pendidikan, dan lahirlah generasi yang menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah sekaligus membangun kehidupan. Di sanalah sebuah peradaban besar akan kembali menemukan cahayanya.
و الله أعلم بالصواب
Social Plugin