Ilustrasi Pinterest
Oleh Nadisah Khairiyah
MediaMuslim.my.id, Opini_ "Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa yang diingini, berupa wanita, anak-anak, harta benda yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang baik." (TQS. Ali 'Imran [3]: 14).
Mengapa manusia mencintai harta? Mengapa setiap orang ingin hidup berkecukupan? Mengapa orang tua bekerja keras demi keluarganya?
Al-Qur'an menerangkan bahwa Allah menciptakan dalam diri manusia kecenderungan untuk memiliki. Keinginan itu bukanlah dosa, melainkan bagian dari fitrah manusia.
Karena itu, Islam tidak pernah melarang manusia menjadi kaya. Justru Allah membuka banyak jalan yang halal untuk memiliki harta; bekerja, berdagang, bertani, berindustri, bermitra, menerima warisan, hibah maupun hadiah. Allah tidak hanya menciptakan kebutuhan manusia, tetapi juga menunjukkan jalan yang benar untuk memenuhinya.
Namun Allah juga mengetahui bahwa keinginan memiliki dapat berubah menjadi sumber kerusakan jika tidak diarahkan. Karena itu Allah berfirman, yang artinya
"Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…" (TQS. Al-Baqarah [2]: 188).
Islam tidak mengatur keinginan memiliki, tetapi cara memperolehnya. Allah menghalalkan perdagangan, tetapi mengharamkan riba. Allah membolehkan mencari keuntungan, tetapi mengharamkan penipuan, suap, khianat, dan segala bentuk pengambilan harta secara batil.
Semua itu adalah pagar yang Allah pasang, bukan untuk membatasi manusia, tetapi untuk menjaga kemuliaan hidupnya.
Lalu apa yang terjadi ketika manusia menerobos pagar itu?
Hari ini korupsi menjadi pemandangan yang terus berulang. Pejabat, kepala daerah, anggota legislatif, bahkan aparat penegak hukum yang seharusnya menjaga keadilan justru ikut terjerat kasus korupsi. Ironisnya, sebagian dari mereka sebelumnya dikenal sebagai pemberantas korupsi. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar lemahnya pengawasan.
Korupsi bukan terjadi karena manusia ingin memiliki harta. Korupsi terjadi ketika manusia memilih memenuhi keinginannya dengan meninggalkan petunjuk Allah. Amanah berubah menjadi peluang. Jabatan berubah menjadi komoditas. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab, melainkan alat memperkaya diri.
Mengapa korupsi terus berulang meski pelakunya ditangkap dan lembaga antikorupsi terus dibentuk? Karena akar persoalannya bukan sekadar lemahnya pengawasan, tetapi ketika aturan Allah tidak lagi menjadi rujukan dalam mengatur kehidupan. Selama ukuran halal dan haram digantikan oleh untung dan rugi, selalu ada cara baru untuk mengakali hukum.
Al-Qur'an pun tidak berhenti pada pembentukan individu yang bertakwa. Manusia hidup di tengah keluarga, masyarakat, pasar, lembaga keuangan, dan negara. Karena itu, syariat juga mengatur kehidupan bersama. Ia membangun pribadi yang amanah, membuka jalan-jalan halal, menutup pintu-pintu kezaliman, sekaligus menetapkan sanksi yang tegas bagi pelanggarnya. Dalam sejarah pemerintahan Islam, kekayaan pejabat diperiksa, harta yang diperoleh secara tidak sah dikembalikan kepada negara, dan pelaku dijatuhi sanksi ta'zir sesuai tingkat kejahatannya.
Semua itu menunjukkan bahwa petunjuk Allah memerlukan institusi yang menerapkannya. Sebab banyak hukum Al-Qur'an tidak mungkin tegak hanya oleh kesalehan individu. Larangan korupsi memerlukan sistem pemerintahan yang menjadikan syariat sebagai dasar kebijakan, peradilan yang adil, serta pemimpin yang menjaga amanah.
Karena itu, solusi Al-Qur'an terhadap korupsi tidak berhenti pada ajakan menjadi orang jujur. Al-Qur'an membangun manusia yang bertakwa, membentuk masyarakat yang saling mengingatkan, dan menghadirkan institusi yang menegakkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh. Dengan itulah harta, kehormatan, dan kehidupan manusia benar-benar terjaga.
"Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat dalam urusan itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (TQS. Al-Jatsiyah [45]: 18).
Allah menciptakan kebutuhan manusia. Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk untuk memenuhinya. Maka, ketika petunjuk Allah ditinggalkan, yang lahir bukanlah kebebasan, melainkan kerusakan. Sebaliknya, ketika Al-Qur'an diterapkan secara kaffah dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara, rahmat Allah benar-benar hadir bagi seluruh alam.
و الله اعلم بالصواب
Social Plugin